Artikel 19

SASTRA DAN KOMUNITAS SANTRI



Acep Zamzam Noor


SEBAGAI sebuah sub-kultur posisi pesantren memang unik. Pesantren mempunyai sistem kehidupannya tersendiri yang dijalankan secara ketat baik oleh para santri maupun masyarakat sekitar. Pesantren juga mempunyai hirarki khusus yang berbeda dan berada di luar hirarki formal kekuasaan. Hal ini nampak dalam kehidupan sosial, ekonomi, politik dan budaya meski tentu saja tidak berarti bahwa pesantren berdiri terpisah atau lepas sama sekali dari ikatan-ikatan umum dengan masyarakat luas. Bahkan dalam banyak hal pesantren tetap mempunyai banyak pertautan dengan kehidupan masyarakat luas di sekitarnya itu, hingga antara pesantren dan masyarakat sekitar mempunyai hubungan timbal balik.


Dalam perjalanannya pesantren mengalami perubahan dari waktu ke waktu, seiring perubahan yang terjadi di luar kehidupan tradisinya. Faktor sosial, ekonomi, politik, budaya dan juga teknologi menjadi penentu perubahan itu. Faktor-faktor inilah yang kemudian merubah bentuk pesantren yang tadinya tradisional menjadi bermacam-macam. Ada yang masih tetap tradisional dengan salaf-nya, ada yang semi modern dengan menggabungkan salaf dan sekolah umum, dan ada juga yang modern penuh. Namun dari bentuk yang bemacam-macam itu, kiailah yang masih tetap memegang otoritas tertinggi. Dengan demikian kehidupan kesenian di pesantren pun, termasuk sastra di dalamnya, sangat tergantung dari kebijakan dan daya apresiasi sang kiai sebagai pimpinan.


Apakah sastra diajarkan di pesantren? Di pesantren-pesantren semi modern atau modern pendidikan sastra secara formal didapatkan para santri dari pelajaran sekolah seperti halnya yang terjadi di sekolah-sekolah umum. Dan sastra yang diajarkan tentu saja bagian dari pelajaran bahasa Indonesia. Pelajaran sastra di sekolah ini tentu saja kurang maksimal karena terbatasnya jam pelajaran dan juga kapasitas gurunya, yang tidak semuanya punya minat yang besar pada sastra. Kehidupan sastra di pesantren-pesantren jenis ini tak jauh berbeda dengan kondisi di sekolah-sekolah umum.


Sedang di pesantren-pesantren tradisional jelas tak ada pelajaran sastra seperti halnya di sekolah umum, namun atmosfir kesusastraan bisa didapat para santri melalui proses pengajian kitab kuning yang kebetulan banyak berisi syair-syair yang bernilai sastra tinggi. Pada awalnya para santri hanya menyimak makna dari syair-syair tersebut sebagai materi pengajian, namun dengan kekhusyukan mereka pun menjadi akrab juga dengan keindahan bahasanya, dengan kemerduan bunyinya dan sebagainya. Dengan demikian bagi para santri salaf pelajaran sastra mereka dapatkan secara tidak langsung, yakni lewat pengajian kitab kuning. Lewat atmosfir pengajian. Dan jika kebetulan kiainya berjiwa seniman proses pengajaran sastra secara tidak langsung ini bisa menjadi lebih khusyuk dan mendalam karena tidak terlalu dibatasi waktu, bahkan bisa sampai subuh. Di masa lalu jenis karya sastra yang banyak ditulis para santri atau kiai ini kebanyakan berupa nadoman atau syi’iran, sejenis salawat atau puji-pujian yang merupakan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW, yang ditulis dalam bahasa Arab atau daerah. Nadoman atau syi’iran ini kadang juga berisi petuah atau nasihat. Di beberapa pesantren ada juga yang menulis naskah drama berdasarkan sejarah Islam atau riwayat para nabi.


