Artikel 21

MENIKMATI TERJEMAHAN PUISI



Acep Zamzam Noor


SEBAGAI orang yang hanya menguasai bahasa Indonesia saya selalu merasa gembira dengan terbitnya karya-karya terjemahan sastra asing, khususnya puisi. Saya selalu ingin mengetahui puisi-puisi dari berbagai negeri, baik negeri yang jauh maupun yang dekat. Baik negeri yang benar-benar asing maupun yang masih serumpun. Baik negeri yang rambut penduduknya pirang maupun keriting. Di tengah maraknya penerbitan karya-karya terjemahan sastra belakangan ini, tetap saja terjemahan puisi masih sulit didapatkan, apalagi terjemahan puisi yang benar-benar enak dibaca. Saya gembira ketika sejumlah penyair pemenang hadiah Nobel terjemahan puisi-puisinya diterbitkan dalam sebuah antologi, lebih gembira lagi karena hasil terjemahannya lumayan enak dibaca. Saya juga gembira ketika mendapatkan beberapa penyair terkenal dunia terjemahan puisi-puisinya diterbitkan secara tunggal, namun untuk yang terakhir ini kegembiraan saya sirna karena hasil terjemahannya ternyata tidak enak dibaca dan bahkan ada yang benar-benar “gelap”.


Saya berani mengatakan “gelap” bukan karena saya memahami bahasa asalnya (kebanyakan terjemahan karya penyair non-Inggris berdasarkan bahasa kedua), namun sebagai pembaca Indonesia saya tidak mendapatkan pencerahan apa-apa dari hasil terjemahannya itu, padahal yang diterjemahkannya adalah karya penyair yang hebat, yang saya bayangkan pasti akan membuat bulu kuduk saya berdiri. Jadi penilaian saya lebih pada bagaimana si penerjemah menggunakan bahasa Indonesia, bukan pada sesuai atau tidaknya terjemahan tersebut dengan puisi aslinya. Sebagai pembaca Indonesia rasanya percuma saja jika saya membanding-bandingkan hasil terjemahan dengan bahasa aslinya, karena saya memang tidak paham bahasa lain selain Indonesia.


Di antara beberapa karya terjemahan puisi yang bisa saya nikmati kebanyakan yang dikerjakan oleh para penyair seperti Hartojo Andangdjaja, Sapardi Djoko Damono, Wing Kardjo, Sutardji Calzoum Bachri, Abdul Hadi W.M., Leon Agusta, Frans Nadjira, Arief Bagus Prasetyo, Tan Lieo Ie dan Cecep Syamsul Hari. Sayangnya mereka bukanlah orang-orang yang produktif sebagai penerjemah, jadi hasil terjemahan mereka sangatlah sedikit. Hal ini jauh berbeda dengan para penerjemah prosa yang jumlahnya begitu berlimpah, dan mereka bukan hanya dari kalangan sastrawan. Untuk prosa banyak penerjemah umum atau profesional yang hasil terjemahannya juga enak dibaca. Hal ini menunjukkan bahwa menerjemahkan puisi sangat berbeda dengan menerjemahkan prosa. Menerjemahkan puisi bisa jadi sama beratnya dengan menulis puisi itu sendiri, yang tidak cukup dengan bermodalkan kemampuan berbahasa asing serta keterampilan berbahasa Indonesia, namun juga dituntut mempunyai pemahaman tentang puisi. Lebih jauhnya seorang penerjemah puisi juga harus mempunyai pengalaman kepenyairan: pengalaman memilih dan merangkai kata, menggunakan simbol atau metafor, bermain dengan imaji serta menyusun diksi. Tanpa itu semua hasil terjemahkannya akan menjadi karya yang sia-sia.


Menerjemahkan prosa mungkin perhitungannya kalimat per kalimat, sedang perhitungan dalam puisi kata per kata. Dengan demikian penerjemah puisi harus mempunyai kepekaan dalam memilih satu kata di antara kata-kata lain yang mungkin sama artinya. Sebagai pembaca yang sehari-hari bergaul dengan puisi tentu saya bisa merasakan kalau ada kata yang masih kurang pas, yang mungkin akan lebih tepat jika menggunakan kata yang lain. Sebagai pembaca saya juga bisa merasakan kalau penerjemahnya kurang kerja keras, kurang gigih dalam memburu kata-kata dan hanya menggunakan kata yang sekenanya atau yang alakadarnya. Saya bisa merasakan kalau penerjemah agak melenceng atau terlalu harfiah dalam menafsirkan sebuah frase atau idiom, seperti juga saya akan merasakan kalau puisi yang diterjemahkan itu sebenarnya bagus namun kebagusannya tidak berhasil diangkat oleh penerjemah.


