Arikel 4

PUISI DAN BULU KUDUK


Acep Zamzam Noor


SEBAGAI seorang praktisi yang tidak mempunyai latar belakang pendidikan sastra, barangkali cara saya menikmati puisi agak “ngawur” jika dibanding dengan mereka yang paham teori-teori sastra, khususnya teori puisi. Saya selalu kebingungan jika ditanya puisi yang seperti apakah yang baik itu. Saya juga akan kebingungan jika ditanya bagus mana antara puisi cinta dan puisi protes, antara puisi pendek dan puisi panjang, antara puisi yang sulit dan mudah dipahami, atau puisi yang ditulis wanita dan lelaki. Saya selalu menjawab bahwa puisi yang baik adalah puisi yang menggetarkan pembacanya, tak peduli apakah itu puisi cinta atau protes, puisi pendek atau panjang, mudah atau sulit dipahami, ditulis wanita atau lelaki. Jadi ukurannya adalah bulu kuduk. Jika saya membaca sebuah puisi dan saya merasa tergetar hingga bulu kuduk saya merinding, apalagi jika tubuh saya sampai menggigil, maka puisi yang saya baca itu adalah puisi yang baik. Puisi yang bisa memberikan pengaruh kepada pembacanya.


Ketergetaran saya terhadap sebuah puisi tentu saja relatif. Saya bisa saja tergetar oleh nama penyairnya yang puitis atau aneh. Tapi di lain pihak saya juga bisa terganggu oleh nama penyair yang lebih mengesankan nama seorang ketua partai, kepala desa, satpam atau bidan, meskipun sebenarnya puisinya lumayan. Saya selalu tergoda untuk mengubah nama-nama penyair muda yang rasanya kurang pas sebagai nama penyair. Ada yang menuruti usul saya, ada yang tidak. Ada juga yang mempertimbangkannya cukup lama sebelum akhirnya setuju. Mungkin hanya kebetulan, jika yang menuruti usul saya biasanya puisinya kemudian menjadi bagus dan kepenyairannya dijalani dengan serius. Jadi langkah awal saya dalam menikmati puisi adalah memeriksa nama penyairnya dulu apakah sudah beres atau belum sebagai nama penyair. Setelah itu baru memasuki puisinya.


Dalam membaca puisi pertama-tama saya akan tertarik pada cara penyair dalam mengungkapkan sesuatu. Bagi seorang penyair ungkapan atau idiom ini sangat penting, sebab inilah yang akan membedakan antara penyair dengan penyanyi dangdut misalnya, atau antara penyair yang satu dengan penyair lain. Ungkapan atau idiom ini erat sekali kaitannya dengan bahasa. Seorang penyair yang bisa mengungkapkan diri dengan cara yang segar atau bahkan mengejutkan, biasanya penyair tersebut telah menguasai bahasa dengan baik. Sedang mengenai penguasaan bahasa, menurut saya sederhana saja: seorang penyair yang mampu mempergunakan alat-alat puitiknya (dalam hal ini kata-kata) secara efektif dan sugestif, pas, tidak kekurangan garam atau kelebihan gula. Penguasaan bahasa seorang penyair akan memunculkan semacam tenung atau sugesti bagi pembacanya.


Menguasai bahasa tentu bukan satu-satunya syarat. Ketajaman pikiran, kepekaan perasaan, kekayaan imajinasi, keterampilan memainkan simbol, metafor dan makna, juga memilih sudut pandang terhadap suatu obyek adalah hal lain yang penting. Menulis puisi adalah mengungkapkan pikiran dan perasaan. Membaca puisi adalah menangkap kilatan-kilatan pikiran dan perasaan yang diungkapkan penyair. Seorang pembaca akan tergetar perasaannya dan merinding bulu kuduknya jika kilatan-kilatan pikiran dan perasaan yang ditembakkan sang penyair mengenai sasarannya, yakni pikiran dan perasaan pembaca yang terdalam. Ketergetaran ini bukan semata-mata karena paham apa yang disampaikan penyair namun bisa juga karena cara penyair menyampaikan sesuatu yang menyegarkan, mengejutkan dan di luar dugaan. Dengan demikian puisi mampu memberikan pencerahan pada pembacanya.


