Artikel 32

NYANYIAN DARI DUNIA KETIGA

Acep Zamzam Noor


SEBAGAI negara-negara yang termasuk dunia ketiga, kawasan Afrika telah banyak melahirkan sastrawan yang lebih dikenal dunia. Nama-nama seperti Leopold Sedar Senghor, Chinua Achebe atau Tchicya U. Tam’si sudah lebih dulu terlibat dalam perbincangan kesusastraan dunia, dibanding dengan sastrawan-sastrawan dari kawasan Asia, umpamanya. Salah satu hal yang membuat mereka lebih cepat mengorbit terutama disebabkan karena mereka menulis dalam bahasa Inggris, bahasa dari negara yang begitu lama menjajah mereka. Dari satu sisi tentu saja hal ini menguntungkan. Karya-karya mereka begitu cepat terorbit, apalagi karya-karya sastra modern mereka yang begitu dipengaruhi pandangan Barat sangat menarik perhatian para peneliti dan intelektual Barat.

Tapi di pihak lain, banyak kritikus dan pengamat sastra menilai apa yang dilakukan oleh sastrawan-sastrawan Afrika yang menggunakan bahasa bekas penjajah sangat merugikan kebudayaan mereka sendiri. Kritikus G.A. Heron misalnya, ia memandang bahwa apa yang dilakukan oleh sastrawan-sastrawan Afrika yang ingin mengungkapkan berbagai masalah negerinya dengan memakai alat dari luar cukup berbahaya. Menurutnya, jika seorang meminjam bahasa berarti juga meminjam berbagai hal asing lainnya yang terkandung dalam bahasa itu. Padahal, setiap bahasa memiliki seperangkat citraan tersendiri yang menggambarkan sikap tertentu terhadap segala sesuatu. Selain itu setiap bahasa mempunyai bentuk-bentuk sastra yang khas dan tak bisa diungkapkan dengan bahasa lain. Dan kenyataan ini nampaknya kurang disadari oleh sastrawan-sastrawan Afrika dari angkatan awal.

Dalam perkembangannya kesusastraan Afrika memang terjadi perubahan. Beberapa sastrawan yang lebih muda menyadari bahwa karya-karya sastra negerinya lebih dekat pada kesusastraan Barat dibanding kesusastraan tradisional Afrika. Di antara sastrawan yang menyadari kondisi ini adalah Okot p’Bitek, seorang penyair dari Uganda, yang begitu sungguh-sungguh menggali kekayaan Afrika lewat citraan, kiasan, perlambangan serta suasana yang berdasarkan tradisi leluhurnya. Karya Okot bahkan telah memaksa para pengamat Barat untuk menengok sastra lisan Acoli, salah satu kelompok etnis di Uganda.

Okot p’Bitek dilahirkan di Gulu, bagian Utara Uganda, pada tahun 1931. Berpendidikan sekolah guru dan kemudian mengajar agama dan bahasa di kota kelahirannya. Kegemarannya pada kesusastraan sama besar dengan minatnya pada olah raga sepakbola. Bahkan sepakbolalah yang kemudian mengubah arah hidupnya, sebagai pemain dari kesebelasan nasional Okot sempat berkeliling ke berbagai daerah di Uganda dan mengenal kekayaan tradisi negerinya -- yang ternyata menjadi pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi karir kepenyairannya kelak. Sebagai pemain sepakbola Okot pun banyak melawat ke luar negeri, dan sehabis bertanding di Inggris ia berkesempatan belajar hukum di Universitas Bristol serta antropologi sosial di Universitas Oxford.

Pada masa studinya perhatian Okot pada tradisi leluhurnya semakin tumbuh dengan kecintaan yang mendalam. Dia kemudian melepaskan agama Kristen dan mengubah perhatiannya dari studi mengenai peradaban Barat ke telaah tradisi bangsanya sendiri. Karya-karya Okot dengan sendirinya mencerminkan sikap ini. Dia membela Afrika yang sering dianggap biadab, liar dan primitif lewat sajak-sajaknya dalam bahasa Acoli. Dia pun menyusun nyanyian-nyanyian rakyat dan kisah-kisah tradisional Afrika, di samping menulis esei-esei yang mengungkapkan pandangannya bahwa negeri-negeri di Afrika harus dibangun berlandaskan tradisi Afrika sendiri dan bukan peradaban Barat.

Di antara buku-bukunya yang sudah terbit adalah Afrika’s Cultural Revolusion (1975), The Horn Of My Love (1974), Here And Hornbill (1978) dan yang paling terkenal Song Of Lawino (1966) serta Song Of Ocol (1967) yang telah diterjemahkan Sapardi Djoko Damono menjadi satu buku yang berjudul Afrika Yang Resah (1988). Dua puisi panjang ini dengan gamblang berbicara tentang modernisasi dan dampaknya di Afrika lewat dua sudut pandang yang berbeda. Lawino mewakili pandangan Afrika yang tradisional, sedangkan suaminya Ocol, mewakili pandangan dan sikap orang Barat. Dua puisi panjang yang mengingatkan kita pada Pengakuan Pariyem Linus Suryadi AG ini menjadi menarik untuk direnungkan karena mempunyai relevansi permasalahan dengan kita di sini, meskipun situasinya amat berbeda.

