(44) - Artikel Sastra


LOKALITAS, LOKALISASI, INTERLOKAL

Acep Zamzam Noor


LOKALITAS dalam perpuisian modern Indonesia tak bisa dipisahkan dari sejarah dan perkembangan wacana kebudayaan, sejak pasca Soempah Pemuda 1928 yang disusul dengan  Polemik Kebudayaan di tahun 1930-an. Wacana perkembangan tentu saja tak bisa dilepaskan hubungannya dari awal lahirnya kesadaran nasionalisme di Indonesia. Sebuah nasionalisme yang melahirkan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, bahasa pemersatu, sekaligus yang juga menjadi ekspresi dalam pengucapan karya sastra, beranjak meninggalkan berbagai bahasa lokal yang ada. 
Perpuisian Indonesia periode 1945 berangkat dengan semangat menggebu untuk mengembara ke berbagai pelosok yang dijanjikan oleh modernitas. Dan itu artinya adalah berangkat dengan orientasi budaya yang lebih luas dari hanya sekadar ranah tradisi dan lokalitas. Tradisi dan lokalitas pun tidak lagi menjadi satu-satunya alat untuk menjelaskan identitas sebagai bangsa Indonesia sebagaimana Chairil Anwar, Asrun Sani, dan Rivai Apin, sebagaimana ketiganya mengumumkannya dalam Surat Kepercayaan Gelanggang: Kami adalah pewaris sah kebudayaan dunia. Dan kebudayaan dunia yang dimaksud adalah Barat.
Terutama pada puisi-puisi Asrul Sani kita bisa merasakan dengan jelas orientasi budaya yang dianut. Metafor laut yang banyak muncul dalam sejumlah puisinya menjadi pelukisan semangat mereka, sebagaimana juga ia menolak tradisi dan lokalitas seperti terungkap dalam puisinya “Orang Gunung”. Demikian pula dengan Chairil yang banyak mengeksplorasi kesadaran ihwal individu sebagai subyek otonom seperti yang diajarkan oleh modernisme.
Tapi periode tahun 1950 kita melihat perkembangan yang berbeda. Pada periode ini perpuisian Indonesia kembali meletakkan orientasi budayanya pada tradisi dan lokalitas. Mereka bukan lagi pelanjut generasi 1945 yang melihat ke Barat. Barat bagi mereka bukan lagi harus menjadi sebuah orientasi budaya. Para penyair dalam periode ini kembali mengolah akar tradisi dan lokalitas mereka. Dengan mudah kita menyebut  Rendra yang mengambil dolanan anak-anak sebagai inspirasi dalam Balada Orang-orang Tercinta, demikian juga Soebagio Sastrowardoyo dengan puisi-puisi liris-simbolisnya yang banyak mengambil kisah pewayangan dalam Daerah Perbatasan maupun Keroncong Motinggo, atau Ramadhan KH dalam Priangan Si Jelita yang mengadopsi gaya pengucapan pantun Sunda, atau Ajip Rosidi dalam Cari Muatan yang memuat puisi epik “Jante Arkidam”, yang konon mengambil spirit dari guguritan Haji Hasan Mustapa. Dalam kaitan ini sejumlah nama yang muncul pada dekade 1970-an bisa disebut, yang paling penting tentu saja Sutardji Calzoum Bachri yang puisi-puisinya bertolak dari mantra. Lalu ada Hamid Jabbar yang berangkat dari kaba Minangkabau, ada L.K. Ara menggali tradisi didong di Aceh, terus I Gusti Putu Bawa Samar Gantang dari Bali, Linus Suryadi AG dari Jawa, Taufik Ikram Jamil dari Riau, Iverdixon Tinungki dari Manado dan masih banyak lagi.
Lokalitas dalam perpusian Indonesia sebenarnya berada di antara dua hal, apakah lokalitas itu hadir sebagai bentuk pengucapan yang disadari atau muncul dari alam bawah sadarnya sendiri? Lokalitas secara bentuk umumnya merupakan upaya penyair untuk mengolah kembali pengucapan estetika perpusian yang sudah ada dan memberinya tenaga baru. Chairil Anwar dan Sitor Situmorang adalah contoh menarik untuk hal ini. Meski puisi keduanya membawa kesadaran tentang vitalisme dan eksistensialisme, tapi secara puitik, bentuk dan struktur pengucapan puisi mereka masih menggunakan pola perpusian lama, yakni pantun. Puisi-puisi mereka yang kosmopolitan masih terasa belum bisa melepaskan diri dari gaya perpuisian yang sudah menjadi tradisi sebelumnya. Contoh lain adalah Goenawan Mohamad, meskipun sudah mengembara ke mana-mana namun ia tidak pernah lepas dari idiom-idiom pewayangan yang memang diakrabinya sejak masa kecil. Idiom-idiom tersebut kerap muncul secara langsung maupun tidak langsung, termasuk dalam puisi-puisinya yang paling mutakhir.