***


Perkembangan sastra di pesantren memang tidak seragam. Ada yang menonjol dalam aktivitas penulisan hingga banyak melahirkan calon-calon sastrawan, ada juga yang menonjol dalam hal apresiasi atau kegiatan keseniannya. Banyak juga yang tidak kedua-duanya. Hal ini selain ditentukan oleh sikap kiainya terhadap kesenian hingga mempengaruhi atmosfir kreativitas di pesantren, juga oleh para santrinya itu sendiri. Di sejumlah pesantren aktivitas kesenian para santri timbul tenggelam seiring siklus keluar masuknya santri. Tapi ada juga pesantren yang melembagakan aktivitas kesenian sebagai unit kegiatan, yang mau tidak mau akan diikuti oleh para santrinya tanpa dipengaruhi oleh siklus keluar masuknya para santri. Pesantren-pesantren di Madura misalnya, sudah sejak lama melembagakan aktivitas kesenian, termasuk sastra, seperti halnya sebuah sanggar. Mereka mengadakan diskusi, pelatihan kepenulisan, penerbitan buletin dan juga kegiatan sastra dengan mendatangkan sastrawan dari luar. Untuk penerbitan misalnya, mereka juga banyak kerjasama dengan pihak lain hingga karya-karya mereka terdokumentasikan. Mereka juga aktif mengisi rubrik-rubrik sastra baik di media khusus maupun umum.


Sementara sejumlah pesantren di Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur beberapa tahun belakangan ini aktivitas kesusastraannya meningkat seiring dengan terbitnya Fadilah, sebuah majalah sastra khusus untuk kalangan pesantren. Terbitnya majalah ini awalnya merupakan respons positif terhadap aktivitas para santri dalam dunia tulis menulis yang semakin meningkat, khususnya di sejumlah pesantren di sekitar Yogyakarta. Selain majalah, terbit juga sejumlah antologi puisi, cerpen dan juga novel yang mengangkat kehidupan pesantren. Tentu saja hal ini menggembirakan karena karya-karya para santri, alumni maupun para pengasuh pesantren bisa dibaca oleh kalangan yang lebih luas dan bisa terdokumentasikan, meski dari pihak penerbit sendiri sepertinya ada semacam pretensi untuk memberikan sebuah label bagi para penulis dari komunitas ini sebagai “sastra pesantren”.


Dalam banyak kesempatan saya sering menyatakan keberatan dengan pelabelan “sastra pesantren” atau “sastra santri” ini, sebab akan menjadi beban yang berat bagi para penulis kalangan pesantren untuk selalu menggarap tema yang sama, misalnya soal kehidupan pesantren atau tema yang berbau agama dan dakwah. Bukan hanya beban, bahkan pelabelan ini bisa jadi menghambat kreativitas penulisnya itu sendiri. Saya lebih cenderung membebaskan para penulis kalangan pesantren ini untuk menulis tema apa saja dan dalam bentuk atau cara apa saja, karena bagaimana pun kesantrian seseorang dengan sendirinya akan muncul atau menjadi ruh dalam tema apapun tanpa harus secara formal ditonjolkan. Ketika novel Ronggeng Dukuh Paruk muncul, kita semua tidak mengira bahwa novel yang temanya terkesan “abangan” itu ternyata ditulis oleh seorang santri, yang sekarang kita kenal sebagai kiai. Meskipun temanya tentang ronggeng, kesantrian pengarangnya tetap tak bisa disembunyikan.


Namun demikian, terbitnya majalah sastra khusus pesantren, yang kemudian diikuti dengan penerbitan kumpulan puisi, cerpen maupun novel ini harus diakui telah memberikan kegairahan tersendiri, karena kemudian diikuti oleh sejumlah kegiatan apresiasi sastra yang melibatkan para sastrawan. Setiap buku yang berlabel “sastra pesantren” terbit, biasanya diluncurkan dan didiskusikan di sejumlah pesantren. Workshop-workshop penulisan untuk para santri pun lebih sering digelar, baik oleh penerbit maupun atas inisiatif kalangan pesantrennya sendiri.


