(40) - Artikel Sastra


 PUISI UNTUK KANJENG NABI

Acep Zamzam Noor


KASIDAH merupakan salah satu genre puisi yang berisi persembahan atau puji-pujian kepada seseorang. Pada awalnya genre puisi puji-pujian tersebut hanya ditujukan kepada Nabi Muhammad, seperti yang nampak pada puisi-puisi dari tradisi sastra sufi, namun pada perkembangannya kasidah dapat bersifat umum juga. Sedang puisi-puisi yang khusus ditujukan pada nabi, menurut penyair Abdul Hadi WM, dikenal dengan sebutan na’tiyah yang artinya puji-pujian juga. Puisi na’tiyah banyak menggambarkan keunggulan sifat-sifat nabi, juga ketaatan serta keselarasannya dengan kehendak Tuhan, selain mengenai sejarah hidup nabi yang menjadi sumber keteladanan itu sendiri.
Puisi na’tiyah berkembang berdasarkan pandangan bahwa sebagai penerima wahyu ilahi dan penyampai ajaran Islam, Nabi Muhammad memainkan peranan sentral dalam sejarah peradaban dan kebudayaan Islam. Salah satu contohnya adalah kepeloporannya dalam membentuk masyarakat madani berdasarkan ajaran Islam, yang dilakukan sewaktu beliau dan pengikutnya hijrah ke Madinah. Semenjak itu sejarah dan kebudayaan Islam bermula dalam arti yang sebenarnya dan merupakan asas terbentuknya masyarakat Islam pada masa-masa selanjutnya.
Puisi na’tiyah sudah muncul sejak zaman nabi masih hidup, ditulis oleh para sahabat dan pengikutnya, yang kemudian dilanjutkan oleh para penyair sufi dari zaman ke zaman seperti Attar, Nizami, Sana’i, Sa’di, Rumi, Hafiz sampai Iqbal di zaman modern ini. Bahkan penyair terbesar dari Jerman, Johann Wolfgang von Goethe, yang mengagumi karya-karya  penyair na’tiyah juga menulis puisi khusus untuk nabi. Namun tak bisa dipungkiri bahwa genre puisi na’tiyah dikenal dan benar-benar tersebar secara luas lewat Qasidah al-Barzanji, Qasidah al-Burdah dan Qasidah al-Diba, termasuk ke tengah-tengah masyarakat kita. Bahkan saking populernya puisi-puisi tersebut di beberapa tempat diadaptasi ke dalam bahasa lokal, dibacakan dan dinyanyikan beramai-ramai. Mungkin tidak semua orang tahu bahwa yang mereka bacakan dan nyanyikan tersebut sebenarnya puisi, bukan wirid atau mantra suci.
Lalu adakah pengaruh puisi na’tiyah terhadap sastra Indonesia? Kalau kita mengamati para penyair klasik seperti Raja Ali Haji, Bukhari Al-Jauhari, Syamsuddin Al-Sumatrani, Nuruddin Al-Raniri dan Abdurrauf Singkel, termasuk di dalamnya Haji Hasan Mustapa sedikit banyak kita masih merasakan jejaknya, meskipun para penyair tersebut menggunakan bentuk lain seperti pantun, gurindam, guguritan atau wawacan. Lewat puisi-puisinya mereka mengungkapkan puji-pujian pada nabi, menceritakan sifat-sifatnya yang baik serta menyebarkan ajaran-ajarannya. Dalam konteks puisi modern tema mengenai nabi juga banyak ditulis penyair kita, meskipun dengan sudut pandang yang lebih subyektif. Saya masih ingat beberapa puisi mengenai nabi yang ditulis Taufiq Ismail, Goenawan Mohamad, M. Saribi Afn dan Mohammad Diponegoro ketika mereka masih sangat muda. Taufiq menggambarkan perjalanan Isra dan Mi’raj, sementara Goenawan merefleksikan peristiwa ketika nabi pertama kali menerima wahyu. Emha Ainun Nadjib muda juga menulis puisi panjang tentang riwayat nabi dalam kumpulan puisinya yang pertama, M.Frustrasi. Sementara lewat cerpen-cerpennya yang sufistik, Danarto melukiskan dengan indah peristiwa-peristiwa surealistik yang secara simbolis ada kaitannya dengan nabi. Tahun 1970-an Rendra yang waktu itu masih beragama Katolik bersama kelompok Bengkel Teater-nya yang terkenal mementaskan Qasidah al-Barzanji berdasarkan terjemahan Syu’bah Asa, dan konon tak lama kemudian penyair besar ini masuk Islam. Abdul Hadi WM  dan A. Mustofa Bisri termasuk penyair kita yang banyak menulis puisi tentang nabi, yang kadang dihubungkan secara kontekstual dengan kondisi sosial dan politik negeri ini. Begitu juga Hamid Jabbar tak ketinggalan menulis puisi tentang nabi, tentu dengan gaya dan caranya sendiri.
Di sini saya kutip puisi Taufiq Ismail yang berjudul “Muhammad Menjelang Baytul-Maqdis”:

Langit yang melengkungkan dada, biru hitam
Muka tengadah denyut darah tertahan

Kutoreh dadamu al-Amin, jantung baiduri
Kubuka langitku bagimu, mata hujan dan salju

Di tangannya waktu meleleh
Lumat gurun dan lembah. Berlalu

Gerimis cahaya melinangi bumi
Lekat dada dan langit baginya. Selalu

Tema tentang nabi masih terus ditulis para penyair kita yang muncul kemudian, meskipun secara bentuk sudah berbeda jauh dari genre puisi na’tiyah yang formal, mungkin disebabkan karena ekspresi serta subyektivitas penyairnya lebih menonjol. Bentuk puisinya pun cenderung liris dan sublim, tidak lagi naratif. Dengan demikian puisi yang dihasilkan para penyair mutakhir tersebut lebih sebagai puisi religius atau sufistik ketimbang na’tiyah.
Sementara dalam khazanah sastra Sunda modern tema mengenai nabi juga menunjukkan jejaknya seperti nampak pada beberapa puisi atau prosa karya RAF, Apip Mustofa, Wahyu Wibisana, Usep Romli HM, Yous Hamdan atau  Etti RS, di samping beberapa karya yang diadaptasi para pengarang Sunda dari sastra Arab. Namun yang membuat saya paling terkesan adalah prosa lirisnya Enas Mabarti yang berjudul Gunem Rencep Sidem. Penyair yang juga aktivis Nahdlatul Ulama asal Garut ini benar-benar memaksimalkan karakter bahasa Sunda yang lembut dan plastis untuk menggambarkan kedalaman perasaan serta kekagumannya terhadap Kanjeng Nabi Muhammad secara naratif.

***

Fauz Noor merupakan salah seorang penulis muda dari kalangan santri yang cukup produktif. Beberapa novel dan kajian filsafatnya yang lumayan tebal sudah terbit sebagai buku. Konon sekarang pun sedang khusyuk menyiapkan sebuah novel lagi. Ketika ia berkunjung ke rumah saya belum lama ini dan menunjukkan puisi-puisinya yang khusus mengenai nabi, saya sempat tercenung lama.
Dalam dua dekade terakhir ini saya mengenal banyak penulis dari kalangan santri, baik yang menulis puisi, cerpen maupun novel. Saya juga merasakan kegairahan yang luar biasa hingga di banyak pesantren muncul sanggar-sanggar sastra. Ada yang khusyuk menulis puisi-puisi liris, ada yang produktif menulis cerpen-cerpen pop, ada juga yang menulis novel tentang romantika kehidupan santri. Meskipun puisi-puisi liris yang ditulis mereka banyak yang bertema religius atau bermuatan spiritual, namun rasanya jarang sekali saya melihat puisi-puisi dari genre na’tiyah, yang secara khusus bicara mengenai nabi. Padahal selama ini mereka hidup dalam atmosfir na’tiyah, yang secara berkala melakukan ritual seperti diba’an, burdahan, barzanjian atau shalawatan di pesantren maupun kampungnya masing-masing.
Tentu tidak ada yang salah dengan semua ini. Seorang penulis, dari latar belakang manapun pada dasarnya tetaplah seorang penulis yang bebas menulis apa saja tanpa harus dibebani tema tertentu. Bisa menulis tentang cinta, sosial, politik, religius atau apapun termasuk ronggeng seperti yang dilakukan Ahmad Tohari. Hanya saja, genre na’tiyah atau tema tentang nabi juga merupakan sesuatu yang cukup menarik untuk dikembangkan, apalagi oleh mereka yang akrab atau hidup di tengah-tengah atmosfir tersebut. Sesuatu yang sangat menantang untuk diwujudkan menjadi karya yang akan ikut mewarnai khazanah sastra kita, entah itu dalam genre puisi, prosa liris maupun cerita. Entah itu dalam gaya formal atau eksperimental.
Membaca puisi-puisi Fauz Noor saya seperti mendapat jawaban dari keheranan yang selama ini saya simpan dalam hati. Kumpulan puisinya yang berjudul Terapi Bersama Nabi berisi puisi-puisi yang ditulis dalam genre na’tiyah, yang secara tematik khusus berbicara mengenai nabi. Pada hampir setiap puisinya digambarkan aku lirik yang kasmaran merindukan kehadiran nabi, merindukan sifat-sifatnya yang mulia, merindukan keteladanannya, merindukan ajaran-ajarannya. Juga aku lirik yang mabuk menghirup wewangian nabi serta tenggelam dalam cahayanya yang suci. Di sini saya kutip penggalan puisinya:

Ya Rosululloh
Senantiasa aku tunggu baginda di muka beranda
Menyambut baginda adalah cinta
Memimpikan baginda adalah cita
Mencium baginda adalah karunia

Bahasa yang digunakan Fauz Noor pada hampir seluruh puisinya memang terkesan klasik, atau dalam perkataan lain mengingatkan kita pada puisi gaya lama. Namun jika dibaca dan direnungi puisi per puisi secara keseluruhan, kita akan menemukan letak keunikan serta kenikmatannya. Bahasa yang klasik, yang cenderung formal dan kemelayu-melayuan jika diterapkan secara konsisten bagi saya bukan sekedar pilihan bentuk yang disadari, namun sekaligus menyiratkan sikap tawadu dalam memposisikan diri di hadapan Tuhan dan nabi. Dengan demikian untuk genre na’tiyah ini pilihan pada bahasa klasik tersebut menjadi terasa pas, bahkan efektif. Saya kutip lagi penggalan puisinya:

Allah ...
Bawalah aku ke haribaan pena
Ke peraduan syair dan tafsir
Di negeri umpama
Mengikuti sunnah nabi-Mu terkasih
Meneladani akhlaknya yang mulia
             
            Hal lain yang menarik dari kumpulan puisi ini adalah karena penyairnya memilih idiom atau ungkapan yang sederhana. Bahkan terasa bahwa ungkapan yang digunakannya berasal dari memori kolektif kita, yang tentu saja mudah diingat dan dimengerti oleh siapapun. Tak ada ungkapan yang berlapis, ruwet, gelap, ambigu atau obscure. Semuanya transparan seperti kaca, dan semuanya bisa kita nikmati tanpa harus banyak mengerutkan dahi.  Metafor-metafor yang digunakanannya juga apa adanya, dan nampaknya mengacu pada karakter formal puisi-puisi na’tiyah itu sendiri, di mana keindahan dan kemuliaan nabi misalnya, banyak digambarkan dengan metafor cahaya dan wewangian. Metafor yang tentu saja sudah menjadi klasik. Dalam genre puisi semacam ini  nampaknya isi atau pesan lebih penting ketimbang bentuk, dengan demikian pilihan bentuk pun akan mengikuti karakter isi.
Begitulah, saya telah mencoba berapresiasi terhadap kumpulan puisi yang menurut saya cukup unik. Disebut unik karena penyair dan novelis asal Tasikmalaya ini mengangkat tema yang langka dalam khazanah perpuisian kita, di samping adanya upaya menggali potensi bahasa klasik sehingga menimbulkan bunyi yang kadang terdengar eksotik di tengah gempuran idiom-idiom grafis di media massa. Semoga dengan mengapresiasi puisi-puisi sederhana namun menyentuh hati ini kecintaan serta kerinduan kita terhadap Kangjeng Nabi Muhammad juga akan semakin meninggi, yang kemudian terefleksikan dalam perilaku hidup kita sehari-hari. Amin. []
Prev Next Next