***

Okot p’Bitek menulis Nyanyian Lawino di tengah-tengah kesibukannya menyiapkan Festival Gulu, di mana dia begitu banyak berhubungan dengan orang-orang dari berbagai tradisi yang ada di negerinya. Maka dalam sajak ini terasa sekali intensitas pergumulan Okot dengan permasalahan yang dihadapi saudara-saudaranya. Okot bukan hanya merekam, tapi juga melibatkan diri dalam masalah ini. Dia sengaja mengambil bentuk ungkapan seperti nyanyian yang bertutur.

Lewat tokoh Lawino, seorang wanita dusun Afrika, Okot berbicara tentang banyak hal yang berintikan pergolakan sosial-budaya di negara yang sedang berkembang, khususnya Afrika. Lawino adalah seorang wanita dusun yang sangat mencintai tradisi negerinya dan menolak perubahan-perubahan yang dilakukan kaum penjajah dari Barat. Bagi sang penyair, Lawino bukanlah sekedar tokoh ciptaan, tapi juga alat untuk menyuarakan Afrika yang asli. Dia berhadapan dengan Ocol, suaminya yang telah kena pengaruh kaum penjajah. Dengarkan bagaimana Lawino berkata pada suaminya:

Suamiku, kini kau meremehkanku
Kini kau kasar padaku
Kau bilang aku mewarisi kebodohan bibiku,
Putra Pak Kepala,
Kini kau bandingkan aku dengan sampah
Di lobang sampah,
Kau bilang kau tak lagi membutuhkan aku
Sebab aku barang buangan
Di pekarangan yang ditinggalkan
………

Kau bilang aku tak kenal aksara “A”
Sebab aku tak pernah sekolah
Dan tak pernah dibaptis

Atau dengarkan bagaimana Lawino melukiskan perilaku suaminya:

Ia bilang ibuku tukang tenung
Ia bilang kaumku dungu
Lantaran suka makan tikus
Ia bilang kami ini penyembah berhala
Kami tak kenal jalan Tuhan
Dan tak kenal Injil
Ia bilang ibuku menyimpan jimat
Dan ia bilang kami semua tukang tenung

Kemarahan Lawino sebagai istri yang diperlakukan kasar oleh suaminya sesungguhnya merupakan metafor rakyat Afrika terhadap kaum penjajah atau orang-orang Afrika yang bertindak tanduk sebagai orang Barat. Dalam bait-bait yang lain Lawino pun tak kalah sinisnya mengejek Ocol sebagai orang Afrika yang tak tahu diri, yang begitu terkagum-kagum pada kebudayaan asing yang menista bangsa sendiri. Dalam puisi panjang ini dikisahkan Ocol mengambil wanita Afrika lain yang berpandangan modern sebagai istri barunya untuk menggantikan Lawino. Kita simak bagaimana Lawino memandang Clementine, wanita yang menjadi madunya itu:

Aku tak suka melumuri wajahku dengan bedak,
Itu hanya cocok untuk kulit merah jambu
Sebab memang sudah tampak pucat,
Tapi kalau wanita hitam memakainya
Ia seperti kena disentri;
Si Tina kelihatan sakit-sakitan
Dan geraknya lamban
Kasihan sekali tampaknya!

Kemudian Lawino banyak mengungkapkan ketidakmengertiannya terhadap sikap dan adat-istiadat orang Barat. Dengan gigih ia membela semua warisan nenek-moyangnya yang selama ini dianggap primitif oleh suaminya. Lawino tak mengerti mengapa banyak orang Afrika mengambil kebudayaan Barat sebagai miliknya. Tentang waktu umpamanya, Lawino sungguh tak mengerti bagaimana waktu dipecah-pecah menjadi detik, menit, jam atau hari. Bagi orang Afrika yang akrab dengan alam terbuka waktu tidak terbatas, dan manusia tak perlu diperbudak waktu. Tidur, makan atau bekerja boleh kapan saja. Sedangkan bagi Ocol, menyusui pun harus ada jadwalnya. Semua harus tertib dan teratur.

Dengan Nyanyian Lawino ini, Okot p’Bitek pun mempersoalkan agama (Kristen) dengan segala ritualnya, yang dalam pandangan Lawino tak lebih dari urusan tenung dan takhyul. Lawino juga bukanlah wanita dusun yang bodoh, sebab ia juga mempersoalkan politik dan para pemimpinnya yang hanya sibuk berebut kedudukan. Pada bagian akhir nyanyiannya, Lawino berusaha menyadarkan suaminya yang telah tersesat dan murtad untuk kembali mencintai tradisi, kembali menjadi diri sendiri. Nampaklah di sini misi yang diemban Okot lewat puisi ini, yakni menghidupkan kembali semangat Afrika yang kaya akan tradisi dan nilai budaya.

