Artikel 22

IN MEMORIAM IRZADI MIRWAN



Acep Zamzam Noor


SAYA masuk ITB tahun 1980, sementara Irzadi Mirwan meninggal tahun 1981. Saya tidak sempat bergaul langsung dengannya, namun hanya mengenal namanya dari jauh saja. Sebagai aktivis kampus Irzadi Mirwan tidak asing di kalangan mahasiswa, begitu juga di mata saya. Saya sempat melihatnya ketika berorasi bersama Iwan Bungsu di sekitar lapangan basket. Waktu itu kalau tak salah ada juga Roel Sanre, Mahin Inka dan Yayak Kencrit. Saya sangat kaget ketika mendengar kabar Irzadi meninggal dunia dalam sebuah latihan dasar pencinta alam bersama Wanadri, di sebuah gunung di Jawa Barat. Agus Djatnika, teman seangkatan saya, kebetulan ikut pada latihan dasar pecinta alam tersebut. Saya tahu tentang kejadian yang menghebohkan itu dari cerita dia.


Tahun 1982 saya mulai ikut nimbrung di Grup Apresiasi Sastra (GAS) ITB, yang konon salah seorang pendirinya adalah Irzadi Mirwan, sang aktivis yang naas itu. Juniarso Ridwan, Agus Sachari, Iwan Soekri Munaf, Eddy Soet Riyono, Chandra Johan dan Krishna Murti adalah para senior (sebagian dari mereka sudah alumni) yang masih sering muncul di Student Centre ITB, di mana GAS bermarkas. Moh. Ridlo Eisy yang menjadi pembina Pramuka, Yayak Kencrit yang menggawangi Studi Teater Mahasiswa (STEMA) atau Sanento Yuliman yang dosen seni rupa juga sering kongkow-kongkow di sana. Tahun-tahun berikutnya atmosfir sastra di Student Centre itu semakin hangat dengan munculnya penulis-penulis baru yang menjadi anggota GAS. Nirwan Dewanto, M. Fadjroel Rahman, Arya Gunawan, Kurnia Effendi, Sigit Haryoto dan Sujewo Tejo (yang kemudian mendirikan unit Ludruk) adalah di antara yang masih saya ingat sampai sekarang.


Meskipun Irzadi Mirwan seorang pendiri GAS, namun saya belum pernah membaca satu pun puisi yang ditulisnya. Di mata saya waktu itu sosok Irzadi tetap seorang aktivis, seorang demonstran yang berani. Bukan seorang penyair.


***


Pertengahan tahun 2007 ini, ketika sedang berada di Cirebon, saya ditelepon seseorang yang belum saya kenal sebelumnya. Dengan suara yang kurang jelas orang itu mengatakan akan mengirim manuskrip kumpulan puisi karya seorang alumni ITB lewat e-mail, dan meminta kesediaan saya untuk menulis pengantarnya. Mungkin karena kebetulan saya sedang sibuk melakukan perjalanan ke berbagai daerah, nama yang disebut-sebut di telepon itu tidak langsung nyambung pada memori saya. Ketika di Samarinda, Magelang, Yogyakarta dan Malang saya terus dihubungi, namun nama penyair yang alumni ITB itu masih tetap samar-samar. Memang saya masih belum menyempatkan diri membuka e-mail itu. Dan ketika kesempatan membuka e-mail tiba, di mana nama Irzadi Mirwan terpampang di layar monitor, barulah saya merasa ngeh. Barulah saya terperangah. “Ini Irzadi Mirwan yang aktivis ITB dulu itu!” teriak saya pada diri sendiri.


Puisi bukan hanya milik para penyair, puisi milik siapa saja yang ingin menuliskannya. Dan puisi boleh ditulis oleh siapa saja, dari kalangan mana saja dan untuk keperluan apa saja. Banyak tokoh-tokoh besar yang di akhir hayatnya ketahuan menulis puisi. Bahkan puisi-puisi yang ditulis mereka begitu tak terduga dan luar biasa. Saya merasa yakin bahwa siapa pun yang bisa membaca dan menulis pasti pernah berpuisi, paling tidak ketika sedang jatuh cinta. Saya juga merasa yakin bahwa pada situasi-situasi tertentu puisi menjadi sangat penting dalam kehidupan seseorang, menjadi bagian paling intim dalam dunia batin seseorang.


