Artikel 37

PUISI ANGGUR OMAR KHAYAM

Acep Zamzam Noor


MESKIPUN sudah ratusan buku ditulis oleh para peneliti mengenai Omar Khayam, namun sangat sedikit yang menyinggung soal kepenyairannya. Omar Khayam memang lebih dikenal sebagai filosof, ahli astronomi dan matematika yang diakui dunia. Puisi-puisi Omar Khayam mulai muncul ke permukaan berkat jasa Edward FitzGelard (1809-1883), seorang penyair Skotlandia yang menerjemahkan puisi-puisinya delapan ratus tahun setelah ia meninggal. Sebelumnya nama serta puisi Omar Khayam hanya terselip dalam beberapa kitab klasik bersama-sama penyair Persia lainnya. Berkat upaya Edward FitzGelard yang menerjemahkan puisi-puisinya ke dalam bahasa Inggris, nama Omar Khayam kemudian dikenal luas sebagai penyair mendampingi kemasyhurannya sebagai ilmuwan. Terjemahan FitzGelard – yang sebenarnya merupakan saduran bebas – memang telah mempesona para pembaca Barat, bahkan berkat karyanya itu FitzGerald menjadi nama penting dalam sejarah kesusastraan Inggris.

Omar Khayam yang nama lengkapnya Ghiyasuddin Abulfath Omar bin Ibrahim Khayami lahir di Nisyafur, Persia, dari keluarga pembuat tenda. Hal ini terlihat dari nama belakangnya, Khayam, yang berarti tenda. Omar Khayam lahir pada tahun 1048 dan wafat tahun 1122. Secara pasti tahun kelahiran dan kematiannya baru terungkap belakangan, yakni pada tahun 1941 oleh seorang sarjana dari India, Swami Govinda Thirta. Khayam menghabiskan sebagian besar hidupnya di kota kelahirannya, dan pada usia tigapuluhan ia sudah dikenal sebagai ahli matematika dan astronomi.

Puisi-puisi Omar Khayam yang berbentuk rubaiyat (puisi empat baris) ditulis diam-diam dan tidak pernah dipublikasikan selama hidupnya. Alasan kenapa Omar Khayam tidak mempublikasikan puisi-puisinya bisa dipahami karena waktu itu sensor diberlakukan oleh kerajaan, di samping karena sikapnya juga yang suka menutup diri setelah menyaksikan merajalelanya kekacauan dan kemunafikan di negerinya. Ia sendiri bukan seorang yang suka mengejar nama atau kedudukan, maka segala kegundahan hatinya, renungan-renungan sufistiknya dan juga kritik-kritik sosialnya ia ekspresikan lewat puisi meskipun kemudian hanya disimpannya sendiri.

Puisi berbentuk rubaiyat ini banyak juga digunakan oleh para sufi Persia di samping bentuk ghazal atau mastnawi. Di tangan seorang astronom yang imajinasinya begitu liar dan segar, bentuk rubaiyat ini menjelma menjadi silogisme-silogisme puitis yang mempesona. Lewat lambang-lambang yang profan dan erotis seperti anggur, piala, rambut ikal, pipi tulip, wanita, dunia dan semacamnya, FitzGerald menggambarkan Omar Khayam sebagai tokoh kontroversial pada zamannya yang dengan terang-terangan menganjurkan filsafat hidup yang hedonis: mabuk dan bersenang-senang. Memang lambang-lambang yang bersifat duniawi ini banyak sekali ditemui dalam ungkapan-ungkapannya, seperti cuplikan dari terjemahan puisinya di bawah ini:

Sekarang inilah masa mudaku
Anggur kuteguk, hiburan satu-satunya
Jangan salahkan aku, walau pahit menyenangkan bagiku
Sebab anggur cerminan hidupku yang pahit juga

Pada bagian lain Omar Khayam bahkan menulis seperti ini:

Garis hidupku adalah minum dan bersuka ria
Bebas dari percaya dan ingkar adalah keyakinanku
Kutanya Mempelai Nasib siapa teman hidupnya
“Teman hidupku adalah hatimu yang senang,” ujarnya

Atau seperti ini:

Khayam, jika kau mabuk anggur, nikmati ini
Jika sedang bersama si pipi tulip, nikmati ia:
Dalam tiada ‘kan tamat segala ikhwal dunia
Bayangkan kau tiada, dan selagi ada, nikmati ini

Masih banyak ungkapan-ungkapan yang senada, bahkan hampir setiap rubaiyat yang ditulisnya merupakan pemujaan terhadap anggur dan kemabukkan, hingga banyak pengamat Barat yang kemudian menyebutnya sebagai penyair hedonis. Namun menurut Sayid Hussain Nasr, Omar Khayam justru seorang sufi. Lambang-lambang erotis dan skeptisnya hanyalah simbolisasi dari pandangan hidupnya, yang bukan hanya merekam pergolakan batinnya sendiri namun juga situasi masyarakatnya waktu itu. Lambang-lambang seperti ini memang khas dalam tradisi sufi, yang juga banyak ditemui dalam puisi-puisi karya Rumi, Attar, Hafiz, bahkan Iqbal yang juga pernah menulis dalam bentuk rubaiyat.

