Artikel 34

KATA BUKAN SEGALA-GALANYA

Acep Zamzam Noor


DALAM sebuah diskusi sehabis pembacaan puisi “Bandung-Jakarta Via Bulungan” di Gelanggang Remaja Bulungan tahun 1988 silam, Sapardi Djoko Damono mengatakan bahwa puisi-puisi Beni Setia termasuk yang tidak mudah begitu saja ditafsirkan. Hal ini bukan karena semata-mata begitu banyaknya kata-kata asing yang digunakan, tapi terutama disebabkan kesukaannya menyusun begitu banyak citraan dalam sebuah puisi, dan citraan-citraan tersebut ditempatkan dalam situasi yang dramatik pula.

Pendapat Sapardi cukuplah beralasan mengingat puisi-puisi Beni Setia – sejak awal kepenyairannya sampai kini – bukanlah termasuk puisi yang tertib, atau yang kata-katanya runtut dan mengalir. Idiom-idiomnya kadang lurus, namun tiba-tiba berbelok, menikung penuh kejutan, meloncat-loncat lincah. Pilihan kata-katanya bebas dan cenderung seenaknya, santai dan kadang jenaka. Membaca puisi-puisi Beni Setia kita seperti keluar dari kamar, memasuki keriuhan pasar serta kesibukan terminal. Kita mendengar beragam suara percakapan, ditingkah bunyi klakson dan teriakan, kemudian senyap. Kadang kita biasa saja mendengarnya, namun kadang juga terusik dan terteror. Kata-kata biasa atau sehari-hari dalam puisi Beni memang mengarah pada kalimat-kalimat prosa, namun dengan frase yang terpatah-patah, dengan diksi yang sering di luar dugaan pembaca.

Ketidaktertiban dalam berpuisinya ini bukanlah disebabkan oleh ketidakmampuan Beni Setia dalam menyusun frase atau diksi dengan alur yang jelas, tapi justru karena didasari oleh suatu sikap eksperimentasi terhadap kata-kata itu sendiri. Puisi-puisinya seakan ingin melepaskan diri dari semua kaidah penulisan puisi konvensional. Beni berusaha merambah jalan baru meskipun masih dalam bentuk dasarnya yang masih lirikal. Jalan baru yang dirambahnya mungkin hanya merupakan sebuah gang kecil dari jalan raya tradisi perpuisian yang ada. Tapi betapa pun kecilnya gang itu layaklah untuk kita catat sebagai upaya eksperimentasi.

Apa yang dilakukan Beni Setia dengan eksperimentasinya ini, yang salah satunya sering memasukkan banyak unsur dialog seperti dalam prosa, memang pernah juga dilakukan penyair-penyair lain seperti Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono sampai Yudhistira Ardi Neograha. Tapi yang membedakan dengan ketiga penyair tadi adalah kebebasan Beni dalam memilih dan menggunakan kata-kata. Nampaknya bagi Beni kata-kata bukanlah sesuatu yang agung, yang merupakan unsur terpenting dalam puisi hingga penggunaannya pun membutuhkan pertimbangan-pertimbangan yang matang. Bagi penyair ini kata-kata sepertinya sesuatu yang biasa saja, maka dengan cuek ia bisa memungutnya dari mana saja: dari jalan, dari pasar, dari terminal, dari tong sampah atau got, bahkan dari majalah atau koran bekas. Kebebasan dan kesantaian ini bukan hanya dalam memilih kata, tapi juga dalam memenggal kalimat serta menggunakan semua tanda baca yang terdapat dalam mesin tik.

Dengan caranya yang unik ini, Beni menjadi punya keleluasaan untuk berbicara tentang apa saja dengan cara apa saja dalam puisi-puisinya. Tanpa beban-beban pengejaran pada tahap estetika tertentu, atau bahkan tanpa pertimbangan terjalinnya komunikasi dengan pembacanya. Beni sepertinya langsung menulis apa yang dipikirkannya atau dirasakannya atau dilihatnya sebagai respon atau reaksi personal terhadap apa yang terjadi. Maka tidak terlalu mengherankan jika Beni Setia termasuk salah seorang penyair, juga cerpenis dan eseis, yang sangat produktif akhir-akhir ini. Karya-karyanya tersebar di mana-mana, mulai dari koran-koran pusat sampai daerah, mulai dari majalah sastra sampai majalah hiburan. Dua buku kumpulan puisinya pun telah terbit, yakni Legiun Asing (1987) dan Dinamika Gerak (1990) yang sedang kita bicarakan ini.

Dinamika Gerak yang terbit dalam bentuk luks secara keseluruhan menghimpun 49 puisi yang dibagi tiga bagian, yakni Perasaan yang Tersinggung (17 puisi), Wilayah Pembebasan (18 puisi) dan Alam Benda (14 puisi) dalam rentang waktu penciptaan 1977-1987. Meskipun terjadi upaya eksperimentasi dalam bentuk dan pengucapan, dalam soal tema nampaknya Beni Setia masih bertahan dalam kecenderungan umum. Beni masih bercerita tentang kesunyian, kegelisahan, keterasingan, gegar budaya dan bahkan cinta. Memang tak bisa dipungkiri itulah inti persoalan setiap manusia, inti persoalan kehidupan. Namun yang membedakan penyair ini dengan manusia yang lain adalah karena ia mengungkapkan persoalan-persoalan tersebut dalam bentuk puisi, dengan cara penulisan yang lain pula. Salah satu puisinya yang berbicara tentang kegelisahan manusia modern kita kutip di sini:

sebotol whiskey diteguk di bangku ruang tunggu
dan sembilan belas morfin kemut menunggu izin
kunyah. “dokter, beri kami ketenangan batin…”
dokter itu ternyata hanya otomat. ditilik istri
dibaringkan pada (sistem) dan berjalan-jalan
diguncang dan dibubuhi cap jadwal.
diancam masa depan!