***

D. Zawawi Imron termasuk nama penting dalam kaitannya dengan masalah lokalitas. Zawawi menarik perhatian karena sejak awal lokalitas sudah tumbuh dalam dirinya dan mewujud secara utuh pada puisi-puisinya. Baginya lokalitas bukan sesuatu yang harus dicari atau ditelusuri akar maupun sumbernya, sebab lokalitas tersebut sudah berada dalam dirinya sendiri. Antara penyair dan lokalitas tidak ada jarak. Dan jika kita mengamati penyair yang satu ini, maka bukan hanya akan menemukan tubuh, wajah, senyum atau logat bicaranya saja yang lokal, namun cara berpikir, pola berlogika serta gaya berungkapnya pun terasa sangat lokal. Begitu juga joke-jokenya yang segar. Lokalitas hadir bukan sekedar bentuk namun sekaligus ekspresi alam bawah sadarnya. Dengan demikian puisi-puisinya yang cenderung spontan menjadi unik, menjadi otentik. Begitu juga dengan imaji-imajinya yang terkadang polos namun sering mengagetkan pembaca. Sebuah puisi dari awal kepenyairannya yang berjudul “Pesan” kita kutip penggalannya di sini:

kalau aku datang malam
sambutlah aku
dengan buah siwalan muda
yang putih

kudamba minum
seteguk nira
yang bening
yang menetes
dari matamu

            D. Zawawi Imron mengaku kepenyairannya banyak dibimbing oleh lagu-lagu dolanan Madura yang biasa dinyanyikan gadis-gadis di ladang, oleh siul pemuda-pemuda yang sedang menggembala atau memanjat pohon di tepi hutan, oleh bunyi saronen yang mengiringi karapan sapi, oleh keindahan alam yang sering membuatnya merenung serta kehidupan sederhana orang-orang desa. Zawawi pada puisi-puisi awalnya banyak sekali  menyebut siwalan,  polai, nira, lahang, mayang, sumur, kendi, lokan, garam, ombak dan laut. Ia juga dengan penuh gairah mengabsen nama-nama kampung, desa atau pantai yang ada di sekitar tempat tinggalnya. Selain itu, tentu saja ia tak lupa menyebut celurit yang merupakan senjata kebanggaan orang Madura. Dan semuanya merupakan lokalitas yang berada dan hidup dalam diri maupun puisi-puisinya.
            Zawawi pada tahun 1986 berkesempatan mengunjungi Makassar. Konon setelah cukup lama tidak menulis puisi, kunjungan tersebut memicu gairah dan kreativitasnya berkobar kembali. Hanya dalam waktu sekitar 20 hari, puluhan puisi berhasil ditulisnya. Banyak hal yang diamatinya di sana, baik yang berkenaan dengan alam seperti bukit, pantai atau sungai. Hal-hal yang berkaitan dengan sejarah serta kepahlawanan pun banyak ditulisnya. Juga hubungan budaya antara Madura dan Makassar yang sudah berlangsung sejak berabad lalu. Yang menarik dari puisi-puisinya ini, terutama karena aroma Madura sebagai lokalitas yang dimilikinya masih terasa kental. Zawawi tidak pernah meninggalkan lokalitasnya, tidak pernah kehilangan kemaduraannya. Ia menyebut badik sama fasihnya dengan menyebut celurit, memanggil pantai Losari sama akrabnya dengan memanggil pantai Dinari, menyapa Bantimurung sama mesranya dengan menyapa Batang-batang. Puisi-puisi yang merekam pengembaraannya selama 20 hari di Makassar tersebut kemudian diterbitkan dengan judul Berlayar di Pamor Badik.
Begitu juga ketika ia mengunjungi Negeri Belanda pada tahun 2003, seratus puisi yang ditulisnya secara spontan di sana masih tetap khas Zawawi, yang imaji-imajinya terkadang polos namun enak dibaca. ”Kalau puisi-puisi saya yang berlatar Negeri Belanda dianggap para pengamat tak sebagus puisi-puisi saya terdahulu, saya malah merasa gembira. Sebab dengan begitu saya lebih cocok menjadi orang Madura ketimbang menjadi orang Belanda,” begitu kelakarnya sekali waktu.

