Artikel 24

MENGOLAH REALITAS



Acep Zamzam Noor


PEMILU 2009 merupakan perhelatan yang paling menghibur, paling tidak bagi saya pribadi. Kampanye sudah berlangsung jauh sebelum ada jadwal resmi dari KPU. Jalan-jalan dipenuhi baligo berbagai ukuran dengan sparasi warna alias full collors. Bukan hanya di jalan-jalan raya, jalan-jalan di kampung bahkan pematang sawah pun penuh dengan macam-macam baligo. Ketika saya tanya kenapa baligo dipasang padahal jadwal kampanye masih belum dimulai, tetangga saya yang menjadi caleg salah satu partai berkilah bahwa itu untuk sosiaslisasi. Semacam pemanasan pra kampanye, di mana para caleg memperkenalkan dirinya masing-masing kepada masyarakat. Yang punya kumis tebal akan memperkenalkan kumisnya, yang mempunyai senyum manis akan memperkenalkan senyumnya. Begitu juga yang mempunyai tahi lalat atau lesung pipit.


Ketika saya tanya berapa harga baligo per buahnya dan apakah ada pajak untuk pemasangannya di ruang-ruang publik, tetangga saya hanya tersenyum. Dia juga hanya tersenyum ketika saya tanyakan berapa jumlah baligo untuk sosialisasi dan berapa untuk kampanye resmi. Tentu saja saya tidak terus bertanya tentang berapa jumlah dana yang disiapkan dan berapa pasukan yang diturunkan sebagai tim sukses selama proses pencalegan berlangsung. Pemilu kali ini memang unik dan atmosfirnya berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya. Pertarungannya bukan lagi antar partai, namun antar caleg sekalipun berasal dari partai yang sama. Logo-logo partai hanya sekedar pelengkap, yang terpampang besar-besaran justru wajah para calegnya sendiri.


Dan yang membuat saya terhibur tak lain karena wajah para caleg yang terpampang semuanya menampakkan kegembiraan dan keceriaan. Mereka selalu berpose dengan menyunggingkan senyum. Ada yang senyumnya formal dan sedikit tertahan, ada juga yang senyumnya lepas dan bebas. Beberapa caleg muda bahkan bergaya layaknya peragawan dan peragawati terkenal. Ada yang sambil mengibaskan rambutnya seperti iklan Sunsilk, ada yang sambil memamerkan giginya seperti iklan Pepsodent, ada juga yang sambil memperlihatkan otot-otot tubuhnya seperti iklan Kuku Bima. Semuanya nampak penuh semangat, gembira dan ceria.


Setiap ke luar rumah saya selalu berdoa agar mereka yang wajahnya terpampang di jalan-jalan semuanya lolos menjadi wakil rakyat. Saya cukup terhibur dengan kegembiraan mereka, dengan keceriaan mereka, dengan senyum mereka, dengan kumis mereka, dengan model rambut atau jilbab mereka. Juga dengan optimisme mereka. Kalau semuanya lolos, berarti kehidupan di lingkungan mereka tidak akan terganggu. Kegembiraan dan keceriaan mereka akan tetap memancar seperti sedia kala. Saya tak berani membayangkan bahwa di antara mereka kelak akan ada yang stres atau depresi, akan ada yang lari keliling kota memakai celana dalam, akan ada yang orasi di tengah pasar sambil membakar bendera, akan ada yang dirawat di rumah sakit jiwa, akan ada yang gantung diri di pohon mangga.


Sebagai penyair yang jarang berurusan dengan angka, saya memang tidak tahu persis berapa jumlah partai yang ikut berkompetisi dalam pemilu kali ini dan berapa kursi yang tersedia buat para caleg yang konon mencapai ribuan jumlahnya. Bahkan saya tidak tahu apa saja syarat untuk bisa mendaptar sebagai caleg, yang jika terpilih akan mewakili rakyat duduk di parlemen. Apakah diperlukan bakat tertentu, penguasaan ilmu tertentu, tahapan akademik tertentu, latihan dan keterampilan tertentu, pengalaman dan kemampuan tertentu, laku spiritual tertentu, niat dan tujuan tertentu? Apakah diperlukan semacam rasa keterpanggilan yang heroik atau cukup sekedar keinginan saja?


Kadang saya berkhayal seandainya pemilu dilaksanakan setiap tahun atau kalau perlu tiga kali setahun, mungkin para pengusaha sablon dan kerudung akan tersenyum karena ada peluang meraup untung besar. Mungkin lapangan kerja akan bertambah lebar. Mungkin masyarakat yang kebelet menjadi caleg akan lebih tersalurkan hasratnya. Mungkin penonton seperti saya akan mendapat hiburan gratis terus-menerus. Kadang saya juga berkhayal seandainya pelaksanaan pemilu ditangani langsung oleh Depnaker, mungkin akan jauh lebih praktis dan hemat ketimbang diurus KPU yang boros dan kurang profesional. Bukankah mereka yang mendaptar menjadi caleg tak ada bedanya dengan para pelamar kerja?