Di Jawa Barat mungkin situasinya agak lain. Perkembangan sastra di pesantren-pesantren Sunda ini masih cenderung alamiah. Tak banyak pesantren yang melembagakan kesenian sebagai unit kegiatan, apalagi sampai mengusahakan penerbitannya. Tapi sejumlah pesantren memberikan keleluasaan untuk berkreasi kepada santri-santrinya. Bagi pesantren-pesantren yang semi modern, kegiatan sastra yang rutin umumnya berlangsung di sekolah, bukan di pesantrennya. Kegiatannya kebanyakan berupa pembacaan puisi atau dramatisasi puisi yang mungkin lebih berkaitan dengan dunia teater. Sementara untuk bidang penulisan cenderung menjadi kegiatan pribadi para santri. Seorang santri yang punya hasrat besar pada penulisan biasanya bergulat sendirian, atau bergabung dengan sanggar atau komunitas sastra di luar pesantren.


Fauz Noor misalnya, nama yang sebelumnya tidak pernah kita dengar ini tiba-tiba menerbitkan dua buah novel tebal bertema filsafat yang ditulisnya semenjak masih mondok di Pesantren Sukahideng, Tasikmalaya. Sarabunis Mubarok, seorang santri dari Pesantren Cimerah, Tasikmalaya, puisi-puisi imajisnya muncul di koran-koran daerah dan nasional. Ahmad Baequni, seorang ustadz dari Pesantren Babakan Ciwaringin, Cirebon, memecahkan rekor pembacaan puisi terlama yang dicatat Museum Rekor Indonesia (MURI). Dia membacakan ratusan puisi-puisinya sendiri serta sejumlah karya penyair lain selama 48 jam tanpa henti. Begitu juga Matdon dari Bandung, santri veteran ini menulis puisi-puisi protes sosial dan membacakannya di kampus-kampus. Koernedy Chalzoem dan Deddy Kampleng, menulis naskah-naskah drama dan mementaskannya di Cirebon. Faisal Kamandobat dari Cilacap keliling ke berbagai makam wali dan kiai untuk mematangkan proses kepenyairannya. Masih banyak nama-nama lain dari kalangan pesantren yang sekarang sedang bergulat dan memperjuangkan eksistensinya sendiri, karena pesantren mereka tak menyediakan wadah formal untuk kegiatan sastra.


Sementara dari Pesantren Baitul Arqom, Ciparay, Ahmad Faisal Imron mengumpulkan teman-teman yang dikenalnya semasa mondok di berbagai pesantren tradisional di Jawa Barat dan kemudian membentuk sebuah komunitas yang bernama Komunitas Malaikat. Dari komunitas yang sebagian besar anggotanya santri salaf, berambut gondrong dan tidak mengenal bangku kuliah ini lahir sejumlah penyair yang puisi-puisinya sangat kuat, ekspresif, dengan pengungkapan yang cenderung bebas. Mereka tidak terkungkung oleh tema atau ideologi tertentu yang biasanya membebani penyair dari kalangan santri. Selain menulis puisi, mereka juga aktif melukis, membuat patung, seni instalasi dan main musik rock.


Proses kreatif dari teman-teman Komunitas Malaikat ini agak unik karena mereka belajar sastra benar-benar khas santri salaf. Meskipun mereka tak punya latar belakang sastra, baik dalam bacaan maupun pergaulan, namun mereka mempunyai semangat yang luar biasa dalam berekspresi. Pada awalnya modal kesenian mereka hanyalah atmosfir puitik yang mereka hayati dari kehidupan sehari-hari di pesantren, suatu kehidupan yang sangat sederhana dan bersahaja. Ketika semua masih mondok di pesantren (sekarang sebagian ada sudah menjadi kiai atau ustadz), mereka suka berkumpul. Di situlah mereka berdiskusi tentang sastra dan kesenian seperti halnya membahas suatu permasalahan agama. Selain itu, secara berkala mereka mengadakan silaturahmi kepada penyair atau seniman tertentu, untuk mengadakan semacam sorogan. Biasanya mereka membawa sejumlah puisi, membacakannya dan kemudian minta dikomentari penyair yang ditemuinya. Hal yang juga menarik dari teman-teman ini, mereka seperti tak punya urusan dengan media massa. Mereka jarang sekali mengirimkan puisi-puisinya ke koran atau majalah kalau tidak dipaksa-paksa. Puisi-puisi mereka hanya beredar di kalangan mereka sendiri, atau hanya dikirim kepada penyair-penyair yang mereka percayai.