Dalam membaca antologi Bunga Yang Berserak karya sepuluh penyair dan cerpenis wanita Jawa Barat saya memulainya tidak dengan mencari-cari tema yang ada hubungannya dengan wanita seperti gender, patriakhi, ketertindasan oleh kaum lelaki, penentangan terhadap poligami dan lain sebagainya. Yang saya lakukan justru mengamati nama-nama penyairnya dulu. Eriyanti Nurmala Dewi, Heni Hendrayani, Katherina, Nenden Lilis Aisyah, Nina Minareli, Nuning Damayanti, Ratna Ayu Budhiarti, Shinta Kusumawati, Tetet Cahyati dan Chye Retty Isnendes adalah nama-nama yang indah (paling tidak dari unsur bunyi) dan cocok untuk nama seorang penyair. Nama Chye Retty Isnendes yang pemenang Hadiah Rancage bahkan mengingatkan saya pada pemenang Hadiah Nobel dari Spanyol, Juan Ramon Jiminez. Sedang nama Katherina rasanya terlalu pendek dan perlu sedikit dipoles lagi dengan menambahkan nama lain, misalnya menjadi Katherina Hamijaya, Katherina Tarmana, Katherina Rosada, Katherina Ridwan atau Katherina Setiawan. Rasanya lebih menggetarkan dengan dua suku kata seperti Grazia Dalleda dari Italia, Gabriela Mistral dari Chili atau Anne Lennox dari Amerika.


Para penyair dan cerpenis yang terkumpul dalam antologi ini bukanlah nama-nama baru. Karya-karya mereka sering muncul baik di mass media daerah maupun nasional. Soal jam terbang mereka juga bukanlah penyair yang baru menulis kemarin sore. Tetet Cahyati, Eriyanti Nurmala Dewi, Nenden Lilis Aisyah, Katherina, Shinta Kusumawati dan Chye Retty Isnendes sudah berproses lebih dari satu dasawarsa lalu. Begitu juga Nuning Damayanti dan Heni Hendrayani meski jarang muncul ia sudah mulai menulis sejak awal 1990-an. Sementara Nina Minareli dan Ratna Ayu Budhiarti bisa dibilang agak baru karena mulai aktif menulis pada akhir 1990-an. Sedang Chye Retti Isnendes, seorang penyair dan cerpenis berbahasa Sunda yang sangat berbakat, dalam antologi ini hanya menampilkan cerpen-cerpennya.


Dari jam terbang yang lumayan ini nampak bahwa persoalan teknis sudah bukan persoalan utama mereka lagi. Puisi-puisi mereka yang disunting Soni Farid Maulana untuk antologi ini umumnya lancar, jelas apa yang ingin diungkapkan dan tahu bagaimana cara mengungkapkannya. Tetet Cahyati, Heni Hendrayani, Nuning Damayanti dan Shinta Kusumawati banyak berbicara tentang perasaan wanita dalam hubungannya dengan alam, lingkungan dan kasih sayang. Puisi-puisi mereka liris dan bening, menggunakan metafor-metafor alam yang menyaran. Atau metafor dari benda-benda yang akrab dalam keseharian. Simak puisi Heni Hendrayani berjudul “Surat” yang bercerita tentang kesepian seorang istri yang ditinggal pergi suami:


Sedingin kamar dengan kapur

Melepuh. Sedingin ranjang yang kau

Tinggal pergi ke negeri jauh, dan aku

Terbaring di situ dijaring kesepian

Dan kesunyian bagai sebutir batu


Ungkapan senada dengan metafor yang lebih kental unsur alamnya nampak pada puisi “Setelah Hujan”, “Catatan Luka”, “Bulan Kemarau”, “Sepanjang Masa” dan “Cahaya Jiwa” karya Tetet Cahyati. Dalam puisi-puisi pendeknya ini Tetet bagaikan seorang pelukis cat air yang menggambarkan perasaan terdalamnya dengan goresan yang hemat namun tepat. Tetet banyak berpuisi tentang cinta, kerinduan dan harapan, yang menurutnya harus dimiliki oleh seorang manusia, meski dalam kondisi apapun:


Masih tersisa pada denyut nadi

Sekeping semangat yang terus berjalan

Dan tak boleh pudar


Pada puisi-puisi Nuning Damayanti dan Shanti Kusumawati perasaan-perasaan serupa diungkapkan dengan bait yang agak panjang dan kalimat-kalimat yang melebar seperti nampak pada “Aku Dan Burung Dara”, “Sabtu Malam Di Roppongi”, “Mimpi Pulang” dan “Duh Gusti” karya Nuning, juga pada “Pintu Mati”, “Nyanyian Ibu” dan “Belitung Delapan” karya Shinta. Pada puisi-puisi Nuning, nampak penyair tidak hanya menggunakan metafor alam seperti angin, daun atau burung namun juga menggambarkan sejumlah tempat di luar negeri untuk menegaskan perasaan kesepiannya. Kota, trotoar, menara, besi tua, tembok, lampu-lampu menjadi penegasan tentang keterasingan dirinya. Begitu juga upaya yang dilakukan Shinta Kusumawati untuk menggaris-bawahi perasaannya dengan menggunakan metafor benda-benda seperti pintu dan kalender, yang menyaran pada waktu dan kematian. Pada kefanaan manusia.


