Artikel 7

KOMUNITAS SASTRA


Acep Zamzam Noor



AKHIR dekade 1980-an banyak muncul komunitas-komunitas sastra di daerah. Gejala ini menandai bahwa kegiatan sastra tidak lagi terpusat di kota besar seperti Jakarta, Bandung atau Yogyakarta. Munculnya komunitas-komunitas sastra di daerah ini selain ditandai dengan aktivitas menulis, membaca puisi dan diskusi dari para pendukungnya, juga diikuti dengan penerbitan (buletin maupun kumpulan puisi) yang diusahakan sendiri. Buletin-buletin sastra, baik yang berupa fotokopi maupun cetakan, terbit di Lampung, Jambi, Palembang, Padang, Pekanbaru, Denpasar, Makassar, Banjarmasin di samping kota-kota kecil di Pulau Jawa. Majalah Sastra “Horison” yang sampai dekade 1980-an masih merupakan barometer perkembangan kesusastraan Indonesia, menjadi hanya salah satu (bukan satu-satunya) media sastra yang menjadi orientasi para penulis muda. Jurnal Citra Yogya dari Yogyakarta, Cak dari Denpasar, Kolong Budaya dari Magelang, Menyimak dari Riau, Lingkar dari Serang atau Puitika dari Tasikmalaya misalnya, meski bentuknya sangat sederhana namun cukup “berwibawa” hingga banyak penyair dari daerah lain yang merasa bangga jika puisinya dimuat di sana.


Bukan hanya buletin atau jurnal, kumpulan puisi pun banyak diterbitkan oleh komunitas-komunitas sastra di daerah. Dari Lampung muncul sejumlah kumpulan puisi, begitu juga dari Palembang, Padang, Malang dan Denpasar. Peta kepenyairan nasional pun tak hanya diisi oleh nama-nama dari Jakarta, Bandung dan Yogyakarta, namun juga dari Ngawi, Malang, Gresik, Cirebon, Tasikmalaya, Magelang, Sumenep, Makassar maupun Denpasar. Perkembangan seperti ini jelas menggembirakan karena wilayah kesusastraan yang selama ini hanya berada di kota-kota besar yang ada fakultas sastranya, menjadi melebar ke daerah-daerah yang sebelumnya tak terbayangkan. Fakultas sastra pun ternyata bukanlah ukuran marak tidaknya kesusastraan di suatu daerah.


Tidak seperti teater yang sifatnya komunal, aktivitas kesusastraan sebenarnya lebih individual. Seorang penyair atau cerpenis dalam berkaryanya tidak tergantung pada kelompok atau komunitas. Seorang penyair bisa saja menulis puisi sendirian di kamar lalu dikirimkan ke koran atau majalah. Namun kepenyairan tidaklah sesederhana itu, kepenyairan bukan sekedar menuliskan pikiran dan perasaan saja. Bukan sekedar “curhat” saja. Kepenyairan juga harus bersentuhan dengan lingkungan kehidupan yang lebih luas. Banyak sekali penyair-penyair berbakat dari berbagai daerah yang tenggelam begitu saja karena tanpa dukungan infrastruktur di sekelilingnya. Infrastruktur di sini bukan dalam pengertian sarana, fasilitas atau bantuan pemerintah, namun sebuah lingkungan pergaulan yang menopang kreativitas. Juga persaingan antar penyair yang sehat. Atmosfir semacam ini hanya akan mungkin muncul dalam sebuah komunitas yang juga sehat.


Bergugurannya penyair-penyair muda berbakat tak sedikit yang disebabkan oleh tidak adanya komunikasi antar sesama penyair, atau tidak adanya komunitas yang menjadi kanal bagi kreativitas mereka. Tak jarang seorang penyair muda terpikat pada bidang lain dan melupakan kesusastraan hanya karena tak ada teman yang mau membaca karya-karyanya, hanya karena tak ada teman untuk berdiskusi, hanya karena tak ada orang yang memperhatikan kreativitasnya atau yang mendorong semangatnya untuk terus berkarya. Tak jarang juga seorang penyair berhenti berkarya karena alasan ekonomi, memilih jadi sopir angkot atau jadi mubalig misalnya.


Di sinilah pentingnya sebuah komunitas bagi para penyair. Pentingnya sebuah iklim yang memungkinkan terjadinya pergesekan kreativitas. Menjadi guru, penyiar radio, sales, wartawan, pedagang kakilima, ibu rumah tangga atau istri kesekian bupati sebenarnya tak menghalangi kerja kepenyairan. Bahkan puisi masih mungkin ditulis dengan intensitas tinggi sambil kita menjalani profesi sebagai dukun, lurah, ulama, penyanyi dangdut, ajudan gubernur atau pelacur sekalipun.