***

            Masih sekitar masalah lokalitas, ada baiknya kita menengok sejenak pada Ahmad Syubbanuddin Alwy. Seperti halnya D. Zawawi Imron, penyair kelahiran pesisir Cirebon ini adalah jebolan pondok pesantren yang kemudian memilih tinggal di tanah kelahirannya. Seperti halnya Zawawi Imron, penyair ini pun mempunyai perhatian yang cukup serius terhadap lokalitas. Banyak puisi yang mengangkat tanah kelahirannya sebagai tema sentral, baik yang berkaitan dengan sejarah, legenda, mitos, tradisi bahkan kondisi sosial dan politik. Seperti halnya Zawawi, pergulatannya dengan lokalitas terbilang intens dan khusyuk, bahkan saking intens dan khusyuknya sebagian puisinya ditulis langsung dalam bahasa lokal, yakni bahasa Cirebon itu sendiri. Dan terakhir, seperti halnya Zawawi, penyair yang juga seorang aktivis pergerakan ini sangat pandai melucu.
            Meskipun keduanya mempunyai banyak persamaannya, namun dalam hal proses kreatif Syubbanuddin Alwy mempunyai pandangan serta pendekatan yang berbeda terhadap lokalitas. Dengan sangat sadar penyair ini  mengambil jarak yang tegas dan memilih posisi bagi sudut pandang kepenyairannya. Alwy tidak larut apalagi menjadi bagian yang pasif dari lokalitas tersebut. Dengan strategi  ini, dengan jarak yang terus dipeliharanya dari waktu ke waktu, ia mempunyai ruang untuk memandang lokalitas dengan cermat dan kritis. Tidak hanya mengagumi kejayaan masa lalu namun juga turut prihatin dengan kenyataan yang mengiringinya kini. Dengan demikian Cirebon sebagai lokalitas menjadi sebuah obyek sekaligus subyek yang menantang, yang kemudian menjadi tema sentral yang terus-menerus digelutinya.
Kita kutip penggalan dari ”Fantasia Cirebon” yang ditulisnya pada tahun 1993:

Di sela-sela jendela super-market itu –
jalanan gemuruh, matahari bercampur debu
kesunyian dan gema adzan menyayat sayup-sayup
menggoreskan nyeri keharuan demi keharuan
aku daki kubah syahadatmu dari tangga elevator
dan kemiskinan melambai-lambai, menghanyutkan langkahku
ke segenap taman impian yang beracun
mungkin dengan luka, airmata, dan desir kebimbangan
irisan-irisan hatiku akan menampung lautan bara
dari dinding kemanusiaanku yang menyala
......