Dalam kesusastraan Indonesia modern penyair-penyair wanita memang tak sebanyak penyair lelaki. Perasaan wanita yang jalinannya begitu rumit dan sensitif sebenarnya bisa menghasilkan puisi yang dahsyat, namun nyatanya sastrawan wanita lebih banyak memilih prosa ketimbang puisi. Di bidang puisi kita mengenal St. Nuraini, Tuty Herati, Isma Sawitri, Dorothea Rosa Herliany dan Oka Rusmini yang hampir semuanya mengungkapkan hubungan-hubungan yang sangat rumit tentang perasaan, yang saking rumitnya mereka harus menciptakan ungkapan-ungkapan dan metafor-metafor yang terasa subyektif.


Metafor-metafor yang subyektif seperti itu juga nampak pada beberapa penyair wanita dalam antologi ini, mereka adalah Nenden Lilis Aisyah, Eriyanti Nurmala Dewi, Katherina, Nina Minareli dan Ratna Ayu Budhiarti. Jika Heni, Tetet, Nuning dan Shinta ungkapan maupun metafornya mudah diurai, maka empat penyair terakhir ini sedikit lebih sulit. Namun kesulitan mengurai ungkapan dan metafor mereka tidak mengarah pada kegelapan, tapi lebih pada keketatan pilihan kata. Puisi-puisi mereka tidak terlalu transfaran, namun sedikit berselimut kabut.


Nenden dengan puisinya “Pengintai”, yang dari bentuknya sangat sederhana namun menyimpan kedalaman perasaan. Nampaknya penyair ingin bercerita tentang hubungan manusia yang didasari kecurigan sehingga saling mengintai satu sama lain. Hubungan yang tidak alamiah ini akan berdasar pada hubungan kepentingan, yang pada ujungnya adalah saling curiga: Namun, si ringkih yang tergopoh dari pintu/ dengan gumaman kacau dan hujan anyir dari mulutnya/kerap nengusirku, menyuruh kembali ke ujung. Nada yang sama namun dengan wilayah yang lebih luas dari sekedar hubungan antar manusia nampak pada puisinya “Que Sera Sera”, Menuju Negeri Dingin” dan “Di Jembatan Merabeau”. Tiga puisi terakhir ini bukan sekedar catatan perjalanan yang lanskapis. Ada semacam renungan sublim di dalamnya, semacam refleksi di antara ruang dan waktu yang berbeda.


Eriyanti Nurmala Dewi tampil dengan puisi-puisi cinta dan kepeduliannya pada nasib wanita. Namun saya lebih tertarik dengan puisi-puisi cintanya yang ditunjukan pada lawan jenis seperti “Percakapan”, “Monolog” dan “Tembang Cinta” ketimbang puisi-puisi gendernya. Eriyanti yang sudah menulis sejak dekade 1980-an tentu mempunyai keterampilan dalam mengolah perasaan dan pikiran dalam wujud kata-kata. Puisi-puisi cintanya, terutama yang berjudul “Percakapan” dan “Monolog” terasa segar karena berhasil memadukan bentuk gumam dan percakapan. Bahasanya lincah, dengan metafor-metafor yang sensual dan menggoda. Terasa adanya keseimbangan antara gairah yang menggebu dan kesadaran mengontrol diri. Sementara dalam puisi “Tembang Cinta” yang cenderung lugas dan ekspresif, kata-kata yang digunakannya masih tetap terjaga:


puisi terpanjang adalah kau

mimpi terpanjang adalah kau

kau berkelindan dengan dukaku

perapian yang menghangatkan kenyataan


Katherina yang jam terbangnya hampir sama dengan Eriyanti menampilkan metafor-metafor yang juga menggoda. Ada aroma kekerasan dalam puisi-puisinya meskipun tetap yang diungkapkannya adalah perasaan seorang wanita. Hal demikian nampak pada puisi-puisinya yang berjudul “Biografi Sebuah Pisau”, “Gerimis Di Antara Padi-padi” dan “Gelembung Sabun”. Bentuk puisi Katherina sebenarnya sederhana dan ungkapan-ungkapannya pun transparan, namun ia mencoba memberikan kesan maskulin dengan menggunakan pisau, keris, jarum, peluru dan kawat berduri sebagai metafor. Dalam beberapa hal puisi-puisi Katherina ini mengingatkan kita pada Dorothea Rosa Herliany meski bentuknya berbeda. Katherina banyak menggambarkan perasaannya tentang hal-hal yang di luar dirinya, dan Dorothea sebaliknya.