***


Realitas di atas sengaja saya paparkan sebagai pengantar sebelum mengapresiasi puisi-puisi Masmuni Mahatma yang terhimpun dalam antologi Aku Butuh Darahmu ini. Meski tidak berhubungan secara langsung dengan caleg dan pemilu, saya menemukan adanya benang merah yang mengaitkan renungan-renungan penyair ini dengan realitas-realitas sosial.


Sudah cukup lama saya mengenal Masmuni Mahatma. Mula-mula saya mengenalnya sebagai seorang santri kelahiran Madura yang kemudian menjadi aktivis PMII yang cukup menonjol di Bandung. Seperti umumnya orang Madura, Masmuni adalah warga nahdliyin yang dibesarkan dalam kultur Nahdlatul Ulama (NU) yang kental. Masmuni pernah mondok cukup lama di Pondok Pesantren Annuqoyah, Guluk-guluk, Sumenep. Di pesantren tersebut ia bukan hanya belajar agama namun juga mendalami sastra. Mendalami sastra di pesantren adalah hal yang lumrah-lumrah saja. Hampir setiap pesantren di Madura mempunyai sanggar sastra dengan segala aktivitasnya. Tak heran jika banyak penyair atau sastrawan yang berlatar pesantren muncul dari pulau garam ini. Abdul Hadi WM, M. Fudoli Zaini, D. Zawawi Imron, Jamal D. Rahman, Moh. Hamzah Arsya, M. Faizi dan Mahwi Air Tawar untuk sekedar menyebut beberapa nama.


“Kalau ingin menjadi penyair yang baik jadilah warga NU,” begitulah saya biasa berkelakar, termasuk jika tampil di forum-forum diskusi. Kadang kelakar saya ditanggapi dengan tawa, tapi sering juga ditanggapi serius oleh sebagian pemirsa. Dengan kelakar tersebut sebenarnya saya ingin mengatakan bahwa berimajinasi sangat penting bagi seorang penyair, terutama dalam kaitannya dengan proses kreatif. Dan sejauh ini NU memberikan cukup keleluasaan bagi siapapun untuk berimajinasi, termasuk di dalamnya berziarah ke makam wali, bersemadi di dalam gua atau berkomunikasi dengan arwah. Ulama-ulama NU tidak pernah mempermasalahkan aktivitas tersebut sebagai bid’ah. Malah sebaliknya, yang belum pernah ziarah ke makam wali justru diragukan ke-NU-annya. “Ziarah ke makam wali itu bagus untuk melatih imajinasi dan kepekaan puitik,” kelakar saya selanjutnya.


Masmuni Mahatma rupanya salah seorang yang serius menanggapi kelakar saya. Meskipun aktivitasnya sebagai pengurus PMII sering menyerempet ke wilayah politik praktis, namun ia sangat rajin mengasah batinnya dengan berziarah ke makam wali, juga dengan serius menulis puisi. Meskipun begitu ia lebih suka menyimpan puisi-puisinya di dalam laci ketimbang mempublikasikannya di media cetak. Setiap kali bertemu ia lebih tertarik mendiskusikan kondisi NU ketimbang membicarakan proses kreatifnya sebagai penyair. Kondisi NU memang sangat memprihatinkan dan imbasnya terasa sampai ke pesantren-pesantren. Yang kami diskusikan bukanlah mencari jalan ke luar dari situasi sulit ini, namun sekedar ikut memikirkan bagaimana agar anak-anak muda NU, khususnya di Jawa Barat, tidak semuanya terjun menjadi broker politik seperti yang selama ini terjadi.


Seorang penyair bisa saja mempunyai aktivitas lain di luar dunia sastra. Seorang penyair bisa saja menjadi pegawai negeri, karyawan perusahaan swasta, guru madrasah, dosen universitas, membuka toko kelontong, menarik ojek atau bahkan menjadi wakil rakyat. Dan sebaliknya, seorang penyair bisa saja memilih menjadi penganggur atau freelance. Inti dari kepenyairan bukanlah pada embel-embel pekerjaan atau jabatan, melainkan sejauh mana kemampuannya dalam menulis puisi, sejauh mana kreativitas maupun intensitasnya dalam mengolah realitas menjadi karya yang bernilai. Meskipun seorang penyair mempunyai kebebasan berimajinasi, yang dihadapinya tetaplah sebuah realitas dan bukan angan-angan kosong. Dengan demikian seorang penyair akan selalu ditantang untuk bisa melahirkan realitas baru, atau paling tidak memberi makna baru pada realitas yang sudah ada. Puisi jenis apapun, termasuk puisi-puisi cinta dan sufistik, selalu lahir dari proses pergulatan seperti ini. Seorang penyair tidak pernah berangkat dari ruang kosong atau kekosongan semata.