Timbulnya simbolisasi dalam tasawuf, khususnya sastra sufi, bisa dilacak pada sejarah awal pertumbuhan tasawuf yang banyak mendapat serangan gencar dari ulama-ulama ahli fikih yang ortodoks. Mereka menganggap kaum sufi sebagai golongan zindik. Maka para sufi banyak mengungkapkan pengalaman mistisnya secara simbolik sebagai reaksi terhadap kaum ulama. Misalnya lambang “anggur” atau “piala” kerap digunakan untuk menggambarkan pengalaman ekstase atau penyatuan diri secara mistis.

Jadi apa yang diungkapkan Omar Khayam dalam puisi-puisinya bukanlah merupakan penolakan terhadap kemungkinan untuk memperoleh kepastian hidup dalam agama, melainkan suatu koreksi dan kritik terhadap kemunafikan yang keliru menganggap bentuk-bentuk relatif sebagai kebenaran mutlak. Sebab di balik skeptismenya tersembunyi keyakinan akan pentingnya intuisi di samping intelektualitas sebagaimana jalan yang ditempuh para sufi dalam memperoleh kebenaran. Mengenai hal ini Omar Khayam menulis:

Dunia yang luas dan jauh telah kujelajahi
Semua cakrawala telah kukunjungi
Tak seorang kudengar muncul di jalan ini
Jalan yang ia lalui jalan tanpa kembali

Memang kita tak mudah memahami atau memaklumi Omar Khayam apabila hanya terpaku pada apa yang tersurat dalam puisi-puisinya. Ia menampakkan diri sebagai sosok yang paradoksal, yang selalu diliputi oleh kesangsian-kesangsian. Tapi harus dipahami bahwa di balik semua itu ia adalah seorang ahli matematika dan astronomi, seorang yang rasional dalam mencari pembuktian-pembuktian logis. Di tengah pertikaian dan perselisihan paham yang tak kunjung selesai dan bahkan semakin ruwet tanpa membuka perspektif baru, Omar Khayam kerap kali menjumpai bahwa paham-paham filsafat ternyata tak pernah memuaskannya, hingga kemudian ia menulis:

Mereka yang paham lingkaran ilmu dan istiadat
Adalah pelita bagi penuntut ilmu dan umat
Namun mereka sendiri tak bisa menghindar dari gelap
Mereka mendongeng, lalu tidur lelap

Omar Khayam menganggap bahwa pertikaian dan perselisihan paham hanyalah kesia-siaan belaka. Akal dan intuisi, ilmu-ilmu logika dan ilham-ilham makrifat, filsafat dan seni, semuanya diperlukan dalam kehidupan sesuai dengan fungsinya masing-masing. Dengan cara pandang demikian, Omar Khayam bisa menghadapi keadaan atau situasi yang kurang menyenangkan itu dengan lebih bijak. Skeptismenya ternyata menyimpan optimisme juga. Skeptismenya hanya bagian dari perjalanan panjang menuju kesejatian:

O, Hati, jangan sedihkan dunia yang renta
Kau yang tanpa tujuan, jangan bermanja dalam duka tanpa tujuan
Karena apa yang lenyap dan tak lenyap tidak nyata
Berbahagialah, jangan tersiksa oleh lenyap dan tak lenyap

Lewat ribuan puisinya yang berbentuk rubaiyat, yang semuanya ditulisnya dengan penuh intensitas meski tanpa pretensi “kepenyairan”, Omar Khayam seakan-akan hendak merangkum sekaligus dua sisi dunia yang berlawanan. Ia mengungkapkan sesuatu yang sakral dengan simbol-simbol profan, dia mencari kesejatian dan kebenaran lewat kesangsian demi kesangsian. Sikapnya yang eksentrik seperti ingin menunjukkan bahwa yang terjadi di muka bumi ini nisbi belaka. Ia pernah menolak tawaran seorang menteri untuk menduduki posisi penting di kerajaan, namun ia malah meminta uang subsidi yang jumlahnya sangat besar. Ketika sang menteri menanyakan untuk pekerjaan seperti apa jumlah uang sebanyak itu, jawabannya ada dalam salah satu puisi yang ditulisnya:

Limaratus tahun baru akan lahir orang sepertiku
Seperti dia setiap minggu ribuan dilahirkan

Rubaiyat Omar Khayam tampil mempesona ke hadapan kita lewat upaya Abdul Hadi W.M. yang telah menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia dengan indah. Dengan mengambil sumber utama dari The Rubaiyat of Omar Khayam suntingan Peter Every dan John Heath-Stubbs serta beberapa sumber lain seperti Edward FitzGerald, Ali Dashti dan A.J. Alberry sebagai perbandingan, kita bisa membaca sisi lain dari kejeniusan seorang ilmuwan muslim yang menurut Sayid Hussain Nasr, seluruh perspektif Islam seakan-akan bersatu dalam dirinya. Dan berkat kepenyairan sang penterjemah yang liris serta pemahamannya yang memadai mengenai tasawuf, buku mungil setebal 79 halaman ini bukan hanya enak dibaca, tapi juga mudah diselami kedalaman maknanya. []

(1990)
Prev Next Next