            Sikap kritis juga ditunjukan oleh puisi-puisi Syubbanuddin Alwy yang lain, yang mempertanyakan kembali berbagai mitos dan legenda, bahkan lewat puisi-puisinya yang berbahasa lokal dengan leluasa ia melancarkan gugatan ke segala penjuru lewat ungkapan lugas dan keras. Untuk menumbuhkan sikap kritis tersebut ia bukan hanya menyelami berbagai literatur yang berkaitan dengan sejarah dan budaya Cirebon, namun  terjun langsung melakukan riset ke berbagai situs, masjid, makam serta goa keramat. Ia melakukan riset ke dalam lokalitasnya sendiri, mengembara ke dalam ruang batinnya sendiri. Dengan sadar ia menyusuri akarnya kembali, menggali sumbernya lagi. Hasilnya, selain sejumlah puisi lepas yang berkaitan dengan Cirebon, ia pun mendapat gagasan besar untuk menuliskan sejarah tanah kelahirannya tersebut dalam sebuah puisi panjang berbentuk epik yang diberinya judul ”Cirebon, 630 Tahun Kemudian...”. Ada baiknya kita kutip terlebih dahulu penggalan dari salah satu baitnya:

Di tengah sayatan suluk dangdanggula yang bergetar, dukamu berlayar
ribuan kelelawar terbang dari remang keraton, udara gusar, pecahan marmar
alun-alun merah kesumba membelit langit bagai ular, meniti gulungan primbon
keramik guci, bongkahan terasi, sumur tujuh, dan rusuh babad tanah Cerbon
menghunjam di pematang cakrawala, menuruni aras tangga-tangga pendakian
lima abad silam: khutbah, jubah dan terompah sunan, terlepas dari gurat waktu
gugusan lapis pualam, uang logam, kelir hitam dan riang selendang ratu
menjemputku di riuh subuh, menari serimpi, mengusir arwah peri
dengan sekerat jimat, gema shalawat yang telah melampaui pusaran bumi
......

            Puisi panjang tersebut mulai ditulis pada tahun 2000 dan sampai hari ini baru selesai satu episode dari seratus episode yang direncanakannya. Episode pertama yang berjudul ”Pohon-pohon Api” terdiri dari belasan halaman polio dengan 24 buah catatan kaki. Episode pertama nampaknya masih berupa pengantar yang mendeskripsikan suasana Cirebon lima abad yang lalu, jadi belum masuk ke dalam pokok persoalan atau inti cerita. Syubbanuddin Alwy menyertakan sejumlah catatan kaki di bawah puisinya bukan semata untuk kepentingan ilmiah, namun karena banyak hal yang memang perlu penjelasan lebih lanjut agar pembaca punya gambaran secara visual.
Seandainya puisi panjang yang ambisius ini kelak selesai ditulis, maka kita bisa berharap bahwa sesuatu yang unik dari pesisir utara Jawa Barat akan turut mewarnai taman perpuisian Indonesia modern. Dan apa yang dilakukan Alwy lewat puisi yang masih terus diprosesnya hingga hari ini akan menjadi penguatan serta pengayaan terhadap lokalitas yang ada, di mana unsur-unsur dari lokalitas tersebut terus diperkuat dan diperkaya. Artefak-artefak yang sudah lama berantakan serta berserakan dikumpulkannya kembali satu demi satu.
Di sini penyair bukan hanya berimajinasi namun berperan langsung sebagai peneliti sekaligus kritisi, di mana kejayaan masa lalu yang kini tinggal berupa serpih-serpih budaya, remah-remah sosial, jejak-jejak politik, bercak-bercak kenangan serta bintik-bintik ingatan disusun dan ditatanya, lalu ditimbang, dihidupkan dan disegarkannya  kembali. Dengan kata lain artefak-artefak yang berantakan dan berserakan tersebut semuanya dilokalisasi, ditempatkan dalam suatu komplek atau wisma yang bernama puisi.
”Menulis puisi tentang sejarah sebuah kota ternyata berat sekali. Tapi untuk puisi yang satu ini saya akan serius dan bekerja keras. Sampai hari ini saya masih terus melakukan riset ke tempat-tempat keramat di sekitar Cirebon, Priangan dan Jawa Tengah. Saya tidak akan memikirkan penerbitannya dulu, apalagi merencanakan acara peluncurannya. Dan kalaupun puisi ini terbit ketika saya sudah meninggal juga tidak apa-apa,” ujarnya dalam banyak kesempatan.

