(41) - Artikel Sastra


MENJADI SISIFUS

 Acep Zamzam Noor


KETIKA mendapat kiriman ratusan puisi dari 15 penyair Jawa Barat  yang terpilih untuk mengikuti perhelatan sastra di Cibutak, Kabupaten Bandung, sungguh saya merasa gembira sekaligus takjub membacanya. Gembira, karena puisi masih terus ditulis dan tumbuh subur di provinsi yang keindahan serta kekayaan alamnya  digasak tanpa kenal ampun demi penambangan, padahal jelas-jelas merusak lingkungan. Takjub, karena puisi-puisi yang ditulis 15 penyair terpilih dari provinsi yang gubernur, bupati, walikota maupun anggota dewannya banyak terlibat korupsi ini sungguh melegakan. Selain tidak mengkorup bakatnya dalam berpuisi,   masing-masing penyair juga menunjukkan pencapaian yang berarti meski dengan kadar yang berbeda-beda. Tentu saja pencapaian tersebut merupakan hasil dari pergulatan mereka dengan bahasa secara terus-menerus bahkan habis-habisan.
Konon bahasa merupakan musuh utama para penyair, maka siapapun yang ingin serius menulis puisi harus berusaha sekuat tenaga untuk bisa menaklukan serta menguasainya. Bukan sebaliknya malah ditaklukan, dikuasai atau dijajah bahasa. “Kalau perlu anggap saja bahasa itu sebagai Belanda, dan kita sama-sama melawannya untuk kemerdekaan,” kata salah seorang guru saya waktu di pesantren dulu. Saya lupa nama guru yang pertama kali memperkenalkan syair Abu Nuwas pada saya tersebut, yang jelas orangnya lucu, galak dan berjenggot.
Dari ratusan puisi yang saya baca berulang-ulang sejak satu bulan lalu muncul sebuah kesan yang kuat: 15 penyair dari provinsi yang setiap ruas jalannya dipenuhi spanduk maupun baligo politik yang bikin mual ini sudah paham apa yang ingin diungkapkan dan bagaimana cara mengungkapkannya. Dengan kata lain mereka yang berasal dari provinsi yang klub-klub sepakbolanya sulit berprestasi ini sudah menunjukkan kesungguhan serta keseriusannya dalam menggauli serta menghidupi puisi, paling tidak sampai hari ini.
Tadinya saya sempat ragu ketika Ahmad Faisal Imron dari Cibutak Foundation meminta saya mengulas puisi karya para penyair ini, terutama karena begitu banyaknya nama yang terlibat. Saya ragu bagaimana harus mengulas karya mereka satu persatu hanya dalam beberapa lembar polio saja. Selain itu saya merasa belum punya senjata, perkakas, alat atau teori yang canggih dan pas untuk mengapresiasi puisi yang baik tema, bentuk  dan kecenderungannya berbeda satu sama lain. Untung saja belakangan ini saya sedang suntuk-suntuknya melukis, yang merupakan hobi saya yang lain selain menulis puisi. Sebagai pelukis yang tergolong modernis (belum kontemporer) saya masih bekerja dengan lebih banyak mengandalkan intuisi ketimbang teknologi.
Saya membuat kanvas sendiri dari kain katun yang saya cari sendiri di Gang Tamim atau Cigondewah, lalu memasangnya sendiri pada spanram yang kayunya saya pesan sendiri dari Garut atau Ciamis. Kadang kanvas yang sudah terpasang saya copot lagi karena merasa kurang simetris, lalu saya pasang lagi dan copot lagi, pasang lagi dan copot lagi. Sebelum melukis dimulai saya sudah merasa menjadi Sisifus yang harus mengangkat batu ke atas bukit kemudian menggelindingkannya kembali ke dasar jurang. Selain seluruh tubuh saya terasa pegal dan ngilu karena semua otot terbetot, jemari saya pun luka-luka karena bergesekan dengan kayu yang keras dan runcing.
“Memasang kanvas, apalagi yang ukuran besar, merupakan kutukan bagi pelukis modernis,” kata saya sambil meraba-raba sudut kanvas, merasakan gerak tekstur serta denyut serat-serat benangnya. Lalu dengan penuh perasaan saya ketuk-ketuk permukaannya yang putih dengan ujung telunjuk, jika kanvas tersebut masih belum kencang biasanya saya copot lagi, dan sebaliknya kalau terlalu kekencangan hingga posisi kayunya melenceng atau bengkok saya copot juga untuk kemudian dipasang lagi. Begitulah berulang-ulang.
Sungguh saya merasa menjadi Sisifus meskipun selalu berusaha untuk menikmatinya dengan tulus. Saya berusaha menghayati setiap keringat yang mengucur dari tubuh, mensyukuri setiap darah yang menetes dari jemari. Kadang saya sengaja meludah atau mengoleskan ingus pada permukaan kanvas kemudian digosok-gosok dengan telapak tangan agar merata. Dengan meludah atau mengoleskan ingus saya berharap jiwa saya akan menyatu dengan kanvas tersebut, paling tidak akan ada komunikasi rahasia di antara kami berdua.
 Maka dengan semangat menjadi Sisifus seperti itu pula saya berusaha menikmati puisi demi puisi dari 15 penyair Jawa Barat ini. Tidak semua puisi menyenangkan untuk dibaca, begitu juga tidak semua puisi yang enak dibaca akan memberikan kesan yang dalam sesudahnya. Ada puisi yang begitu saja menampakkan keindahannya pada kita, tapi banyak puisi yang keindahannya muncul setelah kita gali dan selami berulang-ulang, setelah kita sebagai pembaca dipaksa mengangkat batu ke atas bukit kemudian menggelindingkannya kembali ke dasar jurang. Saya kira seorang penikmat puisi perlu juga mempunyai mental seperti Sisifus ini.

