Artikel 1

NOTASI-NOTASI KECIL


Acep Zamzam Noor



Telah kuterbangkan beratus puisi

Dengan beratus sayap namamu yang sunyi

Ke langit. Derai azan maghrib menyambutnya

Berjuta tanganmu terkembang mengurung bumi


DALAM salah satu ulasan pada “Pertemuan Kecil”, sebuah rubrik sastra di Pikiran Rakyat, Saini K.M. pernah menyatakan bahwa kepenyairan tidak terwujud berdasarkan keinginan saja. Kepenyairan juga bukan karena menguasai dengan baik teknik-teknik penulisan puisi semata. Kepenyairan lebih berdasar pada “panggilan”. Seseorang yang tidak bercita-cita menjadi penyair, secara pelahan dan alamiah akan tertarik minatnya pada puisi, lalu terlibat lebih dalam dengan dunia puisi dan akhirnya tiba-tiba menyadari bahwa dirinya sudah menjadi penyair. Sebaliknya, seseorang yang berhasrat besar menjadi penyair betapa pun kerasnya upaya yang dilakukan untuk ambisinya itu belumlah tentu menjadi penyair, sekalipun menghasilkan banyak sekali “puisi”.


Saya tidak tahu apakah Saeful Badar, yang puisi-puisinya dikumpulkan dalam Notasi-Notasi Kecil ini, sejak awal memang bercita-cita menjadi penyair atau hanya berminat terhadap puisi dan kemudian menggelutinya secara sungguh-sungguh. Menilik dari sikap hidupnya yang bersahaja, yang juga nampak terpantul dalam dari puisi-puisinya, rasanya apa yang disebut Saini sebagai “panggilan” – sesuatu yang sangat erat hubungannya dengan mentalitas seseorang – rasanya sudah dimiliki Saeful Badar. Selain mempunyai kesetiaan untuk terus berproses (hal ini pun banyak dilakukan sendirian), Badar pun nampaknya sangat sabar menunggu kematangan puisi-puisinya dan tidak kebelet untuk segera mempublikasikan atau membukukannya.


Seperti kebanyakan penyair yang tinggal di daerah, Saeful Badar berangkat sendirian memasuki dunia puisi. Tidak ada lingkungan, komunitas atau iklim yang mengantarkannya menuju sebuah dunia yang sering disebut orang sebagai dunia yang ganjil ini. Badar berangkat dengan melihat dunia puisi sebagai sesuatu yang wajar dan sederhana, sesuatu yang biasa-biasa saja namun ia menjalaninya dengan tulus. Tak seperti di kota-kota besar, kehidupan kesusastraan di Tasikmalaya, daerah di mana Saeful Badar tinggal, adalah kehidupan yang sunyi, oleh karenanya tak banyak intrik antar seniman. Begitu juga halnya dalam pergesekan kreatif. Maka kehidupan seorang Saeful Badar pun, pada dekade 1980-an, adalah kehidupan yang sunyi. Apalagi ia menjalaninya sambil bertugas sebagai guru SMP di sebuah kecamatan terpencil, sampai kemudian ia memutuskan untuk keluar sebagai pegawai negeri pada awal tahun 1996, tak lama setelah tugasnya justru dipindahkan ke SMP lain yang berada di pusat kota, tak jauh dari kediamannya.


Keputusan besar yang diambil Saeful Badar untuk mengundurkan diri sebagai pegawai negeri tentunya bukan sekedar romantisme atau sikap neko-neko seorang seniman. Panggilan kepenyairannya yang sangat kuat dalam dirinya, membuat ia harus memilih dan tidak setengah-setengah. Meskipun demikian nalurinya sebagai pengajar (yang telah dijalaninya hampir satu dekade) tidak padam begitu saja. Setelah merasa “merdeka”, Saeful Badar mulai berkomunikasi dengan peminat-peminat puisi lainnya, mencoba membangun komunitas sampai akhirnya, pada tahun 1996 bersama kawan-kawan mendirikan Sanggar Sastra Tasik (SST) yang kegiatan utamanya membina para penulis muda, baik secara langsung maupun lewat acara apresiasi puisi di RSPD FM Tasikmalaya, yang digelar seminggu sekali.


Meskipun Saeful Badar sudah cukup lama menulis puisi (sekitar awal 1980-an), namun kita jarang sekali menemukan puisi-puisinya dipublikasikan di media massa. Padahal bagi kebanyakan penyair, lebih-lebih penyair muda, mempublikasikan puisi di media massa – terutama media massa ibukota – adalah upaya penting untuk bisa cepat dikenal dan diperhitungkan. Beberapa puisi Saeful Badar memang sempat muncul di Pikiran Rakyat, Bandung Pos, Mitra Desa, Sinar Harapan dan Suara Pembaharuan. Ia juga nampak tidak berupaya mengumpulkan puisi-puisinya sampai Forum Sastra Bandung (FSB) menawarinya untuk menerbitlan Notasi-Notasi Kecil ini.


Apabila kita perhatikan puisi-puisinya dalam kumpulan ini, jelas Saeful Badar sudah mempunyai jam terbang. Memang kita tidak banyak menemukan sesuatu yang mengejutkan, juga pencapaian puitiknya masih belum menggembirakan, namun bahasa yang digunakannya cukup bersih dan terjaga. Ini menandakan bahwa penyair yang low profile ini telah menjalani proses pergumulan dengan bahasa yang cukup lama. Tidak seperti penyair-penyair muda yang langsung menggebrak dengan ungkapan-ungkapan aneh meski kemudian menjadi gelap, Saeful Badar kelihatan lebih menahan diri. Ungkapan-ungkapannya tidak mengada-ada namun tetap menyiratkan kedalaman makna.


Dalam puisi-puisinya Saeful Badar banyak mengungkapkan perasaaan kesepian, kerinduan, harapan serta kekhawatiran dalam hubungannya dengan cinta, keimanan dan kemanusiaan. Ia juga banyak menyinggung soal realitas sosial, pengaruh buruk modernisasi serta keprihatinan yang mendalam pada anak-anak di tengah arus globalisasi. Satu hal yang perlu dicatat, dalam puisi-puisinya yang liris dan pastoral ia tetap menggunakan bahasa yang jernih sehingga tidak hanyut pada imaji-imaji gelap yang menyesatkan. Sebaliknya, pada puisi-puisinya yang menampakkan lebih banyak unsur pikiran ketimbang perasaan, ia pun mampu mengendalikan bahasa untuk tetap liris dan tidak terjebak pada ungkapan-ungkapan yang sloganistis, seperti penggalan puisinya yang akan saya kutip untuk mengakhiri catatan singkat ini: Aku tahu, sajak akan tetap hanya sajak/Onggok debu ruhani yang terbakar musim/Namun bersama kalian, aku tiada merasa sia-sia/Meski kematian belum tentu punya makna…

(1997)

Prev Next