Artikel 17

CERPEN-CERPEN PUITIK DANARTO



Acep Zamzam Noor


PERKEMBANGAN kesusastraan kita sejak dua dasawarsa ini ditandai oleh semangat perambahan pada daerah-daerah pengucapan baru. Di lapangan prosa, nama-nama seperti Iwan Simatupang, Budi Darma, Danarto, Arifin C. Noer maupun Putu Wijaya telah memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi sebuah kecenderungan yang kemudian diikuti oleh sastrawan-sastrawan yang lebih muda. Kecenderungan ini, yang sulit ditemukan pada karya-karya angkatan sebelumnya, adalah kecenderungan puitik dan simbolik. Prosa-prosa mereka tampil dengan bentuk baru yang padat, seakan mempunyai tenaga puisi yang kuat dengan simbol-simbolnya yang mengarah pada dunia absurd dan surealisme.


Kecenderungan ini juga nampaknya ditandai dengan kesadaran para sastrawannya untuk kembali pada tradisi, menggali akar budaya sendiri, yang memang kaya itu. Pada drama-drama Arifin C. Noer atau cerpen Danarto banyak sekali kita temui unsur-unsur tradisi dengan pengucapan yang segar dan kreatif. Maka tak heran jika kecenderungan ini begitu sarat dengan persoalan-persoalan spiritual, renungan-renungan mistik dan metafisik, karena persoalan-persoalan itulah yang melatari kesenian-kesenian tradisional kita pada umumnya.


Banyak pengamat yang menilai kecenderungan baru ini lahir karena kejenuhan yang berlebihan pada kehidupan modern yang semakain pragmatis dan materialistis, atau pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin sekuler. Tapi saya melihat, selain karena kejenuhan pada segala kemajuan yang berdampak pada kegersangan rohani itu, masih ada alasan lain yang sangat penting dan vital bagi seorang sastrawan, yakni dorongan kreatif yang besar untuk menemukan pengucapan baru. Dan kenyataan ini nampak sekali pada karya-karya mereka yang cenderung eksperimental, hingga isi menjadi sangat tersamar dan bahkan terbungkus rapat sekali.


Terjadinya pemadatan pada karya-karya prosa mutakhir kita hingga nampak lebih puitik dan simbolik, bukanlah berarti karena para sastrawan kita sudah meninggalkan kehidupan nyata dan tak peduli pada masalah-masalah yang terjadi di sekitarnya. Jika kreativitas masih merupakan hal terpenting bagi sastrawan, maka kejadian atau peristiwa apa pun yang diangkat menjadi karya sastra, haruslah tetap dengan sikap kreatif. Dalam dunia sastra, sesuatu yang biasa dan sehari-hari akan menjelma menjadi sesuatu yang lain sama sekali. Karya sastra bukanlah reportase yang hanya membeberkan fakta dan data-data. Pemadatan terjadi justru karena permasalahan yang begitu kompleks dalam kehidupan tak mungkin terwadahi secara artistik tanpa pemiuhan, yang mengarah pada simbolisasi maupun abstraksi. Hasilnya, baik cerpen, novel, maupun drama nampaknya lebih dekat pada puisi, untuk tidak dikatakan puisi (yang panjang) itu sendiri. Dengan demikian, seperti halnya puisi, prosa jenis ini pun banyak menyiratkan makna yang berganda dan sangat terbuka bagi penafsiran-penafsiran baru.


Danarto adalah salah seorang sastrawan kita yang cukup menonjol karena perambahan-perambahannya yang berani dan berhasil menemukan warna baru yang segar. Sejak awal cerpen-cerpennya sudah menunjukkan dengan kuat kecenderungannya dalam berekperimen, baik dalam bentuk maupun dalam isi. Cerpen-cerpennya mencengangkan banyak orang karena tidak berangkat dari sesuatu yang biasa dan sehari-hari, lebih-lebih semuanya itu diungkapkan dengan bentuk yang sangat mempesona: puitik, simbolik dan sekaligus dramatik. Danarto berhasil memanfaatkan gaya surealisme bahkan absurdisme untuk tujuan-tujuan tertentu. Ia tidak hanya berhenti pada keanehen bentuk atau kemuskilan isi belaka. Cerpen-cerpennya justru menunjukkan suatu wawasan yang jelas, yakni sastra transendental dan alam pikiran kebatinan (tasawuf) yang mendalam.