Di Jatiwangi, Majalengka, lain lagi ceritanya. K.H. Maman Imanulhaq Faqieh adalah mubalig muda yang sedang naik daun. Awalnya ia berpenampilan persis seperti Aa Gym, lengkap dengan jas, sarung, sorban dan bendo yang membungkus kepalanya. Begitu juga dengan meteri pengajiannya: menyampaikan pesan-pesan moral, menyelipkan humor segar dan selalu mengakhirinya dengan berdoa sambil menangis tersedu-sedu. Dengan performance seperti ini ia laris diundang ke mana-mana hingga sekali waktu ditakdirkan bertemu dengan Ahmad Syubanuddin Alwy, seorang penyair dari Cirebon.


Sebagai penyair Alwy memberikan semacam thausyiah tentang kemungkinan mengolaborasikan kesenian dengan dakwah, dan nampaknya mubalig muda ini langsung tertarik. Tak lama kemudian ia menjadi akrab dengan dunia kesenian, juga dengan para seniman dan budayawan. Setiap milad di pesantrennya ia mengadakan festival yang meriah dengan mengundang seniman-seniman dari luar. Ia juga membentuk kelompok musik gamelan, kelompok teater dan sanggar sastra. Ia membebaskan santri-santrinya berekspresi. Selain itu, ia sendiri produktif menulis. Mula-mula menulis nadoman atau syi’iran, kemudian menulis puisi. Dalam setiap pengajian ia selalu menyelipkan puisi-puisinya itu, bahkan sering kali dibawakan dengan iringan musik gamelan.


Berkolaborasi dengan kesenian membuat pengajian-pengajian K.H. Maman Imanulhaq Faqieh menjadi semakin komplit, dan tentu saja semakin laris. Kini ke mana-mana ia selalu membawa puisi, kadang dengan memboyong kelompok musik gamelannya. Namun yang perlu digarisbawahi dari peristiwa budaya ini, kostum ala Aa Gym yang selama ini menjadi andalan utamanya pelan-pelan ditanggalkan. Kini ia merasa “percaya diri” hanya dengan berkemeja, bercelana dan berpeci. Nampaknya kesenian telah memberinya pencerahan, paling tidak dalam caranya berpakaian.


***


Beberapa waktu yang lalu saya bersama teman-teman Komunitas Azan di Tasikmalaya mengadakan halaqoh sastra yang pesertanya para penulis yang mempunyai latar belakang pesantren. Meski pesertanya terkesan khusus, acara ini sama sekali tak ada urusan dengan masalah pelabelan “sastra pesantren” atau merumuskan langkah-langkah politis bagi eksistensi penulis dari kalangan pesantren ini. Dalam halaqoh yang pesertanya terbatas ini dibahas banyak hal, mulai dari proses kreatif masing-masing penulis, religiusitas dan sastra religius, perkembangan sastra mutakhir, keragaman budaya, sampai pentingnya menggalakkan kembali kegiatan apresiasi sastra di pesantren. Hal yang terakhir ini kemudian menjadi perbincangan serius di antara para peserta.


Seperti yang disinggung di atas, pesantren sebagai sebuah sub-kultur memang mempunyai sistem dan karakter tersendiri yang bisa jadi kurang dipahami pihak luar. Maka untuk kembali menggalakkan apresiasi sastra di pesantren banyak hal yang harus di pertimbangkan, misalnya bagaimana sikap kiai terhadap kesenian, khususnya sastra. Mengetahui sikap kiai ini sangat penting jika gerakan apresiasi yang dimaksud akan bersifat struktural, misalnya dengan melembagakan sanggar sebagai wadah aktivitas dan kreativitas para santri. Mengetahui sikap kiai juga penting jika bentuk kegiatan yang dipilih bukan sanggar secara formal, namun berupa keleluasaan yang diberikan bagi para santri untuk beraktivitas sastra di pesantren. Bagi pesantren-pesantren semi modern atau modern, melembagakan sanggar secara formal mungkin lebih cocok. Meskipun sudah mempunyai jam pelajaran sastra di sekolah, sanggar tetap dibutuhkan. Sasarannya bukan untuk menciptakan banyak calon penulis, tapi yang lebih penting justru memperbanyak para calon apresiator. Saya yakin penulis akan lahir dengan sendirinya, namun para apresiator bagaimanapun harus diciptakan dengan berbagai upaya.