***

            Dari 15 penyair ini beberapa di antaranya sudah saya kenal cukup lama, terutama Bode Riswandi, Semmi Ikra Anggara, Dian Hartati dan Fina Sato. Bode dan Semmi sama-sama sekolah di Tasikmalaya, juga pernah aktif di sanggar sastra yang sama. Bode memilih meneruskan kuliah di kota kelahirannya, sedang Semmi mengembara ke Malang dan Bandung. Sementara Dian dan Fina sudah sejak awal hidup bersama, bukan hanya karena kuliah di kampus serta jurusan yang sama, namun mereka berdua kebetulan mempunyai kegemaran yang sama pula. Sama-sama menyukai sastra dan kuliner.
            Setahu saya keempat penyair ini berkawan cukup dekat. Dian dan Fina selain menjadi aktivis sastra di kampusnya juga membentuk komunitas membaca dan menulis di luar kampus. Begitu juga Bode dan Semmi mempunyai komunitas sastra dan teater di lingkungannya masing-masing. Meski berlainan kota mereka berempat selalu berkomunikasi dan saling kunjung mengunjungi. Bode sering mengunjungi Dian,  Fina dan Semmi di Ledeng atau Buahbatu, sebaliknya Dian, Fina dan Semmi pun tak jarang menjambangi Bode di Tasikmalaya. Kegiatan kunjung mengunjungi ini selain erat hubungannya dengan proses kreatif mereka sebagai penyair masa kini, tentu ada kaitan pula dengan masalah kuliner yang mereka sukai. Sesekali mereka berempat mampir ke rumah saya untuk minum kopi.
            Baiquni M. Haririe, Faisal Syahreza, Toni Lesmana, Predewi Tri Chatami dan Sinta Ridwan baru beberapa tahun terakhir puisi-puisinya saya nikmati, baik lewat media masa, antologi puisi maupun facebook. Saya mengenal Baiquni lebih karena kami sama-sama warga NU, banyak kegiatan sosial dan budaya di seputar pesantren yang kemudian mempertemukan kami. Dan sebagai sesama NU kultural selalu ada hubungan batin yang sifatnya khos atau khusus, yang tak bisa diceritakan pada orang kebanyakan, apalagi  yang sudah terlanjur tidak mempercayai adanya khadam atau makhluk halus.
Faisal Syahreza awalnya saya kenal lewat sejumlah lomba penulisan puisi yang rajin diikuti serta kerap dimenanginya, setelah itu kami sempat bertemu di Bandung, Cianjur dan Kualalumpur, terakhir bertemu sewaktu meluncurkan kumpulan puisinya di Tasikmalaya. Sementara Toni Lesmana sudah cukup lama saya kenal sebagai penyair dan cerpenis Sunda yang menonjol. Baru dua atau tiga  tahun terakhir penyair yang menetap di Ciamis ini banyak mengumumkan puisi maupun cerpennya dalam bahasa Indonesia, yang ternyata mempunyai kekuatan yang seimbang dengan karya-karyanya dalam bahasa Sunda. Dalam waktu singkat puisi dan cerpennya menembus media-media bergengsi di Jakarta, melampaui teman-teman seangkatannya yang sudah lebih dulu menulis dalam bahasa Indonesia.
Pradewi Tri Chatami pertama kali saya lihat di sebuah gereja protestan di Bandung, beberapa tahun lalu. Setelah itu kami sering kebetulan bertemu pada diskusi atau seminar yang berlangsung baik di gereja tersebut, maupun di UIN, Unpad, GIM atau CCL. Namun saya baru berkesempatan membaca puisi-puisinya dengan leluasa setelah banyak dimuat Pikiran Rakyat dan Jurnal Sajak. Pradewi tubuhnya mungil namun kacamatanya tebal dan rambutnya ikal. Di samping menulis puisi dan cerpen, dia juga banyak menerjemahkan novel-novel dari Amerika Latin.