Dalam Modern Indonesia Literatur II , Prof. A. Teeuw menilai cerpen-cerpen Danarto sebagai gambaran yang mempesona tentang eksistensi manusia dari sudut pandangan orang Jawa. Cerpen-cerpen Danarto ini mewakili jenis pembaruan sastra Indonesia yang berakar pokok secara paradoksal dalam kebudayaan tradisional dan nampaknya menggenggam harapan di masa depan. Sedang dalam Sastra dan Religiusitas, Y.B. Mangunwijaya melihat cerpen-cerpen Danarto sebagai parabel-parabel religius, cerita-cerita kiasan kaum kebatinan yang luar biasa dinamika dan daya imajinasinya. Tradisional sekaligus kontemporer, abstrak sekaligus kongkrit.


Beberapa pengamat lain bahkan menyebut cerpen-cerpen Danarto sebagai sastra sufistik yang bersikap anti-intelektual karena cerita-ceritanya membangun kerangka supralogis bagi kesadaran pembacanya. Kerangka supralogis yang bersifat intuitif ini mengimbangi kerangka logis yang timbul sebagai akibat kerutinan pengalaman sehari-hari. Dari karya-karya semacam ini pembaca dihadapkan pada dunia alternatif dengan menekankan pentingnya dimensi spiritual dan transendental dalam kehidupan. Menurut Abdul Hadi W.M., hal ini tidak berarti bahwa sastrawan mengingkari peranan intelek dan mengajak pembacanya menghindari kenyataan dunia dan masyarakat.


Cerpen-cerpen Danarto bukanlah cerita dari dunia sehari-hari, tokoh-tokohnya pun bukanlah manusia biasa yang kita kenal. Sebagai pengarang yang sudah matang dalam teknis dan jelas dalam wawasan dan selera estetiknya, cerpen-cerpen Danarto tak lagi berbasa-basi dengan hal-hal yang biasa atau permukaan, tapi langsung menukik pada inti dan hakikat kehidupan itu sendiri. Cerpen-cerpen dalam kumpulan Godlob merupakan renungan-renungan yang menekankan kerinduan mistis sebagai subyek. Pengembaraannya ke dalam batin yang terus menerus, seakan memantulkan bayangan yang jernih dan murni pada setiap karya yang ditulisnya.


Maka lahirlah Rintik, dalam cerpen yang diberi judul gambar jantung tertusuk panah, seorang perempuan buta pengabdi dan penolong sesama yang kesusahan, yang merupakan simbol kesucian manusia yang sudah terbebas dari kungkungan ruang dan waktu serta keterbatasan-keterbatasan duniawi. Kemudian lahirlah tokoh-tokoh lain yang ganjil, aneh dan sakti, yang mengangkangi dunia nyata dan dongeng sekaligus, yang berada di antara dunia fana dan baqa. Tokoh-tokoh yang tak jelas lagi identitasnya, asal-usul dan status kehidupannya. Semua mengambang dalam suasana yang fantastik, mempesona dan mengerikan sekaligus. Dalam bagian lain, nampak juga tokoh-tokoh yang sudah kita kenal lewat epos, wayang atau cerita Injil serta naskah-naskah drama, yang semuanya diolah Danarto dengan sangat imajinatif dan kemudian diarahkan pada suatu sikap kerinduan yang ekstrim seperti nampak pada cerpen “Nostalgia”, “Labirint” dan terutama “Asmarandana”.


Dalam Adam Ma’rifat, kumpulan keduanya, Danarto masih belum beranjak dari wilayah yang pernah dengan khusyuk digelutinya dalam Godlob, kumpulan pertamanya. Malah cerpen-cerpen dalam kumpulan kedua ini semakin kental dengan kadar puisi yang semakin besar pula. Di sini pencerahan mistis mendapat tekanan yang penting. Dunia sehari-hari mulai disinggung di sana-sini, tapi kemudian melebur dengan dunia yang berdimensi lain. Ada malaikat, kadal, zat asam, komputer, penari kecak serta bedoyo-bedoyo yang berbicara satu sama lain, tampil sebagai tokoh dalam cerita yang absurd dan surealistik.