Dengan kerja keras dan kreativitas yang tinggi dari seorang penerjemah, tak heran jika ada terjemahan puisi yang lebih menggetarkan ketimbang puisi aslinya. Begitu juga sebaliknya, puisi yang tadinya begitu mengharukan namun ketika diterjemahkan justru berubah menjadi puisi yang kampungan. Sebagai pembaca daya khayal saya kadang ikut bermain, ikut merubah, ikut merangkai kata atau menebak ke mana arah dari sebuah frase atau idiom. Menebak apa yang sebenarnya dimaksudkan penyair dan apa yang ditangkap oleh penerjemah. Bagi saya inilah salah satu keasyikan dalam menikmati terjemahan puisi, di mana sebagai pembaca saya dituntut kreatif dan tidak pasif. Sebagai pembaca saya juga dituntut untuk turut mencipta.


Karya-karya terjemahan yang dilakukan Chairil Anwar banyak dinilai orang bagus dan bahkan lebih bagus ketimbang puisi-puisi aslinya, hal ini sangat masuk akal karena Chairil Anwar mengeluarkan energi yang sama besarnya dengan yang ia keluarkan ketika menulis puisi. Sebagai penerjemah Chairil telah ikut mencipta berdasarkan puisi yang diterjemahkannya. Memindahkan kekuatan atau keajaiban sebuah puisi ke dalam suasana dari bahasa sasaran bukanlah hal yang mudah dan merupakan kreativitas yang perlu dicatat dari seorang penerjemah. Dan setiap penyair pasti akan berterima kasih karena telah dibantu penerjemah dalam memindahkan idiom, irama, suasana atau rasa dari bahasa asal yang sangat berbeda dengan bahasa sasarannya.


***


Terbitnya terjemahan puisi-puisi Cina modern dalam sebuah antologi yang berjudul Antologi Puisi Baru Tiongkok Tirai Bambu juga sangat menggembirakan saya. Di samping puisi-puisi modern Jepang, Korea dan Thailand yang pernah saya baca dari terjemahan Abdul Hadi W.M. pada tahun 1980-an, terjemahan puisi-puisi Cina modern ini termasuk yang saya tunggu-tunggu kehadirannya. Selama ini saya hanya mengenal puisi-puisi Cina klasik dari terjemahan Sapardi Djoko Damono yang apik pada tahun 1970-an, setelah itu saya merasa gelap dengan puisi-puisi dari negeri yang penduduknya terbanyak di dunia ini. Dalam sejumlah perhelatan puisi internasional atau festival yang dilaksanakan di Indonesia, jarang sekali penyair Cina yang diundang. Baru pada Festival Puisi Internasional Indonesia 2006 yang berlangsung di Palembang dan Jakarta belum lama ini, seorang penyair kontemporer asal Cina diundang menjadi peserta, namanya Duoduo. Penyair yang aslinya bernama Li Shizheng ini merupakan seorang pelarian politik yang sudah lama bermukim di Belanda. Jadi ia diundang atas rekomendasi seorang kurator dari Belanda.


Saya sangat menyukai puisi-puisi Cina klasik yang diterjemahkan Sapardi Djoko Damono. Saya sangat menyukai puisi-puisi Tu Fu dan Li Po yang jernih namun merangsang imajinasi. Meskipun lebih bebas dari haiku, puisi-puisi para penyair buhun ini sangat singkat, padat, tepat dan menggetarkan. Seperti seorang pendekar mereka tidak mengumbar gerakan yang kurang berguna, seperti seorang samurai mereka tidak mengobral sabetan pedang yang membabi-buta, dan seperti seorang sufi mereka tak berpanjang-panjang kata. Puisi-puisinya ringkas, namun penuh dengan isi. Puisi-puisinya sepi, namun mengalirkan semacam energi. Saya menyukai mereka seperti menyukai idiom-idiom para sufi. Dan rupanya kesukaan saya tersebut kini sedikit terpuaskan dengan membaca sebagian puisi dari para penyair Cina modern yang termuat dalam antologi Tirai Bambu ini. Membaca puisi-puisi hasil terjemahan Soeria Disastra langsung dari bahasa aslinya saya seperti menemukan kembali jejak-jejak yang dulu ditinggalkan Tu Fu dan Li Po lewat terjemahan Sapardi.