Perkenalan saya dengan Sinta Ridwan cukup unik, namun sulit untuk menceritakannya secara gamblang di sini. Yang jelas saya mengenal dunia internet karena dialah yang pertama kali membuatkan facebook untuk saya. Dari situ saya banyak membaca catatan hariannya yang menggugah, dan kini catatan harian tersebut telah terbit sebagai memoar yang laris. Sementara puisi-puisinya sendiri baru saya nikmati setelah terbit menjadi buku. Sinta asli orang Cirebon, oleh karena itu saya menduga jangan-jangan dia juga NU seperti Baiquni.
            Tia Setiadi, Bunyamin Fasya, Anis Sayidah, Galah Denawa, Kemas Ferri Rahman dan Adew Habtsa adalah penyair yang juga terlibat dalam perhelatan sastra di Cibutak ini. Tia Setiadi sudah lama saya dengar namanya meskipun belum pernah bertemu, konon dia seorang penulis kritik sastra yang handal di samping penerjemah buku-buku asing yang tekun. Baru tahun lalu saya membaca puisi-puisinya yang cukup berselera, terutama yang dimuat di Pikiran Rakyat, Kompas, Koran Tempo dan Rumah Lebah. Baru tahun lalu pula saya mendapat konfirmasi penting dari Bode Riswandi bahwa Tia Setiadi ini seorang pria, bukan wanita seperti yang saya duga sebelumnya. Tia asli dari Subang seperti halnya Fina Sato, namun lebih banyak beraktivitas di Yogyakarta.
            Bunyamin Fasya orang Singaparna, dengan begitu rumahnya masih bertetangga dengan saya. Namun saya pertama mengenalnya sebagai mahasiswa UIN yang aktif berkesenian di Bandung. Aneh juga, meskipun sudah lama berteman baru dua tahun lalu saya melihat puisi-puisinya muncul di media massa. Sebenarnya dia sudah cukup lama menulis meski baru belakangan menunjukkan keseriusan serta totalitasnya sebagai penyair, terutama setelah namanya saya sarankan untuk diganti. Nama sebelumnya Beni F. Syarifuddin, yang biasa dipanggil Empud kalau sedang berada di kampung. 
            Anis Sayidah belum lama saya dengar namanya dan baru tahun lalu sempat bertemu muka meski tanpa sempat bicara. Puisi-puisinya banyak saya temukan di facebook,  dan belakang saya temukan juga pada antologi yang terbit di Ternate. Anis merupakan salah satu potensi tersembunyi bagi kepenyairan Jawa Barat ke depan, saya kira. Dia tak banyak beredar atau terlibat secara fisik dalam riuh rendah pergaulan sastra di Bandung, namun puisi-puisinya seperti memberikan isyarat yang kuat bahwa sebuah proses kepenyairan sedang dijalaninya dengan gembira.
            Galah Denawa, Adew Habtsa dan Kemas Ferri Rachman merupakan nama-nama yang belum lama saya dengar. Khusus dengan Galah saya pernah bertemu, bahkan dengan gayanya yang lincah ia sempat mampir ke rumah saya. Namun dengan Adew dan Kemas saya lupa apakah pernah bertemu atau belum. Tapi soal pernah bertemu atau belum itu tidak penting, yang jauh lebih penting adalah kehadiran tiga anak muda ini ditambah 12 nama yang sudah saya singgung di muka akan ikut menentukan posisi Jawa Barat dalam peta kepenyairan nasional, yang selama ini sering dianggap berada di bawah provinsi lain yang secara berkesinambungan terus menghadirkan penyair demi penyair.