Yang paling menarik dari cerpen-cerpen ini, adalah bentuk eksperimentasi Danarto yang memadatkan cerita-ceritanya pada kekentalan sebuah puisi serta unsur-unsur visualnya yang mendekati karya seni rupa, menunjukkan bahwa kreativitas bagi pengarang ini adalah utama. Bukan saja kalimat yang dipadatkan menjadi kata-kata puisi, tetapi pada perkembangannya kata-kata puisi juga divisualkan dengan rupa. Suasana trance yang dibangun dalam cerpen-cerpen seakan tak cukup diungkapkan lewat kalimat dan kata-kata saja. Bahkan hurup-hurup yang ada dalam mesin tik pun tetap belum cukup. Untuk cerpen yang judulnya berupa partitur masih ditambah lagi dengan tulisan tangan, ilustrasi dan lain-lain.


Cerpen “Mereka Toh Tidak Mungkin Menjaring Malaikat” dan “Adam Ma’rifat” bagi saya tak pelak lagi adalah sebuah puisi panjang yang mempesona, yang kekentalannya tak kalah jika dibanding dengan puisi dari penyair-penyair terkemuka kita sekalipun. Kepuitikan cerpen “Mereka Toh Tidak Mungkin Menjaring Malaikat” sudah mulai pada baris awal ceritanya: “Akulah Jibril, malaikat yang suka membagi-bagikan wahyu. Aku suka berjalan di antara pohonan, jika angin mendesir: itulah aku; jika pohon bergoyang: itulah aku; yang sarat beban wahyu, yang dipercayakan Tuhan ke pundakku.”


Sedang cerpen “Adam Ma’rifat” dibuka Danarto dengan napas kepenyairannya yang kuat: “Akulah cahaya yang meruntun-runtun dengan kecepatan 300.000 kilometer per jam, yang membuka pagi hingga disebut pagi hari, yang menaruhkan matahari di atas kepala hingga disebut siang hari, kulempar ia ke barat dan kusebut sore hari…”. Bagaikan senapan mesin Danarto terus memberondongkan kata-kata puitiknya dengan deras tanpa terhalangi titik sampai cerita yang panjangnya hampir dua belas halaman ini selesai.


Apakah Danarto sedang bermain-main dengan kata? Atau sedang mengumbar fantasinya secara ekstrim hingga mirip cerita science fiction? Cerpen-cerpen dalam kumpulan kedua ini, memang mengesankan ia sedang bermain-main kata dan fantasi. Dalam cerpen yang judulnya berupa partitur kita melihat bagaimana komputer bisa membuat penari-penari kecak kesurupan, ruang dan waktu lebur, kejadian-kejadian di tempat yang berbeda berbaur dan tertangkap langsung oleh komputer, seakan tak ada lagi urutan waktu, tak ada lagi jarak tempat.


Tapi dunia yang seakan jungkir balik ini sebenarnya bisa dipahami atau dimaklumi sebagai sesuatu wajar jika kita memahami titik keberangkatan Danarto yang banyak dipengaruhi oleh alam pikiran mistik dan semangat sufistik. Mistik atau tasawuf yang berpokok pada pandangan pantheistik menganggap bahwa segala sesuatu yang ada, baik benda hidup atau benda mati yang nampak atau tidak nampak, semuanya merupakan perwujudan dari sang pencipta. Paham wahdatul wujud yang dalam mistik Jawa lebih dikenal sebagai manunggaling kawula-Gusti banyak mewarnai cerpen-cerpen Danarto yang berkesan absurd dan surealistik. Dalam cerpen “Bedoyo Robot Membelot” dilukiskan bagaimana peristiwa yang sesungguhnya terjadi dan yang tidak terjadi membaur dan rancu. Peristiwa di sini dan di sana jalin-menjalin dan kehidupan seakan-akan maya.


Terobosan-terobosan metafisik yang dilakukan Danarto sesungguhnya tidak terlalu absurd jika kita bisa memahami jalan pikirannya, atau umumnya jalan pikiran para sufi. Dalam khasanah sastra sufi batas-batas identitas antara hamba dengan Khalik seringkali kabur dan bahkan lenyap. Begitu juga dalam cerita-cerita Danarto, Sang Pencipta nampak akrab berhubungan dengan mahluk-mahluk yang mendapatkan pencerahan, termasuk dengan binatang dan tumbuh-tumbuhan. Kemudian mereka berbicara satu sama lain.


Tapi yang membuat cerpen-cerpen Danarto menjadi sangat bernilai tetaplah kreativitasnya sebagai sastrawan yang mampu memadukan bentuk dengan isi secara utuh. Semangat sufistiknya termanifestasikan dalam eksperimentasi yang otentik. Bukan saja kebaruan-kebaruan bentuk yang dicapai Danarto, tapi juga kedalaman isi.