Nina Minareli tergolong pendatang baru yang cukup produktif dalam menulis puisi. Nampaknya penyair ini seorang yang gelisah dan kegelisahannya sangat terasa pada pilihan-pilihan metafornya yang cenderung subyektif. Membaca puisi-puisi Nina seperti memasuki lorong dan kita dipaksa untuk sama-sama mencari cahaya. Nada puisinya seperti menekan, dengan kalimat-kalimat panjangnya yang memberat. Puisi-puisi seperti ini membutuhkan keterampilan berbahasa yang baik, jika kurang hati-hati akan mudah sekali tergelincir pada ungkapan yang gelap.


Puisi “Langit Malam” misalnya, pada awalnya sangat menggoda karena metafor-metafornya yang liar terasa segar dan mengejutkan. Namun jika membacanya lebih teliti kita akan ketemu juga dengan pilihan-pilihan kata yang kurang mendukung satu sama lain, bahkan saling mematahkan. Sedang dalam puisinya yang berjudul “Aku Ingin Bertanya”, “Air”, “Sendiri” dan “Sebuah Catatan” nampak Nina lebih terjaga dalam mengendalikan kata-katanya yang mengalir deras seperti air. Kita cuplik bagian akhir dari “Aku Ingin Bertanya”:


Tapi aku ingin bertanya lagi

Saat aku melukismu di bumi

Yang lain, memagari purnama

Dengan warna tembaga keyakinan

Pada dinding tua yang bisu

Aku terkurung dalam sekarat

Memujamu, saat kudengar suaramu

Seperti saat kudengar syair-syair

Kudusmu mengalir bersama ciuman

Di depan halaman rumahmu yang kekal


Pendatang baru yang lain adalah Ratna Ayu Budhiarti. Penyair rupawan yang dikagumi Soni Farid Maulana dan Godi Suwarna ini puisi-puisinya cukup segar dan menjanjikan. Ayu mengungkapkan perasaannya dengan santai dan jujur, kadang dalam beberapa hal terkesan sensual dan berani. Ayu memadukan antara narasi, celoteh dan gumam dengan menggunakan simbol-simbol yang akrab dalam kesehariannya. Surat, sepatu kets, odol, sikat gigi, celana dalam, cincin, pot, juga istilah-istilah dari dunia pertanian dan kedokteran mewarnai puisi-puisinya. Ayu banyak mengambil ide dari novel dan film yang kemudian diramunya dengan pengalaman pribadi. Ayu tidak menyembunyikan kemudaan usia dan gaya remajanya yang ceria.


Seperti halnya Nina, puisi-puisi Ayu sangat ekspresif dan spontan, namun terkesan agak tergesa-gesa. Di antara ungkapan-ungkapannya yang menarik, masih terselip satu dua kata yang mengganggu. Jika lebih didalami dengan terus melakukan pertimbangan dan perhitungan yang keras terhadap pilihan kata, mungkin hasilnya akan lebih menggetarkan dan tidak hanya sekedar ungkapan perasaan belaka:


Sayang,

hari ini tak ada cerita menarik

kemarin karibku kawin dan

sebentar lagi nganggur

(ah, tidak! Mungkin minggu depan

ada jatah sisa tukang sulap)

bagaimana taman bungamu, masih

penuh mawar berduri atau kau ganti

jadi kebun jagung?


Para penyair wanita ini dengan berbagai kelebihan dan kekurangan telah menunjukan kehadirannya di hadapan kita. Dengan caranya masing-masing karya-karya mereka juga berusaha menggoda kita. Tapi apakah kita tergoda? Dalam beberapa hal saya cukup tergoda karena sejumlah puisi yang ditulis mereka selain menunjukkan penguasaan bahasa yang baik, dalam arti dengan bersih dan jernih mengungkapkan perasaan dan pikiran lewat metafor-metafor yang telah diakrabinya, juga dalam beberapa hal mereka telah menunjukan kesegaran ungkapan di samping tetap menyiratkan makna.


Tapi apakah kita tergetar membaca puisi-puisi dalam antologi Bunga Yang Berserak ini? Antara tergetar dan tergoda jelas ada bedanya. Tergoda adalah langkah awal ketertarikan kita, sedang tergetar adalah keterlibatan kita di dalamnya. Saya sudah tergoda tapi belum cukup tergetar. Banyak puisi yang potensial untuk bisa menggetarkan pembaca, namun masih dibutuhkan kesabaran untuk menuntaskannya. Puisi-puisi potensial tersebut sepertinya belum selesai, di sana-sini masih ada sesuatu yang mengganjal. Entah apa.

(2003)


Prev Next Next