***

Dalam kaitannya dengan lokalitas dan lokalisasi yang sudah dipaparkan di atas, rasanya perlu juga disinggung masalah interlokal yang kadang menempatkan penyair tertentu pada posisi yang terbelah atau malah mendua berkenaan dengan orientasi budayanya. Untuk hal itu Beni Setia dan Ahda Imran barangkali bisa dijadikan contoh soal.
Beni Setia lahir dan besar di Soreang, Jawa Barat. Sebagai orang Sunda pada mulanya ia menulis puisi dalam bahasa lokal, dan sebagai warga negara Indonesia ia pun menulis puisi dalam bahasa nasional. Baik puisi yang ditulis dalam bahasa Sunda maupun Indonesia terasa sangat kental unsur lokalnya. Dalam puisi-puisinya yang berbahasa Indonesia misalnya, ia bukan hanya sering menampilkan kata-kata atau idiom-idiom Sunda namun secara keseluruhan baik struktur maupun ”rasa” bahasanya pun sangat terasa kesundaaannya.
Setelah dewasa dan menikah dengan seorang gadis asal Surabaya, pada akhir 1980-an Beni Setia hijrah ke Caruban, Madiun, mengikuti istrinya yang menjadi guru di sana. Selama puluhan tahun ia tinggal dalam lingkungan budaya Jawa tradisional, berbicara dengan bahasa Jawa, makan masakan Jawa dan membiasakan diri minum teh manis setiap hari. Caruban merupakan kota kecamatan yang jaraknya lumayan jauh dari Madiun,  apalagi dari Surabaya yang kosmopolitan. Maka bisa kita bayangkan betapa kental tradisi yang berlaku di tempat tinggalnya tersebut, namun sebagai penyair interlokal Beni Setia cukup siap untuk melakoni posisinya yang mengangkang itu. Ia tidak melupakan kesundaan yang sudah menjadi bagian dari identitasnya, namun ia pun berusaha mengambil hikmah serta inspirasi dari lingkungan barunya. Dengan demikian puisi-puisinya memperlihatkan harmoni antara kesundaan dan kejawaan, bahkan harmoni tersebut berlaku bagi etnis-etnis lain yang kerap muncul juga dalam banyak tulisannya. Inilah penggalan dari salah satu puisi lamanya yang berjudul ”Pledoi buat Kucing”:

tuan dan nyonya, kucing adalah kucing
cukup disembur dengan air sambil dibentak
atau dikejar sambil digertak dengan lidi
dan kucing tak perlu ditembak atau digantung
karena kucing bukan Kusni Kasdut
atau Henky Tupanwael atau Desin Batfari