***

            Membaca seluruh karya para penyair terpilih ini, yang masing-masing diwakili dengan 15 puisi terbaiknya, seperti yang dikemukakan di awal sungguh saya merasa gembira dan takjub. Saya membaca puisi-puisi mutakhir dari Dian Hartati, Fina Sato dan Bode Riswandi rasanya jauh lebih enak dibanding sebelumnya. Ketiga penyair ini menekuni puisi lirik sejak lama, di mana keketatan pada pilihan kata, kekentalan pada ungkapan serta ketelatenan memilih simbol dan metafor menjadi perhatian utama. Konsentrasi pada tiga hal yang menjadi unsur penting dalam puisi tersebut kadang membawa ungkapan mereka pada kekakuan dan ketegangan, yang pada momen tertentu bisa mengarah pada kesamaran serta kegelapan.
Tapi ketiga penyair ini orangnya cukup serius, dengan setia mereka terus berproses hingga dari waktu ke waktu terjadi perkembangan yang berarti, yang membuat puisi mereka lebih enak dibaca dan dinikmati. Meskipun begitu wujud puisi mereka tetap ketat, tetap kental, tetap imajis meski terasa lebih mengalir. Ada unsur kesantaian dan kegembiraan yang muncul di situ, terutama pada puisi-puisi Dian Hartati yang bercerita tentang benda-benda sederhana seperti pisau atau pita kaset. Atau puisi-puisi Bode Riswandi yang bertolak dari catatan harian, di mana ia banyak menyebut jenis-jenis makanan ringan.
Pada sisi lain Bode pun melakukan pergerakan yang berbeda. Sebagian puisi mutakhirnya banyak berisi cerita tentang nama-nama serta tempat-tempat asing yang pernah dikunjungi,  atau mungkin hanya ditemuinya pada novel atau film. Pada puisi-puisi tersebut nampak keterampilan serta kelincahan penyair yang juga cerpenis ini merangkai sebuah cerita rekaan tentang keterasingan manusia dalam wujud puisi lirik.
Sementara Fina Sato tetap mempertahankan bentuk puisinya dengan struktur yang kokoh, dengan kalimat-kalimat yang rapat namun melebar, di mana ia memandang dunia beserta segala fenomenanya sebagai sebuah keluasan tanpa batas. Saya merasa deskripsi atau penggambaran tentang alam yang ditulis Fina dalam puisi-puisinya terasa lebih transparan dibanding sebelumnya. Jika diibaratkan mungkin puisi-puisinya tersebut seperti gedung-gedung kaca yang angkuh menjulang namun tembus pandang.
            Berikutnya saya ingin menyandingkan Toni Lesmana, Syahreza Faisal, Tia Setiadi dan Bunyamin Fasya. Saya merasa ada kemiripan dari keempat penyair potensial Jawa Barat ini, meskipun dari segi tema, bentuk, ungkapan maupun selera berbeda satu sama lain. Lewat puisi-puisinya yang panjang Toni bagaikan pengembara yang terasing dalam pengembaraannya sendiri, ia mencari semata untuk mencari, bukan untuk menemukan. Sementara Syahreza bagaikan seorang kiai kampung yang mensyukuri segala sesuatu sebagai anugerah. Ia mensyukuri hujan, mensyukuri kabut, mensyukuri pergantian siang dan malam, mensyukuri apapun yang tumbuh di kebun dan pekarangan rumahnya. Dengan segala kesederhanaan ia juga mensyukuri suraunya yang sunyi.
Saya membayangkan Tia Setiadi seorang pelukis impresionis yang berkacamata tebal, duduk di pinggir kolam renang yang dikelilingi rumpun bunga dan pohon-pohon cemara. Sambil mengamati gadis-gadis yang sedang berenang, sesekali ia menangkap kilatan-kilatan cahaya di antara daun dan ranting, di antara kabut dan gerimis, lalu melukiskannya dengan garis-garis gemetar, dengan warna-warna yang lahir dari campuran biru, kuning, merah dan hijau hingga melahirkan warna-warna baru tanpa nama. Dari segi bentuk mungkin puisi-puisinya seperti bidang-bidang kanvas ukuran sedang dengan penggambaran obyek yang penuh.
Saya melihat Bunyamin Fasya juga seperti pelukis, namun bukan pelukis impresionis. Ia cenderung  naturalis yang biasa merekam pemandangan dengan rinci, tentu saja sebagai naturalis sejati ia sangat peka pada irama, juga setia pada bentuk asal dari setiap obyeknya. Meskipun begitu lukisannya bukanlah potret digital yang asal jadi, warna-warna yang terapkannya merupakan warna yang diramu dari lubuk hati serta perasaannya sendiri, sehingga memunculkan realitas baru. Misalnya gunung ia gambarkan dengan kuning cadmium, sawah dengan merah amber, pematang dengan biru dongker, langit dengan hijau toska, kerbau dengan ungu janda, kambing dengan putih uban dan seterusnya.
Lalu apa persamaan keempat penyair ini? Saya kira dalam hal mengolah,  merasakan dan memberi tenaga pada kata-kata. Keempatnya telah bekerja keras mengolah bahasa dengan khusyuk, dengan benar-benar merasakan getar pada setiap kata sehingga saling mengikat satu sama lain dalam keutuhan. Kekhusyukan tersebut ada yang mengarah pada diam seperti nampak pada puisi Syahreza dan Bunyamin, ada juga yang bergelora seperti puisi Toni dan Tia.
Semmi Ikra Anggara sejak awal mempunyai selera yang berbeda dibanding teman-teman seangkatannya. Ia gemar dengan ungkapan yang apa adanya, baik dalam mengkritik maupun berkelakar tentang keadaan. Dengan demikian ia tidak banyak mereka-reka frasa, tidak sibuk memilih-milih metafor. Ia lebih suka memungut langsung apa yang ditemukannya dari sudut jalanan, apa yang didengarnya dari pojok kehidupan. Puisi jenis ini bukanlah puisi yang mudah karena harus menghadirkan pesona bukan dari unsur-unsur yang baku seperti diksi, irama, simbol, majas dan seterusnya. Penyair harus menemukan ide terlebih dahulu, baru unsur-unsur yang baku tadi akan mengikuti, meskipun itu juga tidak terlalu penting. Lewat puisi-puisi mutakhirnya Semmi berhasil menggelitik pembaca meski tanpa ada niat untuk melucu. Di sini antara ide dan keterampilan bertautan secara wajar, puisi yang berjudul “Beternak Penyair” merupakan salah satu contohnya:

Dapatlah Pak Acep bibit penyair
Yang didapatkannya dari koperasi desa
Para tetangganya sempat bertanya-tanya
Kenapa Pak Acep lebih memilih bibit penyair
Dibanding bibit ikan mas, bibit palawija atau itik
Biarlah, supaya desa kita lebih indah dalam kata
Kata Pak Acep.

Sepuluh bulan Pak Acep beternak penyair
Mereka sudah pandai memilin kata memotong frasa
Jadi puisi-puisi bermacam mazhab. Namun sebelum
Penyair itu benar matang. Mereka jadi lebih
Pandai membusungkan dada daripada mencipta bahasa
Sebagian dari mereka, malah ingin jadi peternak seperti
Pak Acep.

Seekor penyair datang pada koperasi desa
Dan meminta bibit ikan mas untuk dikembangkan
Tapi dia hanya kebagian bibit bunglon, tak apalah katanya
Bunglon juga menarik, terutama karena pandai berubah warna
Delapan ekor penyair lain kini bersama menanam padi
Meski tak tahu bagaimana caranya membunuh hama
Ketika ribuan tikus menyerang sawah, mereka tak mampu
Menghalaunya. Dan memutuskan untuk jadi tikus juga.

Kini di rumah pak Acep hanya tersisa seekor penyair
Penyair yang bodohnya minta ampun: tak bisa membedakan
Mana kata mana frasa; mana puisi mana prosa.
Biarlah, untuk jadi penyair beneran memang butuh kesabaran
Dan alhamdulillah bakal penyair ini masih suka membaca
Dan tak pernah membusungkan dada.

