Artikel 13

PUISI


Acep Zamzam Noor


MEMAHAMI puisi dan memahami prosa ada bedanya. Ini disebabkan karena bahasa yang digunakan dalam puisi berbeda dengan yang dipakai prosa. Memahami puisi mungkin sedikit lebih rumit dibanding memahami prosa. Kerumitan ini terjadi karena cara melukiskan pengalaman dalam puisi biasanya berlapis-lapis, tidak langsung atau runtut seperti halnya dalam kebanyakan prosa. Penyair tidak sekedar memberikan keterangan dan penjelasan kepada pembacanya tentang apa yang ingin disampaikan, tapi juga memperhitungkan keindahan bunyi, keharmonisan irama, kekayaan imaji, ketepatan simbol, rancang bangun kata-kata dan lain sebagainya.


Bahasa dalam puisi bukan hanya sekedar alat untuk menyampaikan keterangan, tapi bahasa yang harus mempunyai kekuatan puitik. Puisi adalah jenis karya sastra yang menggunakan bahasa yang khas, bukan bahasa umum atau biasa. Puisi biasanya menggunakan bahasa yang efektif, dengan kata-kata yang hemat namun mempunyai makna dan efek yang banyak. Puisi juga kadang menggunakan bahasa yang sugestif. Kalau pun menggunakan bahasa umum dan biasa, tentu dengan pengungkapan yang tidak umum dan biasa. Dengan kata lain puisi adalah seni merangkai kata-kata, seni menciptakan keajaiban dalam berbahasa.


Karena bahasanya yang khas, puisi kadang agak sulit untuk dipahami. Puisi tak bisa dibaca sambil lalu seperti halnya membaca prosa atau berita. Membaca puisi perlu keseriusan, kekhusyukan dan pengorbanan, dengan proses berlatih yang terus-menerus. Puisi akan terasa gelap jika kita belum bisa mengakrabinya. Puisi akan menjadi terang kalau kita bisa menguak misterinya. Memang tidak semua puisi sulit dipahami. Ada banyak jenis puisi, dan masing-masing harus didekati dengan cara yang berbeda-beda. Ada puisi yang berisi cerita tentang sesuatu, ada puisi yang hanya berisi luapan perasaan, ada puisi yang melukiskan suasana, ada puisi yang berisi gagasan atau ajaran, ada puisi yang sarat ide-ide abstrak, ada puisi yang penuh dengan permaianan irama seperti halnya mantra dan lain-lain. Dan masing-masing jenis itu harus dibaca atau dipahami dengan pendekatan yang berlaianan pula.


Nilai puisi tidak semata-mata terletak pada apa yang diungkapkan, tapi lebih pada bagaimana cara mengungkapkan. Dengan demikian, dalam puisi biasanya bentuk lebih menonjol ketimbang isi, atau paling tidak ada keseimbangan di antara keduanya. Sebab melalui bentuk itulah pembaca akan menemukan sesuatu yang khas, yang merupakan kreativitas dari seorang penyair. Di sinilah masalah sudut pandang, kejelian, kepekaan serta reaksi pada tema atau gagasan tertentu (entah tema besar maupun sepele) menjadi sangat menentukan. Tak heran jika banyak puisi yang temanya sangat biasa atau sederhana namun mempunyai kekuatan puitik yang luar biasa. Kenapa? Karena penyair berhasil memberikan bentuk yang tepat, indah, dan segar bagi tema sederhana itu, sehingga memberikan kesan yang mendalam bagi siapa saja yang membacanya.


***


Puisi lirik adalah jenis yang paling banyak ditulis para penyair Indonesia. Dalam puisi lirik seluruh isi puisi adalah ungkapan pikiran dan perasaan penyairnya. Jadi puisi lirik cenderung subyektif. Perasaan dan pikiran dalam puisi lirik adalah pikiran dan perasaan pribadi penyairnya. Kalau dalam puisi naratif, penyair bersikap obyektif dengan materi ceritanya maka dalam puisi lirik justru sebaliknya. Membaca puisi-puisi jenis ini, kita akan dapat merasakan suasana batin dan perubahan-perubahan yang bersifat kejiwaan. Bahkan ada yang mengatakan, bahwa puisi lirik adalah gambaran yang gamblang dari dunia dalam atau kepribadian seorang penyair.