Sementara untuk pesantren-pesantren tradisional atau salaf, keterbukaan kiai dan sikap memberi keleluasaan bagi para santri untuk berkreasi itu jauh lebih penting ketimbang melembagakan sanggar. Karakter santri salaf memang berbeda dengan santri dari pesantren semi modern atau modern. Saya melihat santri-santri salaf secara alamiah memang sudah nyeniman, dan cenderung nyentrik. Mereka terkesan santai, tidak formal, intuitif, dan cara berpakaiannya pun tidak suka “seragam” seperti halnya santri-santri modern. Dan yang lebih penting lagi mereka mempunyai tradisi berkelana, berpindah-pindah dari satu pesantren ke pesantren lain untuk mendalami kitab-kitab tertentu, dan biasanya diakhiri dengan mendirikan pesantren atau majlis taklim di kampungnya. Jika karakter yang tidak suka formalitas dan tradisi berkelana ini diterapkan sebagai proses kreatif dalam dunia kepenulisan tentu akan sangat menarik. Sebagai salah satu contoh, teman-teman dari Komunitas Malaikat paling tidak sudah mencoba menerapkannya, dan hasilnya bagi saya cukup mengagetkan.


Menggalakkan kegiatan sastra di pesantren nampaknya sudah sangat mendesak, terutama untuk ikut mengembalikan keberadaan pesantren yang kini semakin goyah oleh gempuran pihak luar. Perkembangan terakhir bagi saya sangat memprihatinkan, terutama dengan masuknya para politisi atau broker-broker politik ke pesantren dan menjadikan lembaga keagamaan tersebut sebagai pasar untuk jual beli dukungan. Sejumlah kiai terutama dari kalangan yang lebih muda bukan hanya sudah tergiur, bahkan banyak yang sudah terperosok jauh menjadi bagian dari organ politik tertentu. Mereka bukan hanya telah berubah orientasinya, tapi sudah kehilangan kekhusyukannya dan meredup pandangannya terhadap nilai-nilai kepesantrenan. Tak sedikit dari mereka yang kemudian menjadi pragmatis seperti halnya para aktivis. Ritual-ritual khas pesantren seperti istighosah kini sudah berubah jauh maknanya: menjadi sekedar alat untuk mengumpulkan massa, yang ujung-ujungnya adalah pernyataan dukungan kepada seseorang atau partai tertentu.


Dengan berlangsungnya pilkada di sejumlah daerah, pesantren pun menjadi sering kena getahnya. Banyak kiai yang kemudian jadi tim sukses calon bupati, menjadi jurkam dan mengobral ayat-ayat suci. Bahkan banyak kiai yang berani membenturkan pesantrennya sendiri dengan pesantren lain karena mendukung calon bupati yang berbeda. Bagi para politisi tentu saja medekati kiai adalah cara yang praktis dan murah untuk mendulang suara tanpa harus bersusah payah terjun langsung ke masyarakat. Bukankah dengan mengambil seorang kiai sekaligus akan menyeret para santri serta umat di belakangnya? Namun yang jadi masalah kemudian, kiai yang dalam tradisi pesantren mempunyai hirarki tersendiri yang sejajar atau bahkan di atas hirarki formal kekuasaan menjadi tidak jelas lagi posisinya di tengah masyarakat.


Maka dalam kondisi sosial dan politik semacam ini, rasanya mendesak sekali untuk kembali menggalakan kegiatan sastra di pesantren. Saya yakin sastra atau kesenian pada umumnya masih mengandung nilai-nilai yang bisa menyentuh bagian-bagian terhalus dari kemanusiaan.


(2006)


Prev Next Next