Sejalan dengan Semmi adalah Baiquni M. Haririe yang sama-sama menyukai ungkapan langsung dan lugas, hanya bedanya Baiquni cenderung serius karena gemar menggarap tema-tema besar seperti masalah sosial, politik dan agama. Seperti halnya yang terjadi pada Semmi, puisi-puisi mutakhirnya juga mengalami banyak perkembangan dibanding empat atau lima tahun lalu. Baiquni semakin lancar dan terampil, ungkapannya terasa lentur dan mengalir, pilihan katanya pun enak meski tetap menggunakan bahasa yang sederhana. Dengan demikian telah terjadi juga pertautan antara ide dan keterampilan, antara apa yang ingin diungkapkan dengan cara mengungkapkannya.
Di antara Semmi dan Baiquni, saya tiba-tiba melihat Sinta Ridwan yang ungkapan-ungkapan puisinya juga lugas dan apa adanya. Uniknya penyair sekaligus filolog muda ini banyak mengangkat sejarah dan mitologi, baik yang digalinya dari naskah kuno di perpustakaan maupun dari hasil penelusurannya ke berbagai situs dan artefak. Sinta banyak melakukan perjalanan serta ziarah ke sudut-sudut Nusantara, bahkan ke pojok-pojok Asia Tenggara. Selain melakukan penelitian untuk karya-karya ilmiahnya tentu saja dalam rangka menyerap ide bagi puisi-puisinya. Tema yang digarap Sinta mungkin termasuk langka, tak banyak orang melakukannya. Saya percaya Sinta mempunyai kapasitas untuk terus mendalami tema langka tersebut.
Sekarang saya ingin menemui Galah Denawa, Adew Habtsa dan Kemas Ferri Rachman. Membaca puisi karya ketiga pendekar gondrong yang konon matanya selalu menyala ini saya seperti membaca semangat dan potensi yang siap meledak. Semangat dan potensi ketiganya sangatlah besar, begitu juga tantangan yang harus dihadapinya. Tantangan yang saya maksud  erat kaitannya dengan mentalitas serta integritasnya sebagai penyair. Jika saja mereka bisa memelihara mentalitas serta integritas kepenyairannya dengan baik, kemudian menjalani tahapan proses dengan wajar dan sabar, saya membayangkan sekali waktu puisi-puisi mereka akan berbicara banyak. Sekali waktu nama mereka akan menjadi penting.
Terakhir, penyair yang akan saya kencani adalah Pradewi Tri Chatami dan Anis Sayidah. Puisi-puisi Pradewi unik karena berangkat dari sesuatu yang intim. Ia bercerita tentang ibu, tentang anak, tentang kelahiran, juga tentang bagian-bagian penting dari tubuhnya sendiri. Kadang puisinya terasa sensual, kadang pula sangat eksistensial. Hal lain yang menarik perhatian saya adalah caranya menyusun frasa, terutama dalam hal memenggal dan mengakhiri kalimat. Beberapa puisinya seperti berangkat dari catatan harian di mana ia bebas meracau sekenanya, dan rupanya cara ini menimbulkan efek puitik tersendiri. Memang puisi-puisinya belum stabil semua, ada yang benar-benar utuh namun banyak juga yang masih mengambang. Meskipun begitu sesuatu yang menggembirakan menyelinap dari setiap puisi yang jumlahnya konon belum banyak itu.
Anis Sayidah berhasil memadukan kesederhanaan dengan kesegaran. Ia senang melukiskan hal-hal yang biasa, misalnya tentang perabot rumah tangga, tentang tumbuh-tumbuhan di pekarangan, tentang bumbu dan masakan, juga tentang dapur, kamar tidur serta ruang tamu. Yang menarik adalah bagaimana semua itu dituturkan dengan lancar, lincah serta diselingi kejutan kecil di sana-sini. Bahasa yang digunakannya bersih, diksi-diksinya terkontrol rapih namun tidak menjadi tegang atau kaku, frasa-frasanya memantulkan irama, dengan sendirinya sesuatu yang segar muncul di situ. Sesuatu yang santai namun serius memancar di situ. Saya berharap Anis Sayidah akan terus menulis puisi meskipun sudah menikah nanti.      

***

            Demikianlah pembacaan selintas saya terhadap 15 penyair Jawa Barat beserta karya-karyanya. Sekarang saya akan menjadi Sisifus lagi, akan mengangkat batu ke atas bukit kemudian menggelindingkannya kembali. Saya akan memikirkan lagi pasir besi sepanjang pesisir selatan Jawa Barat yang terus digasak tanpa henti, tentu saja sambil sesekali mengutuki baligo-baligo politisi yang mengepung habis provinsi ini. []
Prev Next Next