Dalam puisi lirik masalah gaya (atau bentuk) yang khas menjadi sangat penting. Kekuatan seorang penyair sangat ditentukan oleh kemampuan dia menemukan gaya yang khas, yang merupakan cerminan dari kepribadiannya. Dari kekhasan atau juga keotentikan, kita bisa menemukan pilihan kata-kata, susunan irama, komposisi dan bahkan suasana hati, sikap dan pandangan hidup, juga pikiran dan gagasan penyairnya. Dengan demikian kehidupan seorang penyair lirik pun bisa dibaca atau dilacak lewat puisi-puisinya.


Pada umumnya puisi lirik mempergunakan segala unsur yang ada dalam puisi, terutama penggunaan imaji, simbol, metafor dan gaya pengungkapan yang khas. Di sinilah letak kesulitannya dalam memahami puisi-puisi lirik. Banyak imaji-imaji, simbol-simbol atau metafor-metafor subyektif yang sulit dipahami para pembaca awam. Kadang imaji-imaji yang dibangun penyair berlapis-lapis hingga dibutuhkan kecerdikan dan kepekaan dari pembaca untuk menghubungkan imaji-imaji tersebut hingga bisa mendekati apa yang dimaksud oleh puisi itu. Namun tidak semua puisi lirik berkesan “berat”, banyak juga yang pengungkapannya lebih sederhana, dengan menggunakan imaji-imaji yang lebih umum dan penggambaran yang terang.


Seperti juga sebuah bangunan, puisi mempunyai rancang bangun atau strukturnya sendiri. Struktur itu terdiri dari unsur-unsur yang menopang berdirinya bangunan tersebut. Seperti yang telah disinggung di atas, bahwa puisi merupakan ungkapan perasaan atau pikiran dalam suatu bentuk yang utuh dan menyatu. Dan bentuk yang utuh dan menyatu itu adalah gabungan unsur-unsur yang satu dengan lainnya tidak bisa dipisahkan karena saling berkaitan. Secara umum unsur-unsur yang penting dalam sebuah bangunan puisi adalah tema, suasana, imaji, simbol, metafor, irama dan gaya bahasa. Kita bisa mengenali unsur-unsur ini lebih mendalam dengan cara memilah-milahnya satu persatu.


Dengan menelusuri secara mendalam masing-masing unsur tadi kita akan menemukan kekuatan dan kelemahan sebuah puisi. Atau dengan memahami unsur-unsur tadi kita juga akan mengetahui apakah sebuah puisi sangat dominan unsur simbolisnya, kemerduan iramanya, kecanggihan gaya bahasanya atau kekhusyukan suasananya. Dengan demikian sebuah puisi dapat diketahui kekayaan maknanya dengan mengupas unsur-unsur tersebut.


Sebuah puisi pasti memiliki inti persoalan, meskipun puisi itu berbicara tentang banyak hal misalnya. Semua hal yang disinggung dalam sebuah puisi harus menuju pada inti persoalan, memperkuat inti persoalan. Jika sebuah puisi bicara langsung pada inti persoalan, tanpa proses, tanpa tahapan-tahapan, tanpa gambaran-gambaran pendukung, maka hasilnya mungkin akan terasa kering, kurang greget dan tidak menunjukan kekayaan makna. Jika sebuah puisi telah menemukan tema atau inti persoalan maka semua gambaran pendukung yang disajikan penyair akan makin jelas fungsinya dalam keseluruhan bangunan puisi.


Salah satu unsur paling menarik dan menentukan sejauh mana pencapaian puitik sebuah karya adalah suasana. Sebuah puisi yang baik mampu membawa pembacanya ke dalam suasana tertentu, dan suasana itulah yang akan mempengaruhi pembacanya. Perasaan akan tersentuh, hati tergetar dan bulu kuduk berdiri jika seorang penyair berhasil menciptakan suasana tertentu dalam puisinya. Semua itu muncul tidak hanya disebabkan karena puisi-puisi yang bersuasana sedih atau murung, tapi juga karena puisi-puisi yang penuh gelora semangat. Begitu juga puisi-puisi yang bersuasana khusyuk, syahdu dan khidmat akan menimbulkan keharuan bagi yang membacanya. Suasana dibangun dari gambaran-gambaran yang disajikan penyair sebagai unsur pendukung tema. Pembaca diajak melihat, membayangkan, mendengar, mencium, merasakan dan berpikir tentang sesuatu sehingga dibawa pada keadaan dan kondisi perasaan tertentu. Suasana sangat membantu dalam memberikan penekanan pada tema yang hendak dikemukakan.