***


Dalam kumpulan cerpenya yang ketiga, Berhala, terjadi perkembangan yang sangat berarti. Cerpen-cerpen Danarto yang selama ini bermain dalam dunia yang mengambang, dunia yang tidak riil tapi juga tidak sepenuhnya abstrak, tiba-tiba turun gunung dan berbicara tentang kejadian sehari-hari dengan ungkapan yang lebih linier dan jelas. Dalam cerpen-cerpennya ini Danarto banyak memberikan komentar-komentar tentang keadaan sosial dan masyarakat, baik dari kalangan atas maupun lapisan bawah. Tokoh-tokoh cerpennya kali ini bukan lagi malaikat, zat asam atau cahaya, tapi pejabat tinggi, konglomerat, penegak hukum, wartawan, penjahat, penganggur, dukun dan sebagainya.


Apakah Danarto telah meninggalkan semangat sufistiknya dan memilih jadi komentator masalah sosial? Ternyata tidak. Danarto tidak meninggalkan semangat sufistiknya, tapi hanya menggeser proyeksinya yang selama ini mengawang menjadi lebih membumi. Penggeseran ini berakibat juga pada perubahan bentuk pengucapan menjadi lebih longgar dan cair. Umar Kayam dalam kata pengantar kumpulan ini menulis: “Mungkin Danarto telah melakukan suatu titik keberangkatan baru. Dalam kumpulan ini ia terjun ke peristiwa nyata dalam kehidupan kita.”


Semangat sufistik dan eksperimentasi Danarto sebenarnya masih kita temui juga dalam cerpen-cerpen terbarunya ini meskipun dalam kadar yang berbeda. Danarto selalu menutup cerita-ceritanya ini dengan sesuatu yang tak masuk akal. Tokoh-tokohnya yang bermain dalam dunia nyata sekonyong-konyong ia lempar pada absurditas di akhir cerita. Absurditas selalu merupakan penutup cerita yang ironis. Menurut Umar Kayam, hal ini nampaknya untuk mengingatkan kita bahwa tidak seorang pun dari kita tahu dengan pasti akhir suatu kisah kehidupan.


Kumpulan ketiga yang diberi judul Berhala ini, tekanan ceritanya adalah tentang kecintaan manusia pada dunia dan materi. Pejabat tinggi, penegak hukum, penjahat dan penganggur nampaknya mempunyai kerakusan yang sama. Kecintaan yang berlebihan pada dunia dan materi ini telah menghalangi tokoh-tokohnya untuk memperoleh pencerahan spiritual. Pandangannya pada kebenaran terhalang oleh berhala-berhala, yang membuat hidup mereka semakin terasing, bahkan dari dirinya sendiri.


Kecuali “Dinding Ibu”, “Dinding Anak”, “Pageblug” yang masih mengingatkan kita pada suasana cerpen-cerpen sebelumnya, cerpen-cerpen selebihnya dalam kumpulan ketiga ini merupakan warna lain. Meskipun begitu, cerpen-cerpen yang rasanya terlalu linier untuk seorang Danarto masih tetap menyimpan pesona. Cara bercerita Danarto yang memikat, komentar-komentarnya tentang masalah sosial dan masyarakat yang tajam tapi juga jenaka, cukup untuk membuktikan bahwa Danarto adalah seorang master dalam kesusastraan kita. Danarto masih tetap intens dalam mengungkapkan kebokbrokan moral seorang polisi atau korupsinya seorang pejabat tinggi. Artinya, kreativitas bagi Danarto masih tetap yang utama di samping semangat sufistiknya yang tak luntur, sedang tema bisa apa saja.


Masalah sosial sebenarnya bukan tak pernah disinggung sama sekali dalam cerpen-cerpen sebelumnya. Beberapa cerpen dalam kumpulan Godlob dan Adam Ma’rifat juga menyinggung-nyinggung masalah sosial dan masyarakat. Hanya saja dalam cerpen-cerpen tersebut Danarto mengungkapkannya secara tersirat dalam konteks kesufian yang masih pekat. Sedang dalam cerpen-cerpennya yang sekarang seperti dibalik, pesan-pesan kesufian justru menjadi tersirat di tengah masalah sosial dan masyarakat yang terang-terangan.


(1990)

Prev Next Next