***

Lewat kesaksian dan pengakuan Lawino, penyair besar Uganda ini hanya mempersoalkan Afrika sebagai negara yang sedang bergejolak dalam pertarungan nilai-nilai dari satu sisi, yakni dari sudut pandang orang Afrika yang mengagungkan tradisi nenek-moyangnya, yang ternyata dalam pandangan obyektif tidak selalu berarti positif. Sebagai intelektual yang dididik sejak kecil dalam lingkungan Barat dan kemudian jatuh cinta pada tradisi negerinya, Okot p’Bitek merasa perlu mempersoalkan Afrika dari sisi lain, yakni dari sudut pandang Barat lewat tokoh Ocol yang dalam pandangan obyektif juga tidak selalu berarti negatif. Sebagai jawaban atau tandingan, Nyanyian Ocol ditulis setelah Nyanyian Lawino mendapat sambutan hangat di mana-mana. Tidak seperti sajaknya yang pertama, Nyanyian Ocol ini ditulis langsung dalam bahasa Inggris serta dengan proses penciptaan yang berbeda suasananya dibanding dengan saat menulis Nyanyian Lawino.

Dalam jawabannya Ocol tak kalah sinis dan pedas menghantam Lawino, yang juga umumnya orang Afrika, sebagai sampah yang harus segera ditinggalkan. Suara Ocol terdengar amat sombong dengan keangkuhannya sebagai manusia modern yang melecehkan nilai-nilai tradisional yang sudah ketinggalan zaman. Kita simak bagaimana Ocol memandang negerinya dengan sinis:

Apakah Afrika
Bagiku?
Kegelapan
Kegelapan yang dalam
Dalam tak terkirakan
Afrika
Raksasa malas
Berjemur diri di mentari
Tidur, ngorok
Berkedut dalam mimpi

Berbeda dengan Lawino seorang wanita dusun tanpa pendidikan, maka Ocol adalah tokoh intelektual, pemimpin politik yang ingin merubah Afrika setuntas-tuntasnya. Ocol menghina istrinya yang dianggap kuno, mengusirnya dan memimpikan sebuah dunia baru. Ocol persetan dengan tradisi dan nilai-nilai luhur nenek-moyang, muak dengan sikap hidup orang-orang Afrika yang penuh takhyul. Dia menginginkan Afrika yang benar-benar baru dengan berlandaskan peradaban Barat dan mengubur Afrika lama sedalam-dalamnya.

Pertentangan Lawino dan Ocol adalah pertentangan khas negara-negara yang sedang berkembang. Lewat kedua puisi panjangnya ini Okot p’Bitek memberikan kesaksian bagi negerinya yang baru saja lepas dari cengkraman kekuasaan Barat dan berada pada masa transisi yang sulit. Banyak persoalan penting dan mendasar yang terungkap dengan sangat tajam dalam kedua puisi ini, yang juga mempunyai relavansi dengan negara-negara dunia ketiga lainnya. Modernisasi yang digalakkan di satu pihak untuk mengejar ketinggalan sering menuntut pengorbanan yang tidak sedikit pada pihak lain. Tapi lebih dari semua itu, kedua puisi yang sarat dengan pesan dan bahkan bernada propaganda di sana-sini tidak jatuh menjadi slogan yang murahan. Okot cukup pekat mengungkapkan permasalahan negerinya dalam kapasitasnya sebagai sastrawan. Artinya, dia begitu sadar sedang menulis puisi meskipun begitu banyak masalah yang ingin disampaikan. Dia tidak memperalat sastra untuk menyampaikan gagasan-gagasannya atau sebaliknya.

Dalam kedua puisi ini kita banyak menemukan metafor-metafor khas Afrika yang sesungguhnya agak asing bagi kita, tapi masih bisa kita nikmati sebagai pengalaman baru. Gayanya yang lugas, jernih dengan penggunaan bahasa grafis yang benderang, Okot telah memberikan warna lain pada dunia kesusastraan yang digali dari tradisi kesenian negerinya.

Benar sekali apa yang disampaikan Mochtar Lubis dalam prakatanya, bahwa sastra bukanlah tulisan sejarah dan tidak dapat digunakan sebagai sumber penulisan sejarah. Akan tetapi sastrawan yang baik akan selalu berhasil melukiskan dan mencerminkan zaman serta masyarakatnya. Sastrawan yang baik akan dapat menampilkan pengalaman manusia dalam kondisi dan situasi yang berlaku pada masyarakatnya. Dan jika demikian persoalannya, maka puisi penyair Uganda ini adalah salah satu contoh dari karya sastra yang baik itu, mencerminkan zaman dan masyarakatnya tanpa kehilangan pesona estetik sebagai karya seni.

(1989)
Prev Next Next