Sebuah gambaran yang menyentuh indera penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan dan sebagainya dinamakan imaji. Tujuan dari penggambaran yang demikian adalah agar pembaca benar-benar dapat dibawa memasuki pengalaman yang diungkapkan penyair. Pembaca diajak ikut merasai dan mengalami apa yang digambarkan penyair dalam puisinya. Pembaca disentuh inderanya, dirangsang perasaannya dan digoda pikirannya hingga terlibat lebih jauh lagi ke dalam puisi. “Bulan pecah berantakan” adalah contoh keliaran imaji dari seorang penyair Indonesia mutakhir yang bernama Kriapur.


Pemakaian simbol atau lambang adalah upaya menyatakan sesuatu di luar arti kata yang sebenarnya. Misalnya gambaran tentang sebuah peristiwa di mana suatu benda, kejadian atau keadaan tertentu dilukiskan dengan maksud yang lain dari peristiwa yang sebenarnya. Misalnya, jika dalam sebuah puisi kita menemukan kalimat “jerit hewan yang terluka”, belum tentu gambaran tentang hewan tersebut dimaksudkan penyair sebagai keadaan yang sebenarnya. Tapi bisa jadi gambaran tersebut dimaksudkan untuk melukiskan peristiwa atau keadaan tertentu yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan hewan.


Proses simbolisasi dalam penulisan puisi banyak caranya. Kadang simbol digunakan hanya pada kata-kata tertentu, tapi kadang juga pada keseluruhan puisi. Kadang digunakan secara analogis, dengan cara membandingkan keadaan atau peristiwa tertentu dengan keadaan dan peristiwa yang lain. Tapi bisa juga dengan menggunakan asosiasi, dengan cara memainkan kesan tentang benda, peristiwa atau keadaan. Jelasnya, jika sebuah puisi mempunyai arti di luar apa yang diungkapkannya, maka puisi tersebut bisa disebut puisi simbolis. Kenapa? Karena puisi tersebut berusaha menyembunyikan maksud yang sebenarnya di balik simbol-simbol. Sebuah puisi terkenal dari Sapardi Djoko Damono mungkin bisa memberi gambaran:


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:

Dengan kata yang tak sempat diucapkan

Kayu kepada api yang menjadikannya abu


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:

Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada


Sebuah puisi menjadi menarik bukan hanya karena isinya yang baik dan berguna, tapi juga karena mempunyai irama yang indah. Irama yang indah itu terjadi karena rangkaian kata-kata yang dipilih, disusun, diulang-ulang sedemikian rupa sehingga menimbulkan lagu pada keseluruhan puisi. Lagu dalam puisi bisa muncul karena penyair memainkan kata-katanya dengan cara mengalun, mendayu, naik turun seperti gelombang suara. Setiap kata mempunyai bunyi atau suara tersendiri, bunyi inilah yang bisa dimainkan secara fungsional dalam puisi. Bisa dimainkan secara berulang-ulang dengan mengejar persamaan bunyi. Bisa juga dengan mengkombinasikannya. Tidak selalu harus berakhir dengan vokal tapi juga bisa berakhir dengan konsonan. Goenawan Mohamad sangat piawai dalam hal ini:


Trinh, kulihat bintang lari, bercerai

Menyeberangi kontinen malam


Tapi angin selesai, laut lerai

Dan kau katakan, “Ada burung hitam di buritan”


Trinh, kuingat pohon-pohon kota Saigon

Dan nyanyian di ranting-rantingnya


Kusebut namamu, terkubur di tiap sekon

Laut lama akan tak mengingatnya


Bahan baku utama penyair dalam menciptakan puisi adalah bahasa. Dengan bahan baku inilah para penyair mengungkapkan perasaan, pikiran, hasrat, kegembiraan, kesedihan, harapan, kekecewaan dan lain-lain ke dalam puisi. Untuk dapat memikat pembacanya setiap penyair harus mempunyai kemampuan dalam mengolah bahasa hingga bisa menemukan gayanya sendiri. Dengan demikian setiap penyair yang baik mempunyai bahasa yang khas. Gaya bahasa Amir Hamzah misalnya, berbeda dengan Chairil Anwar, Rendra apalagi Sutardji Calzoum Bachri. Begitu juga Taufiq Ismail tak sama dengan Sapardi Djoko Damono atau Hamid Jabbar meskipun mereka hidup pada zaman yang sama. D. Zawawi Imron lain dengan Ahmad Faisal Imron meskipun sama-sama dari pesantren dan nama belakangnya sama-sama Imron.