Dalam menghadapi realitas, katakanlah perasaan kehilangan dalam konteks spiritual dan budaya misalnya, setiap penyair akan berusaha menciptakan ruang yang memungkinkannya melakukan pergulatan dengan intens. Pada titik ini yang harus dilakukan penyair bukan menyatakan realitas tersebut secara verbal melainkan menunjukkan atau mewujudkannya sebagai sesuatu yang kongkrit, sebagai sebuah penggambaran yang kasat mata. Dengan demikian semua pengalaman yang dialami sang penyair, baik rohani maupun jasmani, akan mampu dilukiskan secara visual lewat kata-kata. Sesuatu yang tadinya abstrak kemudian menjadi kongkrit dan teraba.


Saya merasakan puisi-puisi yang ditulis Masmuni Mahatma sedikit banyak mempunyai nilai kreativitas dan intensitas itu. Satu hal yang perlu dicatat, bahwa penyair ini telah berusaha sekuat tenaga mengolah realitas yang hadapinya. Dan usaha kerasnya tersebut berhasil melahirkan realitas baru, juga pemaknaan baru, yang kemudian memperkaya rancang bangun puisinya secara keseluruhan. Saya kutipkan bagian ke-7 dari puisi “Memburu Rindu” yang sekuelnya berjumlah delapan belas bagian:


Kelopak matamu tersangkut di pucuk gelombang

Kedipnya mulai letih. Seperti rekam isak tangis daun

tembakau yang gagal jadi puisi. Bentuknya lonjong

membuatku yakin dihimpit ombak di laut lepas


Apa yang terjadi kemarin sore dengan cerpenmu

Bahasanya terurai pucat. Frasenya pengap. Endapan

liriknya karatan. Padahal zikir kupaketkan seminggu lalu

adakah angin rantau salah menyapamu?


Ceritamu juga sejarahmu. Beranjaklah dari cerminmu

Ikuti peta tua dalam mimpimu. Dan tanpa guru, kau

pasti mengerti rindu


Kata-katamu adalah sajadah bagi anak-anakmu


“Memburu Rindu” merupakan sebuah upaya pencarian yang berkesinambungan. Idiom-idiom berbau garam dan tembakau Madura seakan berkelindan dengan aroma hijau daun-daun teh di perbukitan Pasundan, pantai Lombang dan Salopeng yang segar bercengkerama dengan udara kotor penuh debu kota besar, citraan-citraan pesantren yang mistik bersenyawa dengan gambaran kongkrit kecantikan seorang wanita. Bahasa yang digunakan penyair sejauh ini rasanya lancar-lancar saja, mengalir dan menampakkan kelincahan dan bahkan kegenitan di sana-sani, dengan lompatan imaji yang kadang tak terduga. Realitas-realitas sosial seperti modernisasi menyelinap di antara renungan-renungan sufistik tentang kefanaan dunia. Begitu juga nama-nama sakral seperti Muhammad, Musa, Maryam, Rumi, Hallaj, Bayazid, Al-Farisi, Iqbal, Gibran, Syari’ati bersanding dengan Zawawi Imron dan Doel Sumbang. Sebuah upaya yang tentu saja membutuhkan kerja keras, kesabaran dan ketelatenan dalam mendesain komposisi serta mempertimbangkan setiap diksi atau kata yang dipilihnya. Saya kutipkan lagi bagian ke-16 dari puisi panjang ini:


Di dada cerpenmu yang bidang, ingin kubangun dermaga

rindu. Paku-paku kupinjam dari Sang Nabi. Arsiteknya

Salman Al-Farisi. Biar biji cemara yang beranjak matang

segera berlabuh. Mencipta ribuan rakit kesadaran. Dan

barisan tukang becak dengan mudah menyeberangi

kelokan asri di ujung jalan. Kampung adalah Indonesia


Kampung adalah surga. Segala tradisi tak henti disepuh

di dalamnya. Anak-anak mungil tetap giat mengaji

Meminta lautnya sendiri


Jika kau tahu cantik bumi Pasundan, cerpenmu tak

gantung diri. Kebun teh berhias di mana-mana. Gadis-

gadisnya putih bersahaja. Meski Doel Sumbang terus

mendendang, Pasundan tetap dipandang. Dan Madura,

selalu terapung di mataku


Bandung melatihku berburu. Di Madura, kelak aku

berteduh


Sebagai sebuah karya kreatif, tentu saja puisi harus memiliki ciri-ciri yang mencerminkan kreativitas, yang mengisyaratkan upaya penyairnya dalam melakukan pergulatan kreatif. Dalam pengertian yang paling sederhana kreativitas bisa dimaknai sebagai hasil pertemuan, atau lebih tepatnya hasil pergulatan antara penyair dengan dunianya, dengan realitas yang dihadapinya. Dengan demikian puisi yang baik, yang merupakan hasil kreativitas, akan memberikan gambaran bagaimana pikiran dan perasaan seorang penyair bergerak dan bersentuhan dengan realitas tersebut. Dalam konteks ini saya jadi teringat pada Saini K.M. yang pernah menyatakan bahwa menulis puisi merupakan bagian dari kegiatan semadi. Dalam laku semadi atau tafakur, seorang penyair akan berusaha menangkap realitas yang dihadapi dengan sejernih-jernihnya, sedalam-dalamnya dan sekaya-kayanya. Lalu pada saat yang bersamaan pula ia akan mencatat dengan secermat-cermatnya setiap gerak kesadaran maupun bawah sadar dalam pergulatannya dengan realitas.


Antologi Aku Butuh Darahmu karya Masmuni Mahatma ini memuat sejumlah puisi yang ditulis dalam kurun waktu 1999-2008. Selain puisi panjang yang telah saya singgung di atas, terdapat juga sejumlah puisi berukuran sedang dan umumnya berbentuk lirik yang tertib. Pada puisi-puisi tersebut penyair banyak mengangkat alam dan lingkungan Madura dengan segala fenomenanya yng khas dan unik. Tentang pantai dan lautnya, tentang para nelayannya, tentang para petaninya, tentang buruh tembakaunya, tentang pesantrennya yang sederhana, tentang kiai dan santrinya yang bersahaja, juga tentang sikap kritis terhadap budaya dan tradisinya. Fenomena-fenomena tersebut kemudian ditariknya ke dalam laku semadi, ke dalam sikap tafakur.


Dengan tema-tema yang dipilihnya, lebih-lebih dengan sudut pandangnya sebagai anak Madura yang berusaha membaca tanah kelahiran dari sebuah jarak, puisi-puisi yang ditulis Masmuni cukup menarik untuk diapresiasi. Masmuni dengan sangat intens melakukan semadi, sebuah laku spiritual dalam memahami dan memaknai kehidupan. Pada sebagian puisinya saya menemukan kejenihan, kedalaman dan kekayaan ungkapan. Namun pada sebagian lain saya juga masih merasakan adanya ungkapan yang belum utuh dan tuntas, yang nampaknya masih perlu diolah lebih jernih, lebih dalam dan lebih kaya lagi. Mungkin hanya persoalan waktu, persoalan proses yang rentangnya belum terlalu panjang. Bukankah kepenyairan merupakan proses yang terus-menerus seiring dengan perkembangan kedewasaan serta kematangan pribadi penyairnya?


Sebelum mengakhiri catatan singkat ini saya ingin kutipkan dulu “Aku Tak Butuh Angin Lagi”, sebuah puisi yang dengan intens menggambarkan kondisi Madura sebagai wilayah sosial dan budaya yang khas dan unik:


Aku tak butuh angin lagi

Tatapmu cukup untukku berbenah. Luka-luka akan kubalut

dengan fatwa kiai. Ruas jalan bagi pengembara tinggal

sepetak. Tak etis diurai dalam sajak


Aku tak butuh angin lagi

Secangkir nanah kuhirup sejak bayi

Jika kau sudi, masaklah daun tembakau di atas zikirmu

sebelum berangkat haji. Agar anak-anak rajin mengaji

dan orang tua tak lagi pandai mencaci

Aku tak butuh angin lagi

Lirih suaramu di awal senja, rindu yang aku cari


Aku tak butuh angin lagi

Tak adil bagiku kau hanya berkirim surat

Anak-anakmu di perantauan butuh celurit

Dan aku, ingin melihatmu ceria

Meski satu jam di tiang bendera


***


Realitas yang saya paparkan pada bagian paling awal tulisan ini, selain sebagai pengantar bisa juga dipahami sebagai sebuah tawaran untuk penyair yang juga aktivis ini. Tawaran agar ia terus intens mengolah realitas-realitas kehidupan, termasuk di dalamnya realitas yang aktual dan kontekstual. Tema-tema seperti atmosfir pemilu yang unik, perilaku caleg yang aneh dan lucu serta dampak sosialnya yang menurut saya sangat spektakuler, tentu saja tidak akan jatuh sebagai slogan atau pamplet yang dangkal jika penyairnya tetap mempunyai sikap semadi dalam menghadapi dan menjalani kehidupan. Jika penyairnya tetap mempunyai kejernihan, kedalaman dan kekayaan dalam memandang setiap realitas yang tersaji di hadapan. Selamat berkarya.


(2009)

Prev Next Next