Soe Hok Gie, seorang aktivis yang juga meninggal di gunung, diam-diam menulis puisi cinta yang sangat mengharukan di buku hariannya. Ahmad Wahib, aktivis HMI yang mati tertabrak motor pada usia muda, juga menulis puisi di antara tulisan-tulisannya yang berat tentang pemikiran Islam. Saya yakin Heri Akhmadi, Al-Hilal Hamdi, Rokhmin Daruri, Said Agil Al-Munawar, Nazaruddin Samsuddin, Mulyana W. Kusuma, Bob Hasan, Tommy Soeharto, Bedu Amang, Widjanarko Puspoyo, Abdullah Puteh, Nurdin Halid, Roy Marten, Doyok atau Amrozi dan Imam Samudera juga diam-diam menulis puisi di penjara. Hanya saja nama-nama yang saya sebutkan di atas masih hidup sehingga puisi-puisinya mungkin masih mereka disembunyikan.


Menulis puisi bisa dipahami sebagai upaya seseorang untuk mengutuhkan, melengkapkan atau menyempurnakan kemanusiaannya. Sebuah upaya idealisasi lewat kata-kata dalam merespon kenyataan yang sering kali jauh dari yang diharapkan. Tahun-tahun berlalu, zaman berganti, rezim berubah, presiden datang dan pergi, partai terus berbiak seperti kelinci, rasanya tak banyak yang berubah dalam kehidupan sehari-hari. Kemiskinan, ketidakadilan, keserakahan tetap berlangsung seperti sedia kala. Begitu juga dengan majunya ilmu pengetahuan, tingginyanya teknologi, canggihnya sistem politik dan teori ekonomi tak banyak menolong rakyat dari kesengsaraan. Manusia tidak pernah terangkat nilai kemanusiaannya.


Ketika membaca puisi-puisi Irzadi Mirwan yang ditulis pada dekade 1970-an saya merasakan upaya idealisasi tersebut. Irzadi berusaha keras memperjuangkan sebuah perubahan dalam kehidupan, baik kehidupan pribadi maupun yang bersifat umum. Puisi-puisinya yang ditulis dengan bahasa sederhana seakan mendedahkan sebuah dambaan terhadap kemanusiaan yang utuh dan lengkap, yang dalam kenyataan sehari-hari sangat sulit ditemukan. Inilah upaya penyair dalam menghadapi kehidupan yang seringkali tidak bersahabat atau malah justru mengancam kemanusiaan itu sendiri. Lewat puisi-puisinya, dengan sangat halus dan lembut ia memberikan kesaksian imajinatif tentang apa yang terjadi di sekelilingnya. Lewat puisi-puisinya pula ia menunjukkan keprihatinannya, juga keberpihakannya yang mendalam pada orang-orang kecil. Lewat puisinya pula ia mengangankan sebuah kehidupan yang lebih utuh dan lengkap. Sebuah kehidupan yang lebih sempurna.


Tentu saja puisi berbeda dengan pidato atau orasi. Puisi berbeda pula dengan mengumpat, menghujat atau mengejek yang biasa dilakukan para demonstran. Puisi mempunyai wataknya sendiri, yang keistimewaannya bukan terletak pada apa yang ingin disampaikan, melainkan pada bagaimana cara menyampaikannya. Kemiskinan, ketidakadilan, keserakahan atau pengkhiatanatan terhadap bangsa misalnya, hanyalah serangkaian tema. Tema-tema semacam ini mungkin sangat menarik jika disampaikan lewat pidato atau orasi, apalagi jika yang menyampaikan seorang orator ulung. Namun bagi puisi tema-tema besar tersebut barulah bahan mentah, yang masih membutuhkan pengolahan lebih lanjut dan intens. Lalu sejauh mana penyair mampu mengolah bahan mentah menjadi sebuah puisi yang istimewa? Ini sangat tergantung pada kemampuan penyair memanfaatkan unsur-unsur yang ada dalam puisi itu sendiri.


Membaca puisi-puisi Irzadi Mirwan saya seperti menemukan sesuatu, yakni adanya watak kepenyairan yang tersembunyi dalam dirinya. Meskipun tema-temanya terkesan kontekstual namun ia tidak kehilangan unsur-unsur terpenting dari puisi. Puisi-puisinya tetap berwatak puisi, berwajah puisi. Bukan sejenis pidato atau orasi yang dipuitis-puitiskan, bukan juga puisi yang diteriakkan. Terus terang ini sangat mengagetkan saya, mengingat ia seorang aktivis yang bicaranya selalu berkobar-kobar, yang semangatnya begitu menyala-nyala. Di sini terbukti, bahwa seorang aktivis yang pernah dipenjara karena keberaniannya menentang penguasa Orde Baru ini luluh di hadapan puisi. Lebur di bawah pesona kata-kata:


kanak-kanak adalah daun hijau

dilapis titik-titik air sehabis hujan

kanak-kanak adalah langkah-langkah pendek

di tengah derap kehidupan


kanak-kanak adalah halaman tengah

kitab-kitab percintaan

kanak-kanak adalah seribu pasang mata

yang bertanya tentang masa depan


kanak-kanak adalah ketidakpastian

tentang harapan-harapan

kanak-kanak adalah mimpi sejenak

sebelum tersentak oleh kenyataan


Irzadi Mirwan berusaha meredam suara kerasnya, berupaya memejamkan mata nyalangnya, berusaha menurunkan jari telunjuknya, lalu mengaktifkan seluruh indera yang dimilikinya. Dengan begitu ia menjadi sensitif, menjadi peka dan terbuka. Dengan kepekaan dan keterbukaan inilah ia mengamati hal-hal kecil, menghargai yang nampak remeh dan sepele. Ia ingat seorang bocah di sebuah stasiun kecil, ingat seorang nenek dalam oplet tua yang sesak, ingat pohon-pohon di sepanjang jalan, ingat pagar rumah seorang gadis, ingat kamar kontrakannya dan seterusnya. Di sini ia bukan lagi seorang yang selalu berbicara masalah besar, masalah penting dan genting saja. Tapi seorang yang mempunyai kepeduliaan pada lingkungan terdekatnya, yang memikirkan tetangganya, yang kerap berdoa kepada Tuhannya, yang jatuh cinta sebagaimana anak muda lainnya, yang juga bisa merasakan keindahan senja serta kicau burung pagi hari. Di sini ia menjadi seorang penyair:


yang menetes bersama butir embun

dari daun tertunduk

dan lelumut lekat di batang kayu


yang menjajari tiang-tiang cahaya

sinar matahari menembus

pepohonan di hutan lembab


yang melayang bersama gumpal kabut

di atas permukaan air

danau dingin warna perak


yang bersahutan dengan

kicau burung pagi hari

suara-suara aneh rimba malam


yang membelai

jiwa letih dalam kemarahan

hampir putus asa


Irzadi Mirwan membangun puisinya dengan ungkapan yang lugas, dengan kata-kata yang langsung namun bernas. Puisi-puisinya terkesan terang, terutama karena kata-kata yang digunakan masing-masing mempunyai fungsi dan makna yang jelas. Bahasanya juga bersih dan jernih, tanpa banyak rekayasa. Tanpa banyak menghadirkan ungkapan artifisial atau mengada-ada. Meskipun kerap mengangkat masalah ketimpangan sosial yang terjadi di tengah masyarakat, namun ia tidak terjebak pada ungkapan-ungkapan verbal dan bombas. Kegeraman dan kemarahannya selalu mampu diredam oleh pengendaliannya yang ketat terhadap kata-kata:


berhati-hatilah kawan

sebentar lagi malam akan datang

di gelapnya kita tidak tahu

dari arah mana kita ditikam


cerita tentang lilin

yang rela hancur untuk menerangi

telah jadi omong kosong

sumbunya tak mampu terbakar lagi

dan oksigen telah lenyap di udara


Begitu juga puisi-puisi yang ditulisnya selama menjalani masa tahanan, tidak serta merta menjadi emosional dan membabi buta. Tidak serta merta mengumbar kejengkelan atau sumpah serapah kepada penguasa yang telah mengurungnya dalam sel. Ia justru berhasil menemukan sudut pandang yang lain tentang makna penjara, sudut pandang yang segar, sudut pandang khas penyair:


masih ada celah

di antara jendela kamar tahanan

untuk mengintipnya


masih ada tempat

untuk perasaan-perasaan kita

yang sering tak sempat bicara


Lewat tulisan singkat ini saya ingin mengenang Irzadi Mirwan, seorang aktivis yang saya dulu kagumi. Irzadi kini hadir di hadapan kita dengan puisi-puisinya, dengan segala kesaksian, keprihatinan serta keberpihakannya pada orang-orang kecil. Dengan lembut ia menyapa kita, menegur rasa kemanusiaan kita yang mungkin sudah mulai berkarat. Ia mengingatkan kita bahwa perjuangan belum selesai, belum apa-apa. Bahwa perubahan belum benar-benar terjadi di negeri ini, bahwa keadilan masih merupakan angan-angan yang jauh. Bahwa pengkhianatan terhadap bangsa juga dilakukan oleh teman-teman kita bahkan oleh kita sendiri. Irzadi yang meninggal dalam usia muda, yang tidak merasakan ruwetnya Orde Reformasi serta semakin canggihnya praktek korupsi, kini hadir bukan sebagai aktivis atau politisi (di mana teman-teman seperjuangannya dulu banyak yang kini sudah berdasi atau berbaju safari, baik sebagai menteri maupun “juragan” partai yang mulai lupa diri). Tapi hadir sebagai penyair. Hadir menyuarakan nuraninya yang paling dalam.


(2007)

Prev Next Next