Artikel 38

SEDIKIT TENTANG OCTAVIO PAZ

Acep Zamzam Noor


OCTAVIO Paz adalah penyair terkemuka asal Meksiko yang berhasil meraih Hadiah Nobel 1990. Kemenangannya tahun ini bukanlah sesuatu yang mengejutkan mengingat bahwa ia bersama beberapa sastrawan Amerika Latin terkemuka lainnya seperti Pablo Neruda, Gabriel Garcia Marquez dan Camillo Jose Cela – yang sudah lebih dulu mendapat penghargaan sastra paling bergengsi itu – sudah berulang kali dicalonkan. Jadi kemenangannya tahun ini hanyalah soal waktu saja.

Octavio Paz memulai kepenyairan sejak usia sangat muda dengan mengambil bentuk-bentuk puisi tradisional. Kepergiannya ke Spanyol pada tahun 1937, yang saat itu tengah dilanda perang saudara, sangat mempengaruhi visi kepenyairannya di kemudian hari. Dia tinggal di Spanyol untuk beberapa lama dan sempat berkenalan dengan para penyair seperti Alejo Carpentier dari Kuba serta Robert Desnon dari Perancis.

Sepulang dari Spanyol, Octavio Paz banyak menulis esei-esei politik dan kemudian mendirikan jurnal sastra Teller pada tahun 1938, yang merangkul para penyair muda Meksiko dan Spanyol. Lalu pada tahun 1943 mendirikan majalah El Hijo Prodigo. Antara tahun 1943-1945 dia bertugas di Amerika Serikat sebagai diplomat, dan sejak itu karirnya dalam dunia diplomatik terus menanjak. Paz juga pernah bertugas di Perancis, yang kemudian membuatnya bersahabat dengan Andre Breton serta penyair-penyair surealis lainnya. Persahabatannya dengan kaum surealis ini sangat mempengaruhi puisi-puisinya kemudian.

Tahun 1949 kumpulkan puisinya yang pertama, Libertad Hajo Paladra, terbit dan mendapat sambutan yang hangat. Kemudian disusul oleh kumpulan eseinya, El Laberinto de La Soledad. Karya-karyanya terus mengalir dengan deras, baik puisi maupun esei. Paz tidak hanya kreatif menulis, tapi juga aktif menghidupkan kegiatan sastra di negerinya. Tahun 1962 penyair ini diangkat menjadi duta besar Meksiko untuk India. Selama bertugas di India, Octavio Paz banyak berkenalan dengan filsafat dan mistisisme Timur seperti ajaran Vedanta, Budhis dan juga tasawuf yang sangat menarik perhatiannya. Sejak itu karya-karyanya pun banyak menyerap napas ketimuran seperti yang nampak ditunjukkan dengan kumpulan puisinya Ladera Este dan terutama dalam prosa-prosa lirisnya.

Tahun 1968 Octavio Paz meletakkan jabatannya sebagai duta besar sebagai ungkapan protes atas tindakan pemerintah Meksiko yang sewenang-wenang terhadap demonstrasi mahasiswa di negerinya. Setelah itu ia menghabiskan waktunya dengan mengajar di sejumlah universitas, di antaranya Cambrigde University dan Texas University. Selain sebagai penyair dan eseis yang kuat, Paz juga dikenal sebagai kritikus kebudayaan, politik, sastra dan bahkan telaahnya tentang seni rupa dinilai sangat tajam seperti yang ia tunjukkan ketika menulis tentang seniman garda depan, Marchel Duchamp.

Akademi Swedia yang menjadi panitia Hadiah Nobel menilai putra seorang pengacara ini sebagai penyair yang mempunyai semangat dan pandangan universal. Dalam dirinya menyatu berbagai kebudayaan yang mencerminkan perspektif wawasannya yang sangat luas sebagai penyair dan pemikir, di samping tentu saja ditunjukkan oleh kecemerlangan nilai-nilai puitik dari puisi-puisinya itu sendiri. Octavia Paz banyak mengungkapkan kesepian manusia modern dengan sentuhan rasa kemanusiaannya. Selain itu sejumlah puisinya dinilai berhasil menggambarkan secara esensial suasana dan panorama Meksiko yang indah, seperti yang ia tunjukkan lewat puisi-puisinya yang diilhami kalender-kalender kuno dari suku Aztek.

***

Sekitar tahun 1987 yang lalu, penyair sufistik Abdul Hadi W.M. menerjemahkan belasan puisi-puisi pendek Octavio Paz yang dimuat pada rubrik budaya Harian Berita Buana. Dari terjemahan puisi-puisinya itu nampak sekali kecenderungan estetis dan spiritualnya yang membawa kita pada suasana ketimuran seperti yang terdapat pada lirik-lirik Cina klasik atau haiku-haiku Jepang, sedang imaji-imajinya mengingatkan kita pada napas puisi-puisi kaum sufi dari Persia. Kita baca salah satu terjemahan tersebut:

SENTUHAN

Tanganku
Menyingkap tabir-tabir wujudmu
Menyelimutimu dengan ketelanjangan
Lebih telanjang
Menutup tubuh-tubuh dari tubuhmu
Tanganku
Menjumpa tubuh lain bagi tubuhmu