Perbedaan gaya bahasa para penyair bisa disebabkan karena mereka hidup di zaman yang berbeda, tapi bisa juga karena ide atau gagasan serta pengalaman hidup mereka yang tidak sama. Perbedaan bahasa antara Amir Hamzah dengan Hamid Jabbar jelas karena zamannya berlainan sekalipun mereka sama-sama kelahiran Sumatera. Sedang kekhasan bahasa yang dicapai Sutardji Calzoum Bachri lahir karena gagasannya yang ingin mengembalikan kata kepada bunyi seperti dalam mantera. Begitu juga Darmanto Yatman yang puisinya menjadi “aneh” karena ia menggabungkan macam-macam bahasa dalam puisi.


***


Perbedaan gaya bahasa dari zaman ke zaman bisa juga menandakan sebuah perkembangan dalam dunia kepenyairan di Indonesia. Angkatan Pujangga Baru mewariskan tradisi lirik dalam penulisan puisi. Tradisi ini mempunyai pengaruh yang sangat kuat pada penyair-penyair selanjutnya. Dengan aroma bahasa Melayu yang kental puisi-puisi Indonesia saat itu ditulis dengan sangat tertib, teratur dan santun. Kata-kata dipilih dengan cermat, hemat dan efisien. Bentuk puisi menjadi nyaris seragam, dengan pembagian bait yang baku. Begitu pun soal tema, kalau tak bicara tentang cinta dengan menggunakan lambang-lambang alam dan waktu, maka tema ketuhanan atau penghormatan pada tanah air menjadi pilihan utama. Amir Hamzah adalah penyair paling berpengaruh pada era ini.


Munculnya Chairil Anwar membawa gelombang pasang pada perpuisian Indonesia. Ia menghantam tradisi santun dari penyair-penyair sebelumnya. Berbeda dengan puisi-puisi sebelumnya yang cenderung membosankan, puisi-puisi Chairil terasa bergelora, penuh semangat dengan ungkapan-ungkapannya yang segar, baru dan berani. Dari segi bentuk sebenarnya puisi Chairil Anwar tidak terlalu jauh meninggalkan tradisi sebelumnya, masih memakai bentuk lirik dan kebanyakan dengan pembagian bait yang tertib. Hanya isi dan gaya bahasanya yang lain. Isinya cenderung memberontak dengan kesadaran yang tinggi terhadap eksistensi manusia. Bahasanya ekspresif, penuh luapan emosi. Kata-kata yang dipakainya lugas, kuat, menyengat namun tetap indah ketika berbicara tentang cinta. Chairil berusaha menggali kekuatan kata-kata sampai ke akar-akarnya.


Di belakang Chairil Anwar ada sejumlah penyair yang kuat dan sangat berpengaruh. Sitor Situmorang, Rendra, Subagio Sastrowardoyo, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, Taufiq Ismail, Saini K.M. dan Sutardji Calzoum Bachri. Dimulai dengan puisi-puisi lirik tentang cinta yang sangat indah, Rendra kemudian menemukan bahasanya dalam bentuk balada. Bentuk terakhir ini nampaknya sangat cocok dengan kesukaannya bermain drama. Puisi-puisi Rendra yang naratif menjadi tontonan yang menarik ketika dibawakan penyairnya di panggung. Apalagi puisi-puisi mutakhirnya yang banyak mengungkapkan ketimpangan sosial negeri ini banyak mendapat perhatian berbagai kalangan. Tak heran jika Rendra kemudian menjadi penyair paling populer di negeri ini, meskipun penyair-penyair muda tak banyak yang mengikuti gayanya.


Goenawan Mohamad merupakan penyair yang mengaku menulis dalam tradisi Chairil Anwar. Dalam usia yang sangat muda ia menulis puisi-puisi lirik yang segar dan menggoda. Segar, karena ia tak sekedar mengikuti Chairil begitu saja. Ia menempatkan idolanya hanya sebagai titik tolak, sebab yang kemudian ia lakukan adalah merintis tradisi baru bagi penulisan puisi lirik. Puisi-puisinya sangat merdu, ia mempunyai kesadaran yang tinggi terhadap irama. Yang menarik, irama dalam puisi-puisinya bukan lahir dari ketertiban menyusun kata, juga bukan dari persamaan akhiran, tapi dari kesesuaian bunyi. Puisi-puisi Goenawan juga sangat intelektual dan referensial. Ia menggali kisah-kisah dari kitab suci, sejarah, mitos, wayang serta legenda yang kemudian diramu dengan perasaan dan pikirannya yang subyektif. Ada keseimbangan antara kepekaan seorang penyair dan kecerdasaan seorang intelektual.