Pengertian komunitas agak berbeda dengan kelompok, sanggar atau grup yang hanya terdiri dari para anggota. Komunitas lebih luas dari sekedar kelompok, sanggar atau grup, di mana di dalamnya bukan hanya para anggota namun juga publik, simfatisan atau yang merasa berkepentingan dengan kesusastraan seperti mahasiswa, guru atau dosen. Karya-karya yang dihasilkan para penyair pun ada peminatnya, ada penikmatnya, juga ada publik yang memperhatikannya. Seorang penyair yang mulai melemah semangatnya atau goyah “iman” kepenyairannya bisa bangkit lagi karena dorongan teman-teman, simfatisan atau publik. Atau karena tersulut oleh persaingan yang sehat di dalam komunitas tersebut.


***


Jawa Barat mempunyai posisi yang unik dalam peta kepenyairan nasional. Mungkin karena dekat dengan pusat (Jakarta dan Bandung), komunitas-komunitas sastra di wilayah ini agak terlambat munculnya dibanding Sumatera atau Bali. Penyair-penyair dari Depok, Bekasi, Bogor atau Tangerang nampaknya sangat berorientasi ke Jakarta hingga mempunyai imej sebagai penyair ibukota. Begitu juga daerah-daerah di sekitar Bandung, hampir semuanya berkiblat ke Bandung. Baru pada dekade 1990-an muncul komunitas-komunitas sastra yang menunjukkan aktivitasnya di Tasikmalaya, Cirebon, Majalengka, Kuningan, Ciamis, Sukabumi dan Cianjur. Meski begitu, komunitas-komunitas teater sebenarnya sudah lebih dulu hadir. Dari komunitas-komunitas teater inilah muncul peminat-peminat baca puisi atau deklamator. Tahun 1980-an kebetulan saya banyak diminta menjadi juri lomba baca puisi di Bandung, saat itu banyak sekali para peserta dari Garut, Ciamis dan Kuningan yang umumnya bagus-bagus teknik baca puisinya. Mereka bukan berasal dari komuinitas sastra, melainkan dari komunitas teater.


Awal 1990-an, ketika Godi Suwarna pindah ke Ciamis para peminat sastra di Tatar Galuh itu mulai terbentuk, terutama peminat baca puisi. Sebelumnya para peminat sastra banyak tergabung dengan kelompok-kelompok teater seperti Teater A-I-U, Teater Awal, Teater Korsi, Teater Jagat dan beberapa lagi yang sudah hadir sejak 1980-an. Para peminat sastra ini, baik dalam menulis maupun membaca, akhirnya melebur dalam komunitas KGB (Keluarga Galuh Budaya) yang mempunyai minat lebih luas pada kebudayaan, termasuk di dalamnya kesenian tradisi.


Di Tasikmalaya juga sama, komunitas teater muncul lebih dulu (akhir 1970-an) lewat Teater Epos dan Sanggar Prasasti, kemudian disusul Teater Ambang Wuruk dan Teater Dongkrak pada awal 1990-an. Dari komunitas teater ini banyak muncul peminat sastra, hingga salah satu agenda kegiatan mereka adalah mengadakan lomba baca puisi setiap tahunnya. Komunitas sastra muncul ditandai dengan berdirinya SST (Sanggar Sastra Tasik) pada tahun 1996, meski prosesnya sudah mulai sejak dua tahun sebelumnya. Antara teater dan sastra hubungannya memang erat, hampir setiap aktor teater sekaligus juga deklamator. Tak heran jika kehidupan kesusastraan di daerah pada awalnya banyak digerakkan oleh aktivis teater.


Di Garut komunitas teater sudah cukup lama eksis. Para sutradara, aktor, pembaca puisi handal pun banyak bermunculan dari daerah ini. Kelompok-kelompok teater di Garut ini kebanyakan terkait dengan sekolah atau kampus hingga kelompok-kelompok ini bisa berumur panjang dan mempunyai pendukung yang jelas. Kita mengenal Teater Limanov, Teater Lentera, Teater Awal dan beberapa lagi. Hal ini diperkokoh lagi dengan munculnya Hisdraga (Himpunan Seni Drama Garut) yang memayungi kelompok-kelompok teater tersebut. Dadeng Supraji dan Saeful Anwar adalah dua penggerak teater dari Garut yang cukup militan.


Agak berbeda dengan Tasikmalaya yang banyak melahirkan penyair, Garut lebih dicatat karena para aktor dan deklamatornya yang selalu merajai berbagai lomba baca puisi di berbagai daerah, termasuk Bandung dan Jakarta. Hal ini bisa terjadi karena minat baca puisi (khususnya untuk lomba) sangat tinggi, selain secara berkesinambungan ada pembinaan yang serius dari para guru kesenian maupun aktivis teater. Lomba baca puisi baik tingkat sekolah, kecamatan maupun kabupaten pun dilakukan secara berkala di kota dodol ini.