Puisi di atas nampak memperlihatkan sensualitas yang halus dari kepenyairan Octavio Paz, di mana puisi dipandang sebagai cara berkomunikasi untuk memecahkan kesunyian manusia dan membangun kembali totalitas kemanusiaannya. Dalam salah satu eseinya, seperti yang dikutip Abdul Hadi W.M. ketika mengantarkan terjemahan puisi-puisinya itu, Paz mengatakan bahwa puisi adalah suara lain. Puisi bukan suara sejarah atau suara yang menolak sejarah, puisi selalu mengatakan sesuatu yang berbeda. Di sini nampak pendiriannya yang percaya bahwa kodrat puisi tidak mengenal ideologi. Paz tidak menyukai puisi-puisinya dihubungkan dengan dunia politik, sekalipun aktivitas sehari-hari penyair yang juga diplomat ini tak pernah lepas dari dunia politik. Puisi-puisinya justru sangat jernih dan mengesankan terlahir dari suatu kontemplasi yang khusyuk.

Di bawah ini saya kutip beberapa terjemahan yang lain, yang bukan saja menampakkan napas ketimuran dengan sensualitasnya namun juga sarat dengan sentuhan nilai-nilai spiritualitas:

LAGU CINTA

Lebih bening
Dari air menetes ini
Lewat jemari kembar anggur
Pikiranku membentangkan jembatan
Dari dirimu ke dirimu
Menatapmu
Lebih tepat dari menatap tubuh yang kaudiami
Nyatu di pusar jiwaku
Kau lahir buat hidupku di sebuah pulau


SUBUH

Dingin mempercepat tangan
Menarik kembali satu-satu
Balutan-balutan kegelapan
Kubuka mataku
Masih
Aku hidup di tengah
Luka yang masih segar


PERSAHABATAN

Inilah jam yang ditunggu
Di atas meja berjatuhan
Tanpa putus
Pencaran rambut lampu
Malam menggerakkan jendela menuju
Keluasan
Tak seorang di sini
Kehadiran tanpa nama mengepungku

Puisi-puisi yang diterjemahkan Abdul Hadi W.M. ini memang dipilih dari puisi-puisinya yang singkat dan padat, namun dari imaji-imaji yang diungkapkannya kita bisa melacak gambaran umum dari kecenderungan estetis dan spiritualnya yang banyak bersentuhan dengan beragam nilai budaya, tradisi dan kepercayaan. Dalam setiap puisinya tergambar bagaimana penyair ini selalu berusaha mencari sesuatu yang innocence hingga puisi-puisinya nampak murni sebagai nyanyian batin atau suara puisi itu sendiri.

Seperti juga Joseph Brodsky, Eugene Montale, Juan Ramon Jimenez, W.B. Yeats, Vicente Aleixandre serta penyair-penyair pemenang Hadiah Nobel lainnya, puisi-puisi Paz adalah puisi yang murni puisi. Dan yang menarik, bahwa kebanyakan dari penyair-penyair tersebut di atas adalah aktivis politik atau malah pembangkang politik di negerinya. Namun mereka tidak menyangkutkan aktivitasnya berpolitik dengan kemurinian puisi-puisinya, apalagi memperalatnya untuk propaganda. Dengan demikian puisi tetap menjadi ruang yang mewarkan keheningan.

Octavio Paz berpendapat bahwa penyair seharusnya tidak sekedar berbicara tentang cinta atau horor, tapi juga harus menunjukkannya. Kata-kata dalam puisi tidak bisa dibatalkan atau diganti, juga tak bisa dijelaskan kecuali oleh puisi itu sendiri. Menurutnya, makna yang dikandung puisi tidak berada di seberang puisi tapi di dalam puisi itu sendiri. Begitu juga imaji-imaji dalam puisi tidak berada di luar makna, tetapi di dalam makna. Paz mengakui bahwa aktivitas kepenyairan kemudian akan menjadi lebih tersembunyi, terisolir namun tetap unik. Perhatian yang besar pada masalah-masalah sosial, politik dan sejarah seperti yang tergambar dari esei-eseinya, nampak hanya sekedar latar dari pencapaian nilai-nilai puitiknya selama ini. Semua yang pernah ditulisnya seakan-akan mengabdi pada puisi.

Bagi Octavio Paz penciptaan puisi sangat penting dan harus dilakukan dalam kondisi apapun, sebab hal ini merupakan upaya penemuan kembali segala kekuatan purbani yang dibutuhkan manusia, termasuk untuk menyatakan “tidak” kepada kekuasaan. Menurutnya, kekuasaan bukan saja telah merampas kehidupan sebagai wadah melainkan juga sudah menguasai nurani manusia secara keseluruhan. Dalam terjemahan puisi di bawah ini barangkali akan lebih jelas bagaimana sikap kepenyairannya yang kokoh di tengah ngungunnya senjakala peradaban:

YANG LAIN

Dia menemukan sebuah wajah bagi dirinya
Di sampingnya
Dia hidup, mati dan bangkit kembali
Berkali-kali
Hari ini wajahnya
Memiliki kerutan wajah itu
Kerutannya tak memiliki wajah

Demikianlah serba sedikit tentang Octavio Paz, penyair kelahiran Mexico City tahun 1914 yang juga pernah meraih Hadiah Jerusalem (1977), Hadiah Carventes (1981) dan Hadiah Alexis de Tocqueville (1989) sebelum dianugerahi Hadiah Nobel tahun ini, dengan beberapa terjemahan puisinya yang saya dapatkan dari lembaran koran lama. []

(1990)
Prev Next Next