Artikel 8

BRB


Acep Zamzam Noor



JAM 1 pagi, 4 Desember 2002, saya bersama beberapa teman masih memasang spanduk di sekitar gedung DPRD dan Simpang Lima, Tasikmalaya. Selain karena hobi, saya dan teman-teman menganggap memasang spanduk yang biasa dilakukan setelah jalanan sepi ini sebagai “tugas” negara. Sampaikan kebenaran meskipun hanya lewat spanduk, begitulah kira-kira alasan kami. Maka dengan semangat “jihad” kami jalan kaki menggotong tangga, memanjat pohon, menaiki tiang listrik atau melompati kawat berduri yang dipasang pada dak toko. Jack Guntur, yang biasanya kebagian memasang di tempat-tempat yang sulit dan berbahaya, pagi itu tidak ikut hingga kami agak kesulitan dan minta bantuan tukang-tukang becak.


Ketika melewati Mesjid Agung, tiba-tiba Saeful Badar berteriak histeris mengabarkan bahwa Beni R. Budiman (kami biasa menyebutnya BRB) meninggal dunia. “Kata siapa?” tanya Enung Sudrajat terperanjat. Dengan gemetar Saeful kemudian menunjukkan SMS dari HP-nya. SMS itu dikirim Godi Suwarna. Kami semua lemas. Semangat “jihad” yang tadi berkobar tiba-tiba sirna. Beberapa saat kami terduduk di halaman masjid. Jam 2 pagi kami berpencar pulang. Dengan perasaan tak menentu Saeful akhirnya ikut saya ke Cipasung.


Meski sebelumnya Nenden Lilis Aisyah sempat menelpon saya dan mengabarkan suaminya sakit, tapi kepergian BRB tetap membuat saya kaget luar biasa. Tetap merasa tak percaya. “Tadi banyak sekali telepon yang mengabarkan Kang Beni meninggal,” kata Euis, istri saya, begitu saya sampai di rumah menjelang sahur. Saya memang lupa tidak bawa HP hingga agak telat mengetahui kepergian BRB. Saya segera menghubungi Jack Guntur supaya mengabarkan berita duka ini di RSPD FM, lalu menghubungi teman-teman lain yang bisa dihubungi via SMS. Banyak teman yang tak percaya dan menganggap saya main-main. Menganggap saya improv.


Kepergian BRB bukan hanya mengagetkan rekan-rekannya di Bandung, tapi juga teman-teman seniman di Tasikmalaya. Seperti halnya Ahmad Syubanuddin Alwy, Hikmat Gumelar dan Michael Tjahja, BRB mempunyai kedekatan khusus dengan Tasikmalaya. Sejak awal berdirinya Sanggar Sastra Tasik (SST) sekitar tahun 1996, BRB sudah tak asing lagi bagi teman-teman di kota resik. BRB yang mudah bergaul dan cepat akrab dengan siapapun. Sering sekali ia dimintai bantuan baik menjadi juri lomba, menjadi pembicara atau mengisi acara sastra di RSPD FM. Beberapa kali BRB tampil baca puisi baik di Gelanggang Generasi Muda (GGM), di Gedung Kesenian Tasikmalaya (GKT) maupun di Universitas Siliwangi.


Memang sejak markas para seniman masih di GGM, BRB sudah sering datang dan begadang, baik ketika ada acara sastra maupun tidak. Saeful Badar, Nazaruddin Azhar, Bambang Suyatno, Yusuf Qodir Munsi, Nina Minareli, Kidung Purnama, Ahmad Faisal Imron, Anggie Sri Wilujeng, Dian Jaka Sudrajat, Amal Akmalia dan Ade Imas Permasi adalah teman-teman SST yang termasuk sering berdiskusi tentang puisi dengannya. Bukan hanya para penyair, tapi juga teman-teman teater dan seni rupa seperti Iwan Koeswanna, Lucky Lukita, Yock Kumbara, Rukmini Yusuf, Jack Guntur, atau Jojo Nuryanto. Ia pun cukup akrab dengan penyair Faisal Kamandobat, Sarabunis Mubarok, Nizar Kobani atau Ashmansyah Timutiah. Dengan mereka BRB sering terlibat perdebatan sengit tentang sastra dan budaya.


Banyak sekali peristiwa-peristiwa yang bisa dikenang dari BRB. Banyak sekali kenangan-kenangan yang bisa dicatat. Sekali waktu ia datang ke GGM dengan membawa setumpuk buku, lalu dibagikan pada teman-teman. “Penyair serius harus banyak baca,” selorohnya. Kemudian ia mengoceh tentang pentingnya peranan intelektualitas bagi seorang penyair. Ia pun berbicara tentang pentingnya kepekaan dan daya khayal. Juga tentang pengalaman empirik dan kejujuran. BRB menaruh perhatian khusus pada sajak-sajak Nina Minareli yang mengingatkannya pada sajak-sajak imajis para penyair Perancis. BRB menghadiahi penyair muda ini sejumlah buku yang ada hubungannya dengan proses kreatif.