Setiap SST mengadakan lomba baca puisi, peserta-peserta dari Garut selalu menempati rangking terbanyak. Baik untuk tingkat SLTP, SMA, mahasiswa maupun umum. Dan mereka selalu mendominasi babak final dan bahkan menjadi juara. Para peserta yang tak masuk final selalu menjadi “bobotoh” bagi teman-temannya, hingga suasana lomba menjadi hangat dan semarak. Para pembaca puisi handal dari Garut seperti tak habis-habisnya, setelah generasi yang berjaya di akhir 1990-an menghilang, kini muncul lagi deklamator-deklamator muda yang berbakat. Uniknya, dukungan untuk mereka bukan hanya datang dari pelatih teater, guru kesenian atau pihak sekolah, namun juga dari orangtua mereka yang pada masa mudanya meminati seni baca puisi. Para orangtua ini senang jika anaknya menjadi juara.


Meski Garut lebih menonjol dengan para aktor dan deklamatornya, bukan berarti di kota dodol ini tak ada penyair. Beberapa nama muncul secara sporadis dan menunjukkan keseriusan, meski akhirnya meninggalkan Garut. Beberapa tahun belakang ini kebetulan saya banyak mengamati kemunculan para penyair muda di Jawa Barat, dan beberapa nama yang menonjol muncul dari Garut. Ada Darda Surya Pertama dan S. Dimarulloh, keduanya dari Sadang, Wanaraja, merupakan penyair santri yang berbakat. Ada juga Ratna Ayu Budhiarti dari Cibatu, penyair berkulit mulus ini tinggal dan kuliah di Tasikmalaya serta menulis dalam atmosfir SST. Begitu juga Dimar dan Darda, mereka menulis dan bergesekan dengan komunitas sastra di daerah lain, seperti dengan Komunitas Malaikat dan SST. Dalam perhelatan Muktamar Penyair Jawa Barat 2003, Dimar, Darda dan Ayu diundang mewakili Garut. Ada juga Darpan Ariawinangun, sastrawan Sunda yang menikahi gadis Tarogong.


Tentu saja para penyair Garut mutakhir tidak berhenti hanya pada nama-nama itu, masih ada nama lain yang diam-diam menulis puisi. Belakangan saya dihubungi beberapa teman penyair yang mau membentuk komunitas sastra di Garut. Bagi mereka, hadirnya komunitas sastra menjadi sangat penting untuk melengkapi maraknya kegiatan teater dan lomba baca puisi. Dengan komunitas ini mereka ingin menjalin komunikasi antar penyair khususnya dan seniman lain pada umumnya, hingga memungkinkan terjadinya pergesekan kreativitas. Mereka menamakan diri sebagai Komunitas Kalam, yang dideklarasikan pada 6 September 2003 ini.


Dindin S. Yogapranata, Apip Kurniadin, Nanang Acil, Johan Bunyamin, Deddi Fachrudien, Ruswendo Awal, Indra Kosasih, Cecep Nurbani dan Sonny M.S. adalah nama-nama yang mendukung komunitas tersebut. Pada karya-karya mereka yang sempat saya baca sekilas, kegelisahan kreatif atau pergulatan mencari identitas sepertinya belum begitu kentara. Yang menonjol dari komunitas baru ini adalah semangat kebersamaan di antara mereka. Sebagai langkah awal, hal semacam ini merupakan modal yang sangat berharga untuk memulai sebuah gerakan sastra, khususnya penulisan puisi.


Jika para penyair di suatu daerah membentuk sebuah komunitas, menurut saya haruslah dengan niat untuk meningkatkan kreativitas dan bukan sekedar mengejar proyek atau demi yang lain-lain. Kegelisahan, intensitas, persaingan yang sehat, berusaha menjadi beda namun tetap saling mengingatkan atau menyemangati antar teman adalah semangat sebuah komunitas. Hal lain adalah upaya menjalin komunikasi dengan lingkungan sekitar dan bagaimana menarik publik (yang merasa punya kepentingan atau keterkaitan dengan sastra) menjadi bagian dari komunitas.


Saya percaya teman-teman dari Garut ini mempunyai semangat yang tulus dan gagah seperti ini. Tidak hanya akan berhenti pada deklarasi, penerbitan antologi puisi, peluncuran dan lain-lain. Namun akan terus berjuang agar wilayah apresiasi terhadap kesusastraan menjadi lebih luas lagi, lebih lebar lagi, dan lebih besar lagi. Saya percaya bahwa pekerjaan semacam ini juga merupakan bagian dari upaya kita menyelamatkan bangsa dari keterpurukan.

(2003)

Prev Next Next