Berbeda dengan Rendra, Goenawan mempunyai pengikut yang banyak meskipun pada perkembangannya mereka menemukan jalan sendiri-sendiri. Abdul Hadi W.M., Leon Agusta, Linus Suryadi A.G., Korie Layun Rampan, Emha Ainun Nadjib pada periode awalnya adalah nama-nama yang berada di belakang penyair yang juga wartawan ini. Gaya yang diwariskannya memang belum final hingga nampaknya masih terbuka kemungkinan untuk dikembangkan penyair-penyair lain. Ini berbeda dengan puisi mantera yang ditawarkan Soetardji, yang nampak sudah selesai di tangannya. Beberapa penyair yang mencoba mengikuti gaya dia hampir semuanya gagal.


Taufiq Ismail merupakan sosok lain dalam perpuisian Indonesia. Ia terkenal dengan puisi-puisi demonstrasinya. Ia banyak menulis dengan tema sosial dan politik, di samping renungan-renungan keagamaan. Ia mengolah banyak sekali bentuk, mulai dari puisi epik dan naratif, puisi lirik, puisi dramatik sampai puisi eksperimental. Ia juga menulis puisi-puisi humor yang cerdas, juga lirik-lirik lagu yang puitis. Dalam peta kepenyairan Indonesia, tak banyak penyair yang produktif dan terampil seperti Taufiq Ismail. Semua hal, baik hal penting maupun sepele bisa ditulisnya menjadi puisi yang baik. Para nabi, para pejuang, para aktivis serta tokoh-tokoh nyata maupun rekaan muncul dalam puisi-puisinya. Ia bercerita tentang presiden, menteri, wakil rakyat, anggota Dharma Wanita sampai hutang negara.


Pada dua dekade terakhir muncul nama-nama seperti D. Zawawi Imron, Kriapur, Afrizal Malna, Beni Setia, Nirwan Dewanto, Dorothea Rosa Herliany, Soni Farid Maulana, Ahmad Syubanuddin Alwy, Joko Pinurbo, Sitok Srengenge, Oka Rusmini, Warih Wisatsana, Tan Lioe Ie, Agus R. Sarjono, Jamal D. Rahman dan lain-lain. Mereka kebanyakan menulis dalam tradisi lirik warisan Chairil Anwar dan Goenawan Mohamad meski dengan pengembangan, penyederhanaan, pengingkaran, pencanggihan atau pembelokan yang dilakukan masing-masing. Afrizal Malna melakukan eksperimentasi dalam bentuk dan isi. Puisi-puisi mutakhirnya cenderung naratif dengan penggambaran yang bertumpuk pada alam benda. Joko Pinurbo menulis puisi-puisi lucu dengan mengambil simbol tubuh manusia. Dorothea Rosa Herliany meneriakan kegelisahan dunia perempuan. Di belakang mereka masih ada Beni R. Budiman dan Cecep Syamsul Hari yang romantis, disusul Nenden Lilis Aisyah, Abidah El-Khaliqie, Mathori A. Elwa, Raudal Tanjung Banua, Wan Anwar, Toto St. Radik, Aslan Abidin dan lain-lain.


Perkembangan kepenyairan bukanlah perkembangan yang linier, tapi perkembangan yang sulit ditebak. Banyaknya orang menulis puisi, ramainya penerbitan buku puisi belum tentu menandakan suatu perkembangan yang baik. Seorang pembaharu tidak akan muncul setiap saat, karena penyair tidak bisa diciptakan setiap saat. Seorang penyair hanya bisa lahir dari rahim zamannya. Perlu diingat, seorang penyair yang baik tidak selalu seorang pembaharu. Chairil Anwar dan Sutardji Calzoum Bachri mungkin pembaharu, meskipun yang mereka lakukan adalah memberikan penafsiran dan makna baru pada tradisi yang sudah ada sebelumnya. Tapi Sitor Situmorang, Rendra, Subagio Sastrowardojo, Goenawan Mohamad, Taufiq Ismail, Sapardi Djoko Damono, Saini K.M. adalah penyair-penyair yang baik, yang telah memberikan warna dan juga gairah pada dunia perpuisian Indonesia. Pembaharu atau bukan, setiap penyair yang baik pasti memberikan sesuatu, mewariskan sesuatu.


(2001)

Prev Next Next