BRB sering datang ke Tasikmalaya meskipun tidak ada acara. Kadang ke rumah saya atau langsung ke GGM. Meski cukup sering namun tak pernah lama-lama, paling dua tiga hari. Sekali waktu ia datang sambil menepuk-nepuk saku celananya. “Penyair serius makannya juga harus serius,” katanya sambil tertawa. Itu artinya ia sedang kaya dan bermaksud mentraktir makan teman-teman di restoran. Bukan di pinggir jalan. Waktu itu ia bekerja di bagian promosi sebuah perusahaan rokok, dan sering ditugaskan ke wilayah Priangan Timur. “Penyair serius rokoknya juga harus serius dong …” ujarnya sambil menawari rokok.


Di samping potensinya sebagai penyair dan penulis esei yang berbakat, satu hal yang barangkali luput dari perhatian orang selama ini adalah kecenderungannya sebagai pengasuh atau penggembala. BRB mempunyai perhatian yang besar pada penyair-penyair yang lebih muda. Tanpa disadari BRB sesungguhnya banyak membina calon-calon penyair, baik di Bandung maupun di Tasikmalaya. Di Bandung ia selalu berkeliling ke IKIP, Unpad, Stikom, Unisba, IAIN, CCF dan tempat-tempat lain menemui para peminat puisi. Dengan gayanya yang provokatif ia sering mengompori teman-teman untuk menulis lebih kreatif. Tak jarang ia pun mengkritik karya teman-teman langsung di hadapannya. “Penyair serius itu harus tahan banting,” ujarnya kalau ada yang tersinggung. BRB memprovokasi bukan hanya dalam berkarya namun juga dalam gerakan sastra. Ia mendorong penyair-penyair muda di kampus untuk memperjuangkan eksistensinya sendiri.


Tahun 1996-1998 adalah masa-masa yang romantik dalam dunia kepenyairan di Tasikmalaya. BRB, Ahmad Syubanuddin Alwy dan Michael Tjahja sering saya datangkan ke Tasikmalaya dengan tugas khusus “membintal” teman-teman. BRB saya tugaskan untuk masalah wawasan kepenyairan dan intelektualitas. Alwy saya tugaskan untuk masalah sikap kritis dan strategi politik. Sementara Tjahja saya tugaskan untuk masalah jeprut dan kebatinan. Tentu misi khusus ini tanpa disadari teman-teman karena dilakukan secara informal, lewat obrolan-obrolan santai.


Cukup banyak keterlibatan BRB dalam kegiatan-kegiatan kesenian di Tasikmalaya. Begitu juga sumbangannya dalam meningkatkan wawasan dan intelektualitas teman-teman. Namun sebaliknya Tasikmalaya juga sedikit banyak telah berpengaruh pada proses kreatif kepenyairan BRB sendiri. Telah terjadi pergesekan kreatifitas antara BRB dan teman-teman dari SST. Sajaknya yang berjudul “La Ti Erra Del Humo” dan “Guernica”, umpamanya, dalam proses kreatifnya tak bisa dilepaskan dari atmosfir kepenyairan di Tasikmalaya. Saya masih ingat di kafe MM, sajak-sajaknya yang masih setengah jadi itu disempurnakan. “Saya cukup tergganggu dengan sajak-sajak para penyair SST,” ujarnya. Waktu itu BRB banyak membicarakan sajak-sajak Nina Minareli dan Ahmad Faisal Imron, yang imaji-imajinya liar dan murung. Menurut BRB sajak-sajak mereka sangat menjanjikan.


La Ti Erra del Humo”, “Guernica”, “Amoureux”, “Romantic Agony” dan beberapa sajak lain yang ditulis BRB sekitar 1996-1998, menurut saya berada dalam atmosfir kepenyairan di Tasikmalaya. Sajak-sajak tentang pengembaraan batin dengan menggunakan imaji-imaji visual yang menyiratkan kekerasan dan kesakitan. Sajak-sajaknya ini jelas sangat berbeda dengan sajak-sajaknya yang terdapat dalam antologi Dua Wajah, yang merupakan hasil kolaborasi dengan seniornya Cecep Syamsul Hari. Saya ingin mengutip penggalan sajak “Guernica, salah satu sajak BRB yang paling saya sukai:


Dan bekas sayatan pisau di lenganmu seperti

Perang saudara di tenggara. Dan nikotin di kukumu

Yang cokelat menyiratkan gumpal asap yang mengerak

Dari tanganmu dunia mendendangkan pesona keranda

Dan lengking nyanyianmu mengingatkanku pada ringkik

Kuda yang tertembak. Jerit huru-hara di pusat kota

Lalu teriakanmu ibarat bunyi serak gerobak ditabrak

Irama dari hari-hari yang terus mematri rasa nyeri


Mulai tahun 2000-an, seiring dengan kondisi fisiknya yang mulai sakit-sakitan BRB agak jarang ke Tasikmalaya, kecuali pada acara tertentu. Beberapa kali ia sempat datang ke acara Komunitas Azan di Cipasung. Dan terakhir BRB bersama Ahda Imran menjadi pembicara dalam diskusi tentang kesenian dan ruang publik di GKT, 6 September 2002. Waktu itu BRB sudah berhenti merokok, fisiknya nampak kurang segar dan mengaku gampang merasa lelah. Tapi semangatnya untuk berbicara masih berkobar.


Sosoknya yang kecil, kulitnya yang gelap, rambutnya yang kaku, kemunculannya yang selalu disertai senyum dengan mata yang menyipit, kemeja lengan panjang, celana drill, sepatu sandal … memang sangat sulit untuk dilupakan. Belakangan ia selalu tampil dengan tali HP yang dikalungkan ke leher. Dalam beberapa hal BRB ini sangat sadar akan penampilan. “Penyair serius pakaiannya pun harus serius,” begitu yang sering diucapkannya kalau bertemu saya dan Alwy, sambil memamerkan merek pakaiannya.


Meskipun BRB sudah jarang ke Tasikmalaya, namun belakangan kami malah sering bertemu di Bandung. Setiap saya ke Bandung ia selalu menemani saya jalan-jalan. “Penyair serius nongkrongnya juga harus di tempat serius,” ujarnya seperti biasa. BRB selalu mengabarkan pada saya kafe-kafe yang menurutnya cocok untuk penyair. “Menulis puisi itu mahal biayanya tapi selalu tidak setimpal dengan honornya” berulang kali ia mengeluhkan hal itu. Ya, kami memang bukan orang-orang yang punya banyak uang, namun selalu menikmati apa yang bisa dinikmati. Kalau kebetulan saya dapat honor sayalah yang mentraktir BRB, begitu juga sebaliknya. “Tak banyak seniman yang sudah berkeluarga enak diajak wisata. Kalau sama AZN, istriku pasti percaya karena AZN seorang sufi …” selorohnya. Ia memang biasa memanggil saya AZN.


Belakangan BRB tak begitu banyak membicarakan puisi lagi. Nampaknya ia sedang tertarik menulis esei-esei sosial dan politik. Ia sangat gelisah dengan kondisi sosial yang menurutnya semakin parah. Ia pun sangat kecewa dengan perilaku para politisi yang ngawur. Makanya ia mendukung gerakan yang dilakukan teman-teman di Tasikmalaya. Aksi spanduk untuk mengkritisi kasus-kasus lokal baginya bukan hanya efektif sebagai kontrol sosial tapi merupakan peristiwa kesenian tersendiri, sebagai happening art yang mencerahkan masyarakat. “Kalau dilakukan di tempat lain belum tentu efektif, apalagi untuk hal-hal yang sensitif. Bisa dipukulin orang,” ujarnya ketika sedang berkumpul di Galeri Adira, Kiaracondong.


Seminggu sebelum bulan puasa saya sempat bertemu dengan BRB pada Festival Saini K.M. di kampus STSI Bandung. Malam itu kami sama-sama baca puisi, dan besok paginya diskusi. Selama dua hari BRB menemani saya. Dengan honor saya sebagai pembicara kami minum capucino di Bandung Indah Plaza dan makan di Warung Sate Karjan, dekat stasiun. Beberapa hari kemudian kami bertemu lagi ketika sama-sama menjadi pembicara pada diskusi sastra di Unpad. Waktu diskusi berlangsung BRB mengaku sakit dada meski terus memaksakan bicara. Seperti biasa ia mengompori para mahasiswa. Saya sama sekali tak mengira bahwa sakit dadanya saat diskusi itu akan terus berlanjut. Selama bulan puasa kami tak pernah bertemu.


Menjelang acara peluncuran buku Gelombang Mata Langit karya Juniarso Ridwan dan Soni Farid Maulana di GKT pada pertengahan bulan puasa, Nenden menelpon saya menyampaikan permintaan maaf BRB kepada teman-teman di Tasikmalaya. Amanat itu saya sampaikan. Sebelum acara dimulai kami semua berdoa untuk kesembuhan BRB. Tapi ini, sebuah SMS yang diterima Saeful Badar, dua hari sebelum lebaran, sangat mengejutkan kami: BRB pergi untuk selama-lamanya! Kami merasa sangat kehilangan. Kehilangan seorang penyair. Seorang sahabat. Selamat jalan BRB, untuk mengenangmu kami akan terus memasang spanduk …

(2002)


Prev Next Next