Berbeda dengan Sapardi Djoko Damono yang tidak terlalu banyak menyertakan jumlah penyair namun setiap penyair tampil dengan sejumlah puisi, Soeria Disastra justru mengangkut begitu banyak penyair dengan masing-masing hanya diwakili satu sampai tiga puisi saja. Sebagai upaya mengenalkan peta kepenyairan Cina modern secara umum tentu strategi ini sah-sah saja adanya, meski sebagai pembaca kita merasa kurang “mantap” jika hanya membaca satu atau dua puisi dari seorang penyair, yang belum tentu merupakan puisi terbaiknya. Beberapa puisi pendek karya Hu Shi, Shen Yi Mo, Lu Xun, Li Da Zhao, Lu Da Bai, Zhu Zi Qing, Bian Zhi Lin dan Wang Jing Zhi sangat menyenangkan ketika saya baca sambil tiduran di sofa. Puisi-puisi pendek ini berhasil bukan karena kata-katanya yang ringkas, namun karena secara keseluruhan puisi-puisi tersebut mampu menyentuh kalbu pembaca. Seperti teh yang mengaliri tenggorokan, kata-kata yang digunakannya tidak kekurangan atau kelebihan gula. Saya ingin mengutip “Puisi Mungil” karya Hu Shi:


Bunga yang mekar belum banyak

maka pandanglah sepohon daun baru kuning muda ini

sebagai bunga


Tentu kesenangan saya ini bukan karena tahu bahwa puisi-puisi mereka dalam bahasa aslinya memang bagus, tapi terutama karena Soeria Disasatra sebagai penerjemah berhasil menghadirkan ruh dari puisi-puisi pendek tersebut ke dalam bahasa Indonesia. Soeria Disastra juga cukup berhasil ketika menerjemahkan beberapa puisi panjang yang secara teknis mungkin kelihatannya lebih sulit. Puisi-puisi tersebut antara lain “Gugur Bunga” karya Mu Mu Tian, “Rusa Warna Kuning Gading” karya Feng Xue Feng, “Kecupan Pos” dan “Suasana Musim Semi” karya Liu Da Bai atau “Jari Putus” dan “Memoriku” karya Dai Wang Su, di mana Soeria Disastra menggunakan bahasa dengan cukup jernih dan terjaga. Saya kutipkan bait pertama dari “Kecupan Pos”:


Bukan tidak bisa aku merobeknya dengan jemari,

bukan tidak bisa aku menorehnya dengan gunting,

hanya dengan pelahan-lahan

dengan ringan

dengan hati-hati sekali menyingkap bibir surat warna ungu;


Aku tahu di balik bibir surat itu,

tersimpan kecup rahasianya.


Meskipun demikian, pada sebagian puisi lain yang terdapat dalam antologi ini saya masih sering merasa gemas dan gatal ingin ikut merubah beberapa kata atau kalimat yang menurut saya masih kurang pas, masih kurang kuat, masih bisa dicari lagi kata padanannya yang lain, atau karena menumpuknya kata yang sama maknanya. Atau terlalu setia pada rancang bangun puisi asli hingga diksi dan tipografinya menjadi ganjil dalam bahasa sasaran. Atau bisa jadi karena puisi-puisinya sendiri yang memang tidak potensial untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.


Saya tiba-tiba teringat pada ucapan Dr. Mikihiro Moriyama dalam sebuah obrolan di rumah saya beberapa waktu lalu. Guru besar Asian Studies dari Nanzan University yang fasih berbahasa Sunda ini mengatakan bahwa tidak semua puisi bisa diterjemahkan ke dalam bahasa lain. Banyak puisi yang akan kehilangan segala-galanya jika diterjemahkan. Makanya seorang penerjemah selain harus menguasai bahasa asal dan sasaran dengan sama baiknya, juga dituntut harus mampu memilah puisi mana yang potensial dan mana yang sulit jika diterjemahkan ke bahasa lain. Seorang penerjemah juga harus tahu puisi mana yang jika diterjemahkan akan menjadi puisi yang lebih kaya dan bernilai. Dengan demikian seorang penerjemah memang dituntut bekerja keras dan kalau perlu berdarah-darah seperti halnya penyair, agar hasil terjemahannya bisa membangkitkan bulu kuduk pembaca.


(2007)


Prev Next Next