Gregory Corso, seorang penyair Amerika dari kelompok The Beat, dalam salah satu eseinya menyatakan bahwa penyair adalah mata-mata. Ia adalah mata-mata, tugasnya memata-matai setiap orang dan melaporkannya kepada semua orang. Dengan demikian penyair adalah mata-mata kemanusiaan, mata-mata kehidupan. Dan apa yang diungkapkan Beni dalam puisi di atas adalah laporan dari hasil memata-matai peradaban modern yang berdampak cukup serius bagi kehidupan, yakni kegelisahan dan kesakitan kolektif umat manusia. Semua orang merasa gelisah, semua orang merasa sakit, semua orang mencari ketenangan dalam hidupnya. Seks dan narkotika kemudian menjadi jalan keluar yang dibutuhkan. Hiburan yang diperlukan meskipun hanya untuk sesaat. Kita simak bait-bait berikutnya:

“bagaimana kalau kita ke aneka plaza,” kata kawan
“pesan bibir untuk bir dan bibir?” si dokter ketawa
ia pergi ke senayan, omong tentang ‘ wajib rekreasi’
“tapi kita butuh lebih banyak waktu lagi, lagi!”
“ya, ya!” katanya, “untuk candu gantung diri!”

Dalam puisi ini yang menjadi permasalahan adalah sesuatu yang aktual dari hasil pengamatan Beni pada lingkungan sekitarnya. Meskipun hal semacam ini juga sering diberitakan koran-koran atau televisi, jelas puisi ini lebih bermakna dari sekedar berita yang hanya menyampaikan fakta-fakta. Lewat puisi Beni memberikan kesaksian dan menawarkan perenungan tentang masalah itu. Adapun ungkapannya yang terkesan “seenaknya” nampaknya sudah sangat disadari sejak awal. Dan seperti yang sudah disinggung di muka, kata bagi Beni bukanlah segala-galanya. Seperti ada yang begitu mendesak untuk segera disampaikan pada khalayak tanpa harus memilih-milih kata yang mana dulu.

Kata-kata yang digunakan Beni dalam puisinya kemudian menjadi sangat ekspresif, dan kekuatannya justru terletak pada ekspresinya yang spontan itu. Dalam puisi-puisinya yang lain ungkapan yang tidak baku atau idiom-idiom daerah (Sunda, Jawa, Batak) terkadang nyelonong begitu saja. Bahkan jika ditilik dari judul-judul puisinya saja kespontanan itu sudah sangat kentara, misalnya “Perasaan Yang Tersinggung”, “Perasaan Bom”, “Catatan Lapar Surealistik”, “Melatih Kucing Cari Makan”, “Sajak Penawar Mabuk” atau “Gairah Kiamat”. Judul-judul semacam ini tak terasa mengada-ngada dan bahkan menunjukkan kekonsistenannya pada sikap semula.

Dalam puisi berjudul “Bercacah Naga” kita akan membaca kesaksian Beni Setia tentang kehidupan para gali di terminal. Sesungguhnya puisi ini cukup tragis, tapi kemudian terasa jenaka karena pengungkapannya yang karikaturis:

dekat terminal orang mencegat. “apa yang
saudara lakukan di masa lalu?” katanya
(aku ternganga). Dengan sigap diperintahkan
agar aku membuka pakaian.
“kami mencari orang yang mencacah dadanya,”
katanya, “dengan kebengalan!” tak dibuka:
celana. Semua sungguh-sungguh
tak ada waktu untuk melucu -- merasa lucu
apa arti semua ini? Seakan-akan manusia itu
keong. Penjara yang dibangun mustahil bisa
ditinggalkan. Sekali mencacah naga
seumur hidup menjadi ular. Sah dikemplang siapapun

Puisi ini ditulis tahun 1983, saat sedang santer-santernya isu tentang penembakan misterius terhadap para gali. Dalam puisi ini juga Beni hanya memberi kesaksian, dan tentu saja keprihatinan. Perhatian Beni pada manusia pinggiran cukup besar. Cukup banyak puisi dalam kumpulan ini yang berbicara tentang masalah itu. Dalam bait terakhir “Pledoi Bagi Kucing”, Beni menulis: tuan dan nyonya, kucing adalah kucing/cukup disembur dengan air sambil dibentak/atau dikejar sambil digertak dengan lidi/dan kucing tak perlu ditembak atau digantung/karena kucing bukan Kusni Kasdut atau Henky Tupanwael atau Desin Batfari.

Kembali pada pendapat Sapardi Djoko Damono di awal tulisan ini, bahwa puisi-puisi Beni Setia termasuk yang tidak mudah dipahami begitu saja karena bertumpuknya citraan dalam sebuah puisi. Memang, untuk bisa memahami puisi-puisi Beni tidaklah mudah meski juga bukan berarti sulit. Banyaknya kata-kata asing yang berasal dari luar negeri maupun daerah-daerah tertentu di Indonesia seperti alxa shamo, alxa zouqi, marco polo, gibson, shiraz, multazam serta arafah dalam puisi “Talbiyah” (1987) atau tao toba, pusuk buhit, kubur placenta, rahim kalimbubu dalam puisi “Ziarah” (1987) menuntut pengetahuan ekstra tentang sejarah atau apa saja dari para pembaca untuk memahaminya. Kata-kata asing itu nampaknya dihadirkan Beni untuk lebih menekankan suasana pada puisi-puisinya sekaligus sebagai metafor dari keterasingan dan kesepian itu sendiri, yang merupakan tema sebagian besar puisi-puisinya dalam kumpulan puisi terbarunya ini.

(1990)
Prev Next Next