Ahda Imran lain lagi. Penyair kelahiran Payakumbuh, Sumatera Barat, ini sudah dibawa merantau ke Cimahi sejak masih kanak-kanak. Ahda bergaul rapat dengan masyarakat Sunda, berbicara dalam bahasa Sunda dan merasa bangga karena ditakdirkan tinggal dan bekerja di tatar Sunda yang hijau dan permai. Namun dalam soal makanan ia sangat fanatik dengan masakan Padang yang seolah tak akan pernah tergantikan dengan makanan lain dari belahan dunia manapun. Begitu juga dalam soal jodoh, ternyata ia lebih memilih gadis Jawa ketimbang mojang Sunda. ”Jiwa dan raga saya memang sudah Sunda, namun lidah saya tetap Padang, sedang cinta saya untuk Jawa,” katanya suatu kali.
Ahda hanya menulis puisi dalam bahasa Indonesia. Puisi-puisi awalnya yang terkumpul dalam Dunia Perkawinan memperlihatkan keterbelahan dirinya dalam orientasi budaya. Idiom-idiom khas Minangkabau yang secara biologis telah mengalir dalam darahnya muncul pada sebagian besar puisinya, terutama ditunjukkan oleh kesadarannya pada unsur bunyi seperti dalam pantun. Namun pada sisi lain ia pun kerap berusaha menunjukkan warna kesundaan yang telah dianggapnya sebagai tanah kelahiran kedua. Warna kesundaan tersebut muncul terutama pada puisi-puisinya yang dengan merdu melukiskan keindahan alam, yang suasananya konon diserap dari spiritualitas tembang Cianjuran.
Sebagai penyair interlokal nampaknya Ahda Imran sedikit berbeda dibanding Beni Setia yang dengan ringan bisa melompat dari satu idiom ke idiom lainnya, menerobos dari satu bentuk ke bentuk lainnya, bahkan mengembara dari satu bahasa ke bahasa lainnya. Sampai hari ini Ahda masih terus bergulat mengasah bentuk pengucapan yang dipilihnya, yakni pengucapan yang liris dan tertib. Pengucapan yang cenderung khusyuk dan sublim. Jika Beni nampak santai menikmati posisinya yang mengangkang, maka Ahda masih sedikit menyisakan ketegangan.
Meskipun begitu, puisi-puisinya yang secara langsung menunjukkan kecintaan serta kekagumannya pada tanah Priangan banyak ditemukan pada Penunggang Kuda Negeri Malam, kumpulan puisi keduanya. Dalam kumpulan puisi tersebut ia banyak bersenandung tentang Bandung, tentang Simpanglima, tentang Citarum, tentang Tangkubanparahu, tentang Panjalu, tentang Sindangkerta, juga tentang gunung, pantai serta sungai lain yang ada di Jawa Barat. Lewat puisi-puisinya yang liris dan tertib pula ia kerap menyapa seniman-seniman Jawa Barat yang dikaguminya seperti Harry Roesli, Ahmad Syubbanuddin Alwy, Tisna Sanjaya dan Godi Suwarna.
 Di sini kita kutip penggalan dari puisinya yang berjudul ”Silsilah” untuk sekedar menunjukkan adanya keterbelahan orientasi budaya yang dialami penyair interlokal ini:

Ada selalu malam ketika anakku
bertanya tentang para leluhur, dan kota
yang melayang-layang itu. Selalu tak pernah
ada yang sanggup kukisahkan, selain membakar
seluruh pohon yang tumbuh di punggungnya
lalu membuat upacara persembahan. Menanak
air sungai bercampur sisik ular
dan diam-diam menuangkannya
ke mulut cucuku

Masalah lokalitas tak akan habis untuk diperbincangkan karena cakupan pengertiannya yang sangat luas. Lokalitas bukan hanya menunjuk pada tradisi tertentu dalam kaitannya dengan batasan etnis, adat, bahasa, budaya maupun geografis. Yang dimaksud dengan lokalitas bisa jadi sangat luas dan terbuka. Masyarakat di perkotaan mempunyai lokalitasnya sendiri, lokalitas pada masyarakat perkotaan bisa terkotak-kotak lagi berdasar strata sosial dan ekonominya. Begitu juga dengan masyarakat di pedesaan, masyarakat di lingkungan adat, di lingkungan pesantren, di lingkungan priyayi, di lingkungan petani dan seterusnya. Jika seorang penyair menemukan bahasa bagi puisi-puisinya berarti penyair tersebut sudah menemukan lokalitasnya. Sudah menemukan pribadinya.
Adapun bahasa puisi yang ditemukannya tersebut akan luruh dengan alam seperti puisi Zawawi Imron, atau akan berjarak dengan lingkungan seperti puisi Syubbanuddin Alwy, atau akan mengharmoniskan beragam budaya seperti puisi Beni Setia, atau akan terbelah di antara dua tanah kelahiran yang dicintai seperti puisi Ahda Imran, itu merupakan persoalan lain. Dengan pendekatan, kecenderungan serta gayanya yang berbeda, jika proses kreatif terus dijalani dengan tabah dan gembira niscaya suatu saat setiap penyair akan menemukan lokalitas serta keunikannya masing-masing. Akan menemukan pribadinya masing-